Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Guru Ngaji Masuk Sekolah, Akankah Memberikan Perubahan Pada Generasi?

Sunday, January 14, 2024 | January 14, 2024 WIB Last Updated 2024-01-14T04:25:20Z


Oleh: Siti Aminah, S. Pd 
(Pegiat Literasi Lainea)


Dunia pendidikan saat ini jauh dari kata berhasil mengubah generasi bangsa. Bagaimana tidak, di berbagai media berseliweran degradasi moral dan sangat jauh dari nilai-nilai agama. Itu terbukti banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan, tawuran pelajar, kekerasan seksual, dan kejadian lainnya yang belum terselesaikan sampai detik ini. Maka sudah saatnya merubah dan mengembalikan stigma masyarakat bahwa pendidikan adalah sebagai ladang untuk membentuk karakter anak bangsa ke arah yang lebih baik.


Dengan demikian, untuk mengembalikan stigma baik terhadap pendidikan tidak lain harus ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Dan sebenarnya upaya itu juga sudah banyak dilakukan, namun lagi-lagi tidak memberikan dampak positif terhadap kemajuan sistem pendidikan hari ini. 


Akhirnya ada yang berkesimpulan bahwa upaya itu harus ditanamkan nilai-nilai agama. Sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Muna Barat. Dilansir oleh Kendaripos, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna Barat (Mubar) terus berupaya mendorong peningkatan nilai-nilai keagamaan di sekolah. Hal itu diwujudkan melalui program guru ngaji masuk sekolah yang digagas Penjabat (Pj) Bupati Mubar, Bahri. Tujuanya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan fasih menbaca Quran.  “Dalam konteks tujuan pembangunan yang ada dalam Rencana Pembanguna Daerah (RPD) yaitu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). 


Salah satu sasaran strategisnya adalah meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Sehingga kongkrit kita wujudkan dalam program guru ngaji masuk sekolah. Pemberian insetif guru ngaji dilakukan berdasarkan Peraturan Bupati (Perbub) nomor 41 tentang pemberian insentif guru ngaji. Dimana dalam pelaksanaanya Pemkab Mubar memberikan insentif guru ngaji hitungan enam bulan. Yaitu terhitung dari Juli - Desember 2023. Sehingga total keseluruhan, masing-masing guru ngaji akan mendapatkan insentif Rp 1.800.000.  Mantan Kepala Dinas Sosial Mubar itu menambahkan, dalam kegiatan pemberian insetif guru ngaji itu Pemkab Mubar juga sekaligus memberikan insentif guru non PNS. Dasar hukumnya juga diatur dalam Perbub nomor 38 tentang pemberian insetif guru non PNS. “Untuk guru non PNS yang diberi insentif sebanyak 282 orang untuk hitungan tujuh bulan mulai dari Juni - Desember 2023. Dengan besaran Rp 300.000 perbulan,” pungkasnya (27/12/2023).


Hal ini dilakukan tentunya relevan dengan kondisi generasi yang jauh dari nilai-nilai agama. Sehingga harapan dari pemerintah atau tujuan menggagas program guru ngaji masuk sekolah tidak lain untuk mewujudkan generasi muda yang tidak hanya fokus pada prestasi semata namun harus beriringan antara prestasi dan akhlak. 


Jika dilihat secara kasat mata program ini sangat baik untuk generasi muda. Sayangnya program ini hanya berskala kabupaten bukan negara yang menjalankan. Di sisi lain, meskipun program ini telah digagas dengan skala negara, tetapi jika sistem yang digunakan masih kapitalisme sekuler maka capaiannya tidak maksimal. Sebagaimana program-program pemerintah lainnya yang hanya bersifat tambal sulam, bukan mengatasi masalah dari sumbernya.


Karena kerusakan moral generasi hari ini sudah sistemik, bukan hanya masalah individunya yang harus diperbaiki. Jika mau memperbaiki individu cara yang digagas ini sudah benar. Tapi sayangnya itu bukanlah solusi yang tepat. Lihat saja ada anak yang pernah viral melakukan perundungan kepada temannya padahal notabenenya dia pintar membaca Al-Quran. 


Kesimpulannya, sistem sangat penting dalam kehidupan untuk mengatur pandangan hidup manusia. Jika sistemnya baik, otomatis manusianya akan baik pula. Sebaliknya jika sistemnya buruk otomatis manusianya akan buruk pula. Maka walaupun istilahnya ustadz dan ustadzah masuk dan mengajar di sekolah untuk merubah pendidikan tentu tidak akan mampu mengubahnya selagi sistemnya buruk atau rusak.


Jadi, akar persoalan dari generasi muda dan sistem pendidikan hari ini adalah penerapan sistem yang rusak yaitu sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini meniadakan campuran tangan agama untuk mengurusi urusan manusia. Mengambil aturan agama hanya dari sisi spiritual belaka seperti solat, membaca Al Quran, dan lainnya. Selain itu aturan yang dipakai adalah aturan manusia.


Berbanding terbalik dengan sistem pemerintahan Islam, yang mana masyarakat hidup berdasarkan syariat sehingga telah terbentuk ketaatan individu atau nilai-nilai agama telah tertanam sejak manusia hidup di dunia ini. Karena agama merupakan standar kehidupan masyarakat bukan dipisahkan dari kehidupan seperti sistem saat ini. 


Dengan begitu tidak perlu berbagai kebijakan untuk meningkatkan ketakwaan dan ketaatan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu membentuk generasi muda dan pendidikan yang mumpuni mencetak generasi yang unggul. Sebagaimana ketika sistem Islam diterapkan selama kurang lebih 14 abad lamanya. Tentu sudah familiar ditelinga kita bagaimana generasi-generasi muda yang unggul di masa itu, misalnya Muhamad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel.


Olehnya itu, hanya dengan sistem Islam generasi muda akan terbentuk karakter yang baik dan unggul serta bisa menjadi pemimpin peradaban. Wallahu a'lam bishawab.

×
Berita Terbaru Update