Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indonesia: Endgame!

Monday, August 02, 2021 | August 02, 2021 WIB Last Updated 2021-08-02T02:18:08Z

Oleh: May Sinta

Mahasiswi Universitas Indonesia

 

Masalah negeri +62 ini seolah datang tiada henti. Sebut saja kasus korupsi, kekerasan seksual dan masalah lain yang datang dari berbagai sektor kehidupan. Saat ini Indonesia sedang menghadapi masalah yang besar yaitu pandemi Covid-19. Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, rentetan masalah lain ikut bermunculan akibat kelalaian pemerintah dalam melakukan penanganan.

Dimulai dari kasus korupsi di Indonesia, seperti yang dilansir kompas.com, menurut ICW (Indonesian Corruption Watch) sepanjang 2020 terjadi 1.218 perkara korupsi yang disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. Belum lagi bantuan dana sosial (bansos) yang seharusnya diberikan untuk rakyat juga tetap dikorupsi.

Permasalahan lain seperti kekerasan seksual juga tiada habisnya.  Kasus kekerasan seksual yang banyak terjadi di tataran dunia akademisi juga menjadi sorotan. Seharusnya masyarakat mendapatkan jaminan keamanan di kehidupan publik termasuk salah satunya di kampus. Mungkin banyak dari teman-teman mahasiswa pernah melihat thread di media sosial Twitter yang men-spill para pelaku kekerasan seksual, anak UI pun tak luput dari thread semacam itu. Idealnya, sebagai mahasiswa terdidik dan bermoral tentu tidak mungkin melakukan kekerasan atau pelecehan seksual. Apa yang salah sebenarnya?  

Selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia, beragam masalah juga datang dari berbagai sektor. Misalnya sektor ekonomi dengan permasalahan impor dan ekspor yang tak kunjung selesai baik sebelum dan selama pandemi. Belum lagi masalah lain dari sektor ekonomi muncul yaitu ketika adanya pembatasan aktivitas masyarakat yang dinilai sangat memengaruhi aktivitas bisnis. Aktivitas bisnis yang melemah menyebabkan pendapatan negara mulai menurun diikuti dengan penurunan pertumbuhan ekonomi.

Dalam sektor ketenagakerjaan kita juga dapat melihat fakta bahwa selama pandemi banyak perusahaan yang harus mem-PHK karyawannya sehingga tingkat pengangguran semakin banyak bahkan harus gulung tikar. Beberapa perusahaan yang memiliki nama besar seperti Gojek, Traveloka dan juga maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia dan Lion Air juga turut mem-PHK karyawannya (Liputan6.com, 19 Juli 2020).

Masalah dalam sektor pendidikan juga tak kalah banyak. Setiap pergantian kepala negara, masalah pendidikan seolah tidak pernah tuntas. Mulai dari pendistribusian dana pendidikan yang kurang dan tidak merata, minimnya bahan belajar mengajar, rendahnya kualitas tenaga pengajar dan lain-lain. Dalam dunia perguruan tinggi misalnya, banyak mahasiswa mengeluh untuk diringankan UKT selama pandemi. Banyak orang tua mahasiswa yang berkurang pendapatannya menyebabkan kesulitan untuk membayar UKT.

Sebenarnya sebelum dan selama pandemi pemerintah sudah banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dinilai dapat membantu menyelesaikan berbagai macam masalah dan meringankan beban rakyat. Tapi fakta mengatakan sebaliknya. Kebijakan yang dibuat pemerintah bukan menyelesaikan, malah menambah masalah bahkan membuat rakyat menderita atau semakin tercekik. Misal saja Undang-Undang Cipta Kerja atau UU Ciptaker yang beberapa pasalnya dinilai sangat merugikan pekerja atau buruh Indonesia dan malah lebih menguntungkan pengusaha. Terdapat pula peraturan yang menimbulkan kerusakan terhadap kelestarian lingkungan hidup serta berpotensi membuka ruang untuk liberalisasi pendidikan.

Beberapa fakta di atas hanya sebagian contoh yang dapat membuktikan bahwa pemerintah dianggap tidak mampu untuk menghadapi berbagai masalah yang terjadi di Indonesia. Banyak rakyat yang berpendapat pemerintah juga abai dengan tugasnya yang seharusnya mengatur segala kebutuhan rakyat, mengayomi dan memberikan kesejahteraan kepada rakyat tetapi nyatanya malah mengancam dan memberikan beban yang sangat berat pada rakyat.

Bukti yang dapat dirasakan di antaranya tingkat kemiskinan semakin tinggi, ekonomi tidak stabil, lapangan pekerjaan semakin minim hingga pendidikan yang mahal. Ditambah lagi kebijakan kampus merdeka yang semakin mengarahkan mahasiswa menjadi tenaga terampil bagi kepentingan korporasi.

Perlu diketahui sebenarnya ada satu hal yang menjadi dasar dari semua permasalahan yang terjadi yaitu terletak pada sistem. Jika melihat pada pemikiran dan tata cara Indonesia dalam menjalankan pemerintahannya maka dapat dikatakan Indonesia ini menganut sistem kapitalis-liberal.

Di sistem ini semua aturan yang dibuat yaitu berdasarkan paham sekularisme yaitu pemisahan aturan agama dalam kehidupan sehingga aturan yang dibuat bukan berasal dari aturan agama yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, Maha Benar dan Maha Pencipta melainkan dibuat dari manusia yang jelas-jelas memiliki sifat keangkuhan, keserakahan dan tidak adil dalam dirinya. Paham sekularisme memandang bahwa segala peraturan harus dipisahkan dari aturan agama karena dianggap tidak relevan bagi manusia sehingga manusia memandang mereka berhak mengatur dirinya sendiri.

Padahal manusia sendiri tidak dapat mengukur apakah peraturan yang dibuat adil dan dapat memberi kebaikan bagi orang lain karena sejatinya hanya Allah SWT yang Maha Adil juga sumber dari segala kebaikan. Maka jelas permasalahan tersebut tidak pernah berakhir dan malah terus bertambah sebab sistem yang diterapkan itu sendiri pun sudah salah.

Kesalahan sistem kapitalis-demokrasi juga dapat kita lihat dari bagaimana rezim atau pemerintah sekarang ini berhasil mewujudkan kepemerintahan yang anti kritik. Contoh yang baru ini yaitu pada kasus viral dari BEM UI yang mengkritik pemerintah di media sosial (The King of Lip Service).  Padahal katanya kebebasan berpendapat diberi ruang dalam sistem demokrasi ini tetapi ternyata hanya bualan para penguasa.  Faktanya presiden meminta masyarakat untuk lebih aktif dalam memberikan kritik dan saran kepada pemerintah guna meningkatkan upaya perbaikan. Namun, sayang suara mereka seolah hanya mimpi.

Bagaimana tidak, ketika ada oknum yang ingin mengkritik saja langsung disodorkan dengan UU ITE yang alih-alih akan semakin dipersulit dengan adanya ancaman-ancaman dari pejabat pemerintah. Maka sistem kapitalis-demokrasi juga sebenarnya gagal untuk membawa kesejahteraan rakyat.

Melihat masalah yang terjadi kian marak, satu hal yang sangat dibutuhkan yaitu melakukan perubahan. Setidaknya ada dua pilar yang menjadi penyebab segala permasalahan dan penyebab keruntuhan suatu negri yaitu pemimpin yang tidak amanah dan tata aturan yang tidak memenuhi kaidah kebaikan dan keadilan. Jika ingin melakukan perubahan maka kedua pilar ini juga harus mengacu pada sesuatu yang baik dan berasal dari zat yang Maha Baik.

Perubahan hanya dapat dicapai dengan memahami 3 level kesadaran yaitu kesadaran problematik bahwa ada persoalan di negeri ini, kesadaran yang lebih tinggi yaitu kesadaran konseptual atau kesadaran teoritis yang di dalamnya ada kesadaran politis dan kesadaran dengan level tinggi yaitu kesadaran ideologis yaitu dengan menginginkan sebuah tatanan tertentu.

Menyambung sebelumnya tentang kesadaran. Bagi mahasiswa yang terpenting tidak hanya mempunyai kesadaran problematik dan politis yang melihat permasalahan hanya berdasarkan sektoral atau hanya pada satu bidang. Permasalahan tidak hanya dilihat berdasarkan sektoral karena penyelesaiannya bersifat substantial tetap. Oleh karena itu kita harus memiliki kesadaran ideologis yang melihat masalah dari berbagai sektoral karena penyelesaiannya bersifat menyeluruh. Kesadaran ideologis bahwa negeri ini harus merdeka atas berkat rahmat Allah harus diatur dengan sesuatu yang baik bersumber dari Allah yaitu dengan cara mengubah sistem buatan manusia dengan sistem Islam.

Perubahan terhadap sistem sangatlah urgent. Tidak hanya perubahan yang bersifat sektoral yaitu hanya memperbaiki sebagian sektor atau bidang tetapi perubahan yang bersifat total dan menyeluruh. Satu solusi yang terbaik yaitu dengan mengganti sistem kapitalis-liberal yang sudah terbukti membawa banyak kesengsaraan kepada sistem yang berasal dari Allah SWT yaitu sistem Islam. Sistem Islam terbukti membawa kesejahteraan pada setiap manusia bahkan makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan karena semua sumber kebaikan hanya pada Allah SWT. Terbukti dengan sistem Islam Rasulullah dapat mendirikan sebuah peradaban yang mengalahkan peradaban lain bahkan dapat bertahan sangat lama yaitu di bawah naungan khilafah Islam.

Dengan diterapkannya sistem Islam dalam kehidupan secara kaffah serta didirikannya daulah Islam niscaya rahmat Allah akan turun dan InsyaAllah segala permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan secara total berdasarkan apa yang Zat yang Maha Pencipta dan Maha Adil, Allah SWT telah turunkan yaitu Al-Quran dan hadits.

Nah bagaimana caranya untuk mewujudkan perubahan dan memberikan kesadaran pada orang lain. Dalam Al-Quran Allah berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung" (QS ali Imran: 104).

Maka jelaslah dalam mengupayakan perubahan tentu harus ada hal yang mutlak serta tidak boleh berhenti sepanjang jalan yaitu dengan amar makruf nahi mungkar. Hal itu dilakukan dengan dua cara yaitu memahami keadaan sekarang adalah keadaan yang tidak diharapkan dan keadaan ideal yang mampu ke arah Islam dan terakhir harus secara politik atau ri’ayah su’unil ummah. Inti dari ketiga hal tersebut adalah berdakwah yang merupakan kunci perubahan.

Selama ini kita menganggap tugas dakwah ini hanya dilakukan oleh ustadz dan alim ulama saja. Tetapi sebenarnya tugas mengemban dakwah ini harus dilakukan oleh seluruh umat manusia terutama kita sebagai mahasiswa atau generasi muda. Dakwah yang dimaksudkan yang sudah disebutkan sebelumnya yaitu dakwah amar makruf nahi munkar. Dengan berdakwah, kita berusaha membawa perubahan yang hakiki menuju kepada kehidupan hakiki yaitu kehidupan Islam dan tentu dengan metode dakwah yang dilakukan Rasulullah.

Dalam berdakwah kita juga harus memastikan diri memiliki pemahaman yang benar terhadap suatu kehidupan yaitu dengan pemahaman Islam karena hanya Islamlah yang mampu memperbaiki dunia ini dan kebangkitan manusia akan tercapai. Berdakwah juga menuntut kita untuk istiqamah menghela segala perubahan yaitu di mana standing position kita. Maksudnya posisi Islam itu seperti roda, kadang di atas kadang pula di bawah maka kita selalu mengikuti Islam dalam posisi apapun atau selalu berpegang teguh dengan ajaran Islam. Al-Quran sebagai sumber dari ajaran Islam dan penguasa kini adalah suatu hal yang terpisah. Bahkan Rasulullah pernah memperingatkan kita sebelumnya.

Hal yang harus kita lakukan di tengah banyaknya kemungkaran saat ini adalah tetap berpegang teguh di jalan Allah dan dengan Al-Quran karena perubahan akan memperoleh energi sebab kita tidak pernah menerima dan tidak pernah rida dengan kemungkaran. Baik dari pemimpin yang tidak amanah maupun sistem yang tidak bertumpu kepada Al-Haq yaitu Al-Quran.

Dalam berdakwah tentu saja harus mempunyai ilmu maka kita harus menuntut ilmu itu terlebih dahulu. Banyak mahasiswa yang belum sadar sebenarnya menuntut ilmu adalah wajib, yang tentu saja ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu agama. Rasulullah sendiri mengatakan dalam haditsnya,”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR Ibnu Majah).

Maka sebagai mahasiswa wajib belajar mengkaji Islam, mengikuti pembinaan yang serius dan tentunya juga bergabung dalam kelompok atau jemaah dakwah. Dengan berjemaah dapat saling mengingatkan dan saling menguatkan. Ada suatu semboyan yang harus diingat yaitu bersama kita bisa, sendiri kita merana.[]


×
Berita Terbaru Update