Perempuan selama tahun 2023 semakin berdaya seiring meningkatnya indeks pembangunan gender. Dilansir dari antarnews (6/01/2022), Deputi Bidang Kesejahteraan Gender Kemen PPPA Lenny N Rosalin memberikan keterangan bahwa perempuan semakin berdaya, mampu memberikan sumbangan pendapatan signifikan bagi keluarga, menduduki posisi strategis di tempat kerja dan terlibat dalam politik pembangunan dengan meningkatnya keterwakilannya perempuan di lembaga legislatif. Hal ini ditunjukan dengan meningkatnya indeks pemberdayaan gender. Keterwakilan perempuan dalam lini-lini penting dan sektoral ikut mendorong kesejahteraan gender di Indonesia semakin merata.
Saat ini arus kesetaraan gender dengan berbagai kebijakannya, dipandang menjadi solusi atas permasalahan perempuan. Benarkah, meningkatnya indeks pembangunan gender, perempuan akan sejahtera?
Jika melihat data dan fakta yang ada, meningkatnya indeks pembangunan gender tidak memberikan dampak signifikan terhadap masalah dan penderitaan yang dialami perempuan dalam hidupnya. Terbukti dengan meningkatnya angka perceraian , KDRT, kekerasan seksual dan maraknya bunuh diri. Ditambah lagi dengan persoalan generasi amoral,liberal dan keji.
Berdasarkan laporan statistik Indonesia terdapat 516.344 perceraian terjadi pada tahun 2022. Adapun total jumlah kekerasan di Indonesia tahun 2023 dikutip dari Kemen PPPA mencapai 18.466 kasus dengan angka terbanyak adalah perempuan sebanyak 16.351 orang.
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh perempuan sejatinya menunjukan bukti kegagalan asuhan sistem sekuler kapitalisme. Pemberdayaan perempuan yang terus dinarasikan, realitanya tidak mampu memberikan kesejahteraan dan menyelamatkan perempuan dari diskriminasi dan penindasan.
Pasalnya dalam sistem kapitalisme dengan prinsip materi yang hanya mempertimbangkan untung rugi dan abai dampak yang ditimbulkan. Pemberdayaan perempuan dalam sistem kapitalisme hanya dipandang sebagai perempuan yang bekerja, mandiri, memiliki karier dalam banyak bidang dan memberi sumbangsih bagi pembangunan dengan menjadi pelaku ekonomi.
Karena itu, untuk mencapai semua itu perempuan rela bekerja meninggalkan rumah dan tanggung jawab utamanya sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Tidak sedikit menyebabkan perempuan merasa mandiri, keluarga dan rumah tangga hancur karena beban yang dipikul bahkan merasa tak perlu lagi peran laki-laki.
Tak hanya itu, pembangunan gender yang semakin tren dimana perempuan bisa mencari nafkah , peran kepala keluarga semakin dikerdilkan. Seiring dengan lapangan pekerjaan yang semakin menyempit.
Sejatinya pemberdayaan perempuan serta narasi kesejahteraan gender yang terus disosialisasikan ditunjukan semata-mata hanya untuk mendukung kepentingam barat. Hal ini berdasarkan pernyataan Dr. Arum Harjanti, Pengamat Masalah perempuan, keluarga dan generasi bahwa kaum muslim perlu waspada. Karena rencana itu justru memperberat tugas kaum perempuan bukan mensejahterakan (Musliamhnews, 5/8/2022).
Berbeda halnya dalam paradigma Islam. Dalam Islam perempuan sosok yang yang dimuliakan dan dihormati. Allah memuliakan perempuan dengan memberi amanah sebagai ibu, pengatur rumah tangga serta pendidik pertama bagi anak-anaknya. Peran tersebut adalah peran strategis yang akan menjadi pondasi peradaban. Agar bisa menjalankan amanahnya dengan optimal dengan Allah, maka ditetapkan sejumlah syariat yang berlaku untuk perempuan.
Salah satunya terkait dengan nafkah. Perempuan tidak wajib mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan individunya maupun keluarganya. Menjadi tanggung jawab walinya seperti ayah, suami, saudara laki-laki,kakek, paman dan sebagainya untuk nafkah seorang perempuan untuk memenuhi kebutuhannya.
Selain itu, perempuan juga dilarang untuk terlibat dalam kepemimpinan yang bertugas mengambil kebijakan seperti menjadi Khalifah. Perempuan hanya boleh bekerja dengan syarat pekerjaan tersebut tidak menghinakan fitrahnya sebagai perempuan, mengeksploitasi kecantikannya ,menghalangi melakukan kewajibannya.
Oleh karena itu, kemuliaan perempuan dalam Islam tidak terwujudkan dengan kesetaraan gender, tetapi kemuliaan itu terwujud dengan Islam yang dilihat dalam keberhasilannya menjalankan peran pengatur rumah tangga pendidik bagi anak-anaknya. Selain itu keberhasilan juga dapat dilihat dengan keberhasilan menjalankan peran publik yakni melakukan amar ma'ruf nahi mungkar.
Wallahu A'lam Bisawwab ....
