Akhir-akhir ini, Tanah Air bertubi-tubi dihadapkan dengan musibah konflik dan kerusuhan, khususnya di tanah Papua. Kerusuhan yang terjadi di kota Wamena, Senin (23/9/19), massa membakar 5 perkantoran, 80 mobil, 30 motor, dan 150 ruko. Hingga, Kamis (26/9/19) 224 mobil roda 6 dan 4 hangus, 150 motor, 465 ruko, dan 165 rumah dibakar. Selain itu, sekitar 5000 warga mengungsi di 4 titik pengungsian. Sedangkan jumlah korban tewas juga terus bertambah. Demonstrasi bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat. Unjuk rasa yang berujung rusuh itu diduga dipicu oleh perkataan bernada rasial oleh guru terhadap siswanya di Wamena. Sementara Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja memastikan bahwa alasan massa melakukan aksi anarkistis di Wamena adalah karena mereka termakan kabar tidak benar atau hoaks.
Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2005-2015, Din Syamsudin, kejadian tersebut terlepas dari peristiwa di Papua sejak beberapa waktu lalu berupa aksi unjuk rasa di Sorong, Manokwari, Jayapura, dan tempat-tempat lain seperti di Ibu Kota Jakarta yang memprotes ketidakadilan dan bahkan menuntut kemerdekaan. (pwmu.co). Pasalnya, Indonesia dihuni beragam suku, bangsa, agama, dan budaya, potensi terjadinya konflik etnik ditengah masyarakat amatlah besar. Masalah yang terjadi di Wamena sebenarnya menjadi potret kegagalan pemerintah mengatasi laten Papua. Pergantian rezim yang berkuasa di Indonesia, sejak Orde lama hingga hari ini tak mampu menyelesaikan masalah Papua. Tawaran solusinya selalu hanya sebatas pengalihan tanggung jawab. Jangankan merancang solusi jitu, menentukan masalah papua saja rezim tak mampu. Mereka hidup dalam ideologi kapitalis yang hanya mengukur pencapaian materialistik. Padahal, sebab kekisruhan Papua hanya satu, pemerintah tidak pernah menempatkan diri sebagai penanggung jawab dan penjamin keamanan, kenyamanan dan martabat hidup rakyat Papua, baik penduduk Asli ataupun pendatang.
Keadaan ini berbeda dengan saat umat manusia hidup dalam naungan Islam. Selama 14 abad Khilafah Islam menguasai 2/3 wilayah di dunia, dengan meleburkan semua ras manusia dalam wadah yang sama. tak pernah terjadi penjajahan, diskriminasi maupun eskploitasi terhadap warga asli negeri tersebut. Islam, saat pertama kali dibawa oleh kaum Muslim di Jazirah Arab, sama sekali tidak memperlihatkan arogansi kesukuan. Islam justru membawa semangat persaudaraan dan persamaan. Tentu karena Islam mengakui adanya keragaman suku bangsa. Islam meletakkan kemuliaan manusia bukan pada suku bangsa, pendatang atau warga asli, warna kulitnya, tetapi pada ketakwaannya kepada Allah SWT.
Dari kasus Wamena sekali lagi terbukti bahwa tanpa syariah Islam, jatuhnya korban hingga hilangnya nyawa manusia begitu mudah. Nyaris setiap hari media massa menyodorkan berita bagaimana dengan mudahnya manusia saling menganiaya, merampas harta benda, membakar pemukiman, bahkan menghilangkan nyawa. Rakyat membutuhkan hadirnya negara sebagai pelindung mereka. Rakyat membutuhkan perisai yang akan menjaga harta dan jiwa mereka. Rakyat juga membutuhkan pemimpin, yang akan menjaga keutuhan kesatuan mereka, agar tak mudah terprovokasi oleh pihak luar yang ingin mencerai beraikan mereka.
Kondisi seperti ini sejatinya hanya bisa diminimalisasi oleh Islam. Khilafah akan menjaga setiap jiwa dari tindakan penganiayaan sesama manusia.Karena itu, kerusuhan yang terus-menerus melanda negeri ini patut diselesaikan dari akar persoalannya. Caranya, dengan menjadikan Islam sebagai pengikat seluruh kaum Muslim dan membuat mereka kembali bersaudara dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Dengan itu mereka saling memelihara harta, darah dan kehormatan satu sama lain.
Kemudian, tegakkanlah syariah Islam. Sebab, hanya syariah Islam yang bisa memberikan rasa keadilan bagi setiap orang, bukan hanya Muslim. Syariah Islam juga menjamin kehidupan yang mensejahterakan setiap warga negara, Muslim dan non Muslim. Inilah cara Islam menciptakan dan merawat kebersamaan selama belasan abad, sekaligus menciptakan peradaban yang unggul dan memuliakan umat manusia. Saatnya kita kembali pada aturan Allah SWT, system paripurna Khilafah Islamiyah yang terbukti membawa kesejahteraan dan menempatkan manusia dalam posisi yang mulia. Tinggal kita yang memilih, mau berada di posisi mana? Pelaku sejarah perubahan yang siap dengan segala resiko memperjuangkan kebenaran Islam atau pasif saja menonton perubahan, atau bahkan tertawa dalam hati bahwa “Khilafah hanya mimpi di siang bolong?” Semoga Allah selalu menunjuki kita akan kebenaran dan memberi petunjuk atas apapun yang kita lakukan. Wallahu ‘alam bish shawwab.

No comments:
Post a Comment