Gegap gepita perayaan tahun baru masehi ternyata masih membius umat muslim di dunia. Eksistensi perayaannya pun semakin meriah setelah pandemi usai hingga masyarakat dapat berkumpul dan berkerumum di tempat publik. Tak terkecuali di negeri mayoritas muslim ini, Indonesia. Suasana perayaan tahun baru mampu membuat masyarakat merelakan sejumlah uang dikeluarkan dalam satu malam. Bahkan di beberapa daerah para pemuda pemudinya menjadikan momen ini sebagai malam pesta seks. Na’udzubillahi min dzalik.
Di tengah gemerlapnya perayaan tahun baru, umat muslim dibuat lupa akan kondisi saudara muslimnya yang lain sedang berduka. Sebut saja kondisi di Gaza, Palestina masih bergulir angka korban tewas yang terus bertambah karena ulah kebiadaban Israel. Ribuan saudara muslim kita yang tewas terlupakan dengan pioritas perayaan tahun baru. Usaha pemboikotan produk Israel sebagai bentuk solidaritas pun mulai longgar. Hingar bingar tahun baru masih membudaya hingga kita lupa kewajiban berukhuwah sesama umat muslim.
Saudara muslim Rohingya yang meminta suaka ke Indonesia tak banyak mendapat simpati dari negeri umat muslim terbesar ini. Suara muslim Indonesia bahkan terpecah menanggapi permintaan bantuan muslim Rohingya. Terakhir kali justru para mahasiswa meminta pengusiran pengungsi Rohingya yang membuat pengungsi yang didominasi wanita dan anak-anak pun ketakutan oleh saudara muslim mereka sendiri. Astaghfirullah. Beginilah wajah ukhuwah umat muslim hari ini.
Umat Islam berkewajiban menjaga ukhuwah Islamiyah. Bahkan Rasulullah menggambarkan sebagai satu tubuh. “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Muslim)
Maka jelas dari sabda Nabi tersebut betapa pentingnya masalah ukhuwah bagi umat muslim. Sebagai muslim kita diminta peka dan empati terhadap kondisi saudara kita. Di tengah saudara muslim kita tersakiti, pantaskah kita berpesta dan bersenang-senang merayakan pergantian tahun baru masehi yang merupakan kebiasaan umat lain?
Sungguh miris kondisi ukhuwah muslim hari ini. Akibat sekat-sekat nasionalisme, membuat umat muslim lupa bahwa ikatan tertinggi yang wajib kita jaga adalah ukhuwah Islamiyah. Umat muslim terpedaya dengan narasi nasionalisme yang membuat kita berpecah dalam kepentingan bangsanya masing-masing, sibuk pada urusan dalam negeri saja. Kondisi ini menjadikan fenomena Palestina juga kerap kali menjadi kabar sekilas yang menjadi tren singkat yang akhirnya pudar dengan kabar yang lain. Bahkan kondisi Rohingya yang harusnya memilukan hati membuat kita tega mengusir mereka karena pioritas kepentingan dalam negeri.
Sungguh sabda Nabi tersebut bukan hanya sekedar kata pengingat saja, tapi harusnya membuat kita mampu merubah kondisi ukhuwah ini. Namun sayangnya, ukhuwah Islam kerap kali tergores karena sekat nasionalisme. Nampaknya bukan hanya perayaan tahun baru yang melenakan kaum muslim, tetapi bahwa ukhuwah Islamiyah tidak dapat terwujud karena umat dalam kondisi terpecah oleh garis imajiner nasion state. Untuk itu umat muslim perlu belajar lagi bagaimana Rasulullah SAW membentuk dan menjaga ukhuwah Islam.
Bahwa Islam yang diterapkan Rasul secara kaffahlah yang mampu menghapus sekat kesukuan, kedaerahan dan kebangsaan menjadi ikatan tunggal, yaitu ukhuwah Islam. Islam tidak hanya diterapkan di ranah individu dalam ibadah kepada Allah saja, melain Islam yang Rasul ajarkan juga mencakup bidang sosial, pendidikan, politik, ekonomi bahkan seluruh bidang kehidupan tanpa terkecuali. Dengan adanya penerapan Islam secara kaffah pula maka masalah umat yang tertindas juga akan selesai. Bukan hanya penindasan kepada umat muslim tetapi juga penjagaan nyawa seluruh umat manusia tanpa haq akan terwujud. Itulah yang pernah terjadi ketika peradaban Islam selama kurang lebih 13 abad lamanya tegak. Keadilan Allah yang ditegakkan karena syari’at Islam secara sempurna mampu meyebarkan kerahmatan bagi seluruh alam.
Wallahu a’lam bishshawab.
