Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Faktor Terjadinya Kerusuhan Wamena

Monday, October 07, 2019 | Monday, October 07, 2019 WIB Last Updated 2019-10-07T12:30:07Z
Oleh : Sri Yana

Setelah beberapa hari Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua menyebabkan banyak warga yang mendaftar untuk dievakuasi ke Jayapura. Karena warga khawatir dengan keadaan yang tak kunjung membaik.

Sebagaimana dilansir amp.kompas.com, 29/09/2019 bahwa Komandan Lanud Silas Papare Jayapura Marsma TNI Tri Bowo Budi Santosa, menyebutkan, hingga kini jumlah warga yang mendaftar mencapai 10.000 orang.

Bagaimana tidak mengungsi? Warga pasti khawatir sekaligus takut dengan keadaan di Wamena yang sering terjadinya rusuh. Karena alasan rasial antara warga asli Papua dan warga pendatang. Apalagi dipicu dengan kejadian di Surabaya dan Malang. Karena kecemburuan sosial dan kesenjangan ekonomi memang terjadi di Papua.

Hal ini disebabkan oleh ikatan sukuisme dan kebangsaan yang sudah mendarah daging di Indonesia yang sulit dihilangkan. Antara ikatan sukuisme dan kebangsaan sama-sama merupakan ikatan yang rusak dan bersifat emosional, yang berdasar dari naluri mempertahankan diri, yaitu untuk membela diri. Bedanya ikatan sukuisme hanya di ruang lingkup qabilah/keturunan saja, sedangkan ikatan kebangsaan berada di lingkup negara. Yang memang kini, kita sudah tersekat-sekat kurang lebih 50 negara.

Selain itu, faktor lainnya memang di sistem kapitalisme demokrasi ini, dimana pihak berkuasa yang memiliki modal yang memegang peranan, apalagi di Papua memiliki SDM (sumber daya alam) yang melimpah. Namun warganya miskin. Karena pengambilan SDM yang melebihi batas. Hal itu pula yang memicu kecemburuan sosial maupun kesenjangan ekonomi. Oleh karena itu perlunya pemerintah agar lebih memperhatikan Wamena, Papua.

Semua warga Indonesia terutama Wamena tentu saja menginginkan kedamaian, bahkan kesejahteraan. Oleh karena itu, sudah selayaknya mari kita terapkan Islam sebagai ikatan yang mengikat warga negaranya. Yaitu ikatan aqidah Islam yang mampu menyelesaikan problematika umat saat ini, maupun pada masa Rasulullah SAW. Dimana berpegang teguh kepada Al Qur'an dan Sunah. Bukan berpegang pada hukum buatan manusia yang menyengsarakan manusia. Bukan pula ikatan sukuisme dan ikatan kebangsaan.

Sudah sejatinya kita kembali kepada Islam, agar negara-negara menjadi satu kesatuan dalam naungan khilafah, tidak terkotak-kotak seperti sekarang ini, menjadikan tanpa sadar bahwa ikatan sukuisme dan kebangsaan sudah melekat.

Sebagaimana kutipan hadits di bawah ini, kita dilarang fanatisme kesukuan (ashabiyah), seperti yang terjadi di Wamena:
"Bukan dari golongan kami orang yang menyerukan kepada ashabiyah (fanatisme kesukuan), bukan dari golongan kami orang yang berperang demi ashabiyah, bukan dari golongan kami orang yang mati mempertahankan ashabiyah."(HR. Abu Daud)
Wa'allahu a'lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update