Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Arah Pendisikan Generasi Yang Semakin Sekuler

Friday, June 28, 2019 | June 28, 2019 WIB Last Updated 2019-06-28T12:09:52Z
Oleh : Padliyati Siregar,ST 
(ketua komunitas peduli generasi Palembang)

Momentum penegasan arah pendidikan nasional kembali dikukuhkan melalui Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019. Bertema Penguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy melalui pidatonya menyatakan pentingnya pembangunan SDM. Dalam perspektif pendidikan, pembangunan sumber daya menusia menekankan pada 2 penguatan. Pertama, pendidikan karakter. Dan kedua, penyiapan generasi terdidik yang terampil dan cakap dalam memasuki dunia kerja.
Dan upaya  penguatan ini dikukuhka dengan melepaskan 45 orang delegasi mahasiswa lndonesia oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir yang akan melaksanakan kunjungan ke China mulai 15 hingga 21 Juni 2019. Kunjungan mahasiswa Indonesia tersebut merupakan respons terhadap undangan Pemerintah China yang disampaikan melalui Kedutaan Besar China di Jakarta kepada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan surat tertanggal 12 Februari 2019.
Program kunjungan itu bertujuan untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan teknologi China kepada mahasiswa dan mahasiswi Indonesia. Selama kunjungan, para peserta diharapkan memperoleh wawasan dan pengetahuan serta belajar berbagai hal yang mendukung kemajuan diri sendiri dan bangsa. 45 mahasiswa terpilih terdiri dari 33 mahasiswa penerima Bidikmisi serta 12 mahasiswa aktivis organisasi kemahasiswaan dari berbagai kampus di Indonesia. Peserta diharapkan mendapatkan pengalaman dan wawasan internasional agar mampu bersanding dan bersaing dengan negara lain, dan membagikan pengalaman positifnya di lingkungan kampus. https://m.antaranews.com/berita/914151/menristekdikti-lepas-45-delegasi
Menilik dunia pendidikan yang ada di Indonesia menganut azas sekulerisme. Yakni, tidak mendasarkan proses pendidikannya kepada Islam (sebagai agama yang sahih),  Kalau pun mengambil Islam, hanya untuk melengkapi pendidikan keagamaan (peribadahan) dan pembentukan akhlak atau moral belaka. Sedangkan dalam perkara lainnya, peserta didik tidak dididik dengan panduan Islam. Tak ada pendidikan politik Islam. Tak ada pula pendidikan budaya dan sosial Islami. Pun senantiasa memisahkan antara sains – sosial humaniora dengan aspek akidah Islam.
Oleh karenanya, kepribadian yang terbentuk pun bukan kepribadian Islam, namun kepribadian sekuler. Mereka bisa jadi Muslim, beribadah dan berakhlak, namun tidak memahami dan melaksanakan hukum syariah secara penuh. Mereka tidak peduli dengan kemunkaran, bahkan menjadi bagian dari pelaku kemunkaran. Inilah SDM produk pendidikan sekuler. Inilah pula produk pendidikan karakter yang selama ini selalu menjadi senjata (jargon) bagi sistem pendidikan nasional. Dengan azas sekuler seperti ini, mustahil pendidikan melahirkan kepribadian yang Islami, meski ada program penguatan pendidikan karakter.
Di sisi lain, pendidikan sekuler juga memastikan arah pendidikan terjebak pada kemajuan yang menipu. Hal ini nampak dari penegasan Mendikbud tentang penekanan aspek kedua dalam pendidikan SDM, yaitu menyiapkan generasi yang terampil dan cakap untuk memasuki dunia kerja.
Tentu ini sebuah kesalahan besar dan berbahaya. Bisa dibayangkan, jika gegara perubahan peradaban yang sedemikian cepatnya, disertai persaingan usaha semakin kuat, lantas pendidikan diarahkan agar terlahir SDM yang siap kerja dan memiliki jiwa wirausaha. Apakah pendidikan hanya untuk tujuan itu?
Terlebih, sudah teramat jelas bagaimana persaingan dunia usaha dan industri di era Revolusi Industri 4.0 kali ini. Siapa yang memainkan dan siapa yang akan menjadi objek permainan. Siapa yang menjadi penguasa dan siapa yang akan menjadi target dominasi. Semua itu menunjukkan kuatnya industrialisasi kapitalisme. Maka terbayang, pendidikan saat ini pada akhirnya hanya menjadi jalan bagi penguatan proyek-proyek besar kaum kapitalis.
Inilah yang dimaksud jebakan kemajuan semu. Kesan dilahirkannya SDM yang siap kerja dan wirausaha di tengah dominasi kapitalisme global, sejatinya menunjukkan kegagalan pendidikan. Sebab, pendidikan hanya menjadi penggerak industrialisasi kapitalisme. Sungguh sangat disayangkan hal ini terjadi di negeri Muslim terbesar seperti Indonesia.
Sejatinya, kaum Muslim Indonesia memiliki ‘izzah (kemuliaan). Mereka memiliki akidah dan hukum-hukum Islam yang mengatur seluruh kehidupan mereka, termasuk dalam menyelenggarakan pendidikan. Sistem pendidikan yang sahih seharusnya melahirkan manusia-manusia handalt yang memimpin untuk kemajuan peradaban, bukan menjadi budak kapitalisme.
Kurikulum dalam Sistem Pendidikan Islam
Kurikulum adalah hal yang penting dalam mencetak generasi. Negeri kita saat ini sudah bolak balik berganti kurikulum. Kita bisa melihat bagaimana produk dari sistem pendidikan negara kita. Mulai dari yang split personality, gaul bebas, pemberi harapan palsu, pacaran, hamil diluar nikah, membully orangtua dan guru, dan lainnya. Memang ada dari pelajar yang memenangi berbagai lomba tingkat internasional, tetapi itu tidak mampu menutupi kelamnya potret pelajar masa kini. Termasuk mereka yang tidak mampu mengontrol dirinya dalam penggunaan teknologi yang berujung kepada generasi apatis, pembangkang bahkan lupa untuk beribadah juga mengkaji Islam. Terlebih banyak muatan dalam kurikulum yang merupakan pesanan asing.
Dalam sistem Khilafah Islam, pendidikan merupakan hajat atau kebutuhan dasar bagi setiap warga negara. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang akan memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu terapan dan memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.
Dalam sistem Islam, tanggung jawab penyelenggaraan proses pendidikan ada pada negara, dalam hal ini adalah seorang Khalifah. “Seorang Imam (Khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kurikulum adalah hal yang penting. Oleh karenanya negara juga hadir menyiapkan standar kurikulum, yakni kurikulum yang terintegrasi dengan Akidah Islam, menetapkan metode pembelajaran yang baku dalam proses belajar mengajar. Menyediakan pula tenaga pengajar yang berkualitas berikut kompensasi kesejahteraannya yang mencukupi. Negara juga mendorong dan memfasilitasi orang tua untuk meningkatkan kemampuannya mendidik anaknya agar tercapai output pendidikan yang diharapkan. Yakni lahirnya individu-individu terbaik yang memiliki Syakhsiyah Islamiyah, Faqih fii ad-Din, terdepan dalam sains dan teknologi serta berjiwa pemimpin.
Kurikulum Islam berhasil mencetak para ilmuwan dengan teknologi terapan yang menginspirasi perkembangan teknologi dunia. Ilmuwan bukan sembarang ilmuwan tetapi ilmuwan yang senantiasa berpikir bagaimana ilmu terapan tersebut bermanfaat untuk umat. Para ilmuwan akan menjadikan standar hukum syara dalam pengembangan teknologi yang dilakukan dengan penggunaan sarana yang memadai.
Pelajar sangat senang dan tidak terbebani dalam menuntut ilmu karena semua fasilitas memadai dalam mengembangkan potensi mereka disamping mereka pun diberi uang saku dan fasilitas lengkap selama bersekolah. Mereka sangat dihargai sekecil apapun kontribusi mereka.
Hal itu ditempuh juga dengan melengkapi sekolah-sekolah, akademi-akademi dan universitas-universitas dengan perlengkapan yang dibutuhkan seperti laboratorium dan berbagai sarana pendidikan yang sesuai.
Dalam masing-masing periode sekolah, di dalamnya terdapat materi pokok dan keterampilan dan kerajinan yang disiapkan. Didalamnya diperhatikan perbedaan kemampuan individual para siswa. Ini dimaksudkan untuk efisiensi waktu belajar dan prestasi yang dimiliki. Jadi tidak ada anak yang merasa terbebani ketika sekolah, mereka bahagia sehingga tidak perlu ada pelampiasan dengan melakukan hal yang kurang baik hanya untuk sekadar merelakskan diri.
Ujian dilakukan secara lisan untuk melihat pemahaman siswa. Dalam Khilafah Islam, siswa tidak disibukkan dengan sekadar soal yang rumit seperti saat ini dengan soal berstandar HOTS, atau mengejar berstandar PISA, namun tidak berkorelasi dengan pemahaman dan pola sikap siswa. Di akhir jenjang sekolah, setelah seorang siswa berhasil menyelesaikan 36 periode, siswa tersebut dapat mengikuti ujian umum yaitu “Ujian Umum untuk seluruh jenjang sekolah”. Seorang siswa juga dapat menyelesaikan jenjang sekolah dengan berhasil tanpa harus mengikuti ujian umum. Di dalam negara Khilafah akan ada akademi industri dan kejuruan yang tidak mensyaratkan kelulusan seorang siswa dari ujian umum untuk seluruh jenjang sekolah.
Khilafah Islam memperhatikan pentingnya sekolah kejuruan untuk mempersiapkan paket seni dan keterampilan dalam spesialisasi yang tidak membutuhkan kedalaman ilmu pengetahuan seperti kerajinan kayu, pandai besi, menjahit, memasak, dll. Bagi siswa yang tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan sekolah dikarenakan satu dan lain hal, bisa meninggalkan pendidikan sekolah setelah menyelesaikan periode belajar yang ke dua puluh empat, dan mendaftarkan diri pada lembaga pendidikan kejuruan untuk mempelajari salah satu dari spesialisasi yang ada.
Para pakar akan menetapkan lamanya pendidikan di setiap jurusan dan karakter dari materi yang akan dipelajari siswa termasuk keahlian yang diperlukan untuk medalami ketrampilan tersebut. Setelah kelulusannya, siswa akan akan diberi sertifikat yang diberi nama “Sertifikat ketrampilan” di bidang yang didalami seperti menjahit, memasak, dll.
Dengan demikian, sistem pendidikan dalam Khilafah Islam adalah pendidikan yang berkualitas dan mengembangkan potensi para pelajarnya. Inilah solusi hakiki yang akan mengantarkan generasi kuat, cerdas, berkepribadian Islam yang utuh, terdepan dan mampu memimpin bangsa-bangsa lainnya. Tidak ada lagi generasi yang meninggikan satu bidang dengan meninggalkan bidang yang lain. Semua berjalan beriringan sesuai dengan kaidah syara’.

Semoga firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS Ali Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan berimanlah kepada Allah…” akan segera terwujud dalam waktu dekat. Allahu a’lam.[]
×
Berita Terbaru Update