Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ritual Satanisme dan Okultisme dalam Perayaan Maulid Nabi, Kok Bisa?

Tuesday, September 15, 2026 | September 15, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T04:11:16Z
Muslimah Peduli Generasi 

Gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menuai polemik panjang di tengah masyarakat. Acara yang diselenggarakan pada Kamis,10 September 2026 tersebut mendapatkan sorotan tajam dan viral di media sosial karena dinilai tidak etis karena menampilkan properti serta adegan yang sangat identik dengan ritual Satanic. Padahal gelaran ini masih satu rangkaian dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. Wilayah Simbang Kulon selama ini dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai agama Islam karena merupakan salah satu basis kuat jemaah Nahdlatul Ulama (NU).

Berdasarkan rekaman video dan foto yang beredar di media sosial memperlihatkan deretan talent mengenakan kostum dan karakter yang menyeramkan. Salah satu yang mendapat sorotan tajam adalah sosok yang berkostum iblis raksasa yang membawa obor serta replika kitab berlambangkan mata satu yang identik dengan sosok Dajjal. Ada juga teatrikal penyembelihan seekor kambing di tengah pertunjukan. Ada juga ornamen kelam seperti Pentagram Terbalik yang bermakna pergerakan planet. Ada juga yang menyebut ini sebagai representasi entitas gelap dan makhluk berkepala kambing (Baphomet). Simbolisme ini makin melekat kuat dengan kejahatan modern yang mengadopsi modifikasi Okultisme (kepercayaan  pada kekuatan gaib yang dapat dikuasai manusia atau hal- supranatural yang tersembunyi dari pandangan umum) Levi yang menjadi lambang resmi aliran sesat yang dikenal dunia sebagai Sigil of Baphomet. (Suara.com, 14/9/2026).

Banyak pihak menyayangkan bagaimana konsep ini bisa lolos untuk dipertontonkan di ruang publik, terutama menjadi salah satu rangkaian acara perayaan maulid nabi dan khitanan massal. Wakil ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyatakan aksi ini sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam dan nilai-nilai mulia peringatan Maulid Nabi. Perayaan Maulid Nabi seharusnya diisi dengan amalan mendidik, membawa kedamaian, serta merefleksikan akhlak mulia Nabi.

Panitia SKNC 2026, Ghiyats, menjelaskan kegiatan tahunan ini mengusung tema "Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran" yang menggambarkan semangat masyarakat untuk menjadikan karnaval bukan sekadar tontonan, tetapi juga sebagai sarana merawat budaya dan mempererat hubungan antarmasyarakat.
Tentu adanya teatrikal Satanic bertolak belakang dengan tujuan acara ini. Satanic bukan budaya masyarakat Indonesia, dan hubungan apa yang ingin dipererat dengan teatrikal ini? Kenapa hal ini bisa terjadi?

Persepsi bahwa karnaval Maulid ini terlihat seperti ritual setan karena adanya perpaduan antara tradisi lokal/budaya adat dan budaya luar dengan perayaan keagamaan. Kegiatan ini juga merupakan bentuk kreativitas yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Meskipun ada yang beralibi teatrikal ini bukanlah bentuk pemujaan setan, tetapi masyarakat dapat mengindra bahwa kegiatan ini identik dengan aliran Satanic. Telah terjadi pergeseran makna perayaan Maulid, yang seharusnya berisi kegiatan keagamaan, wujud cinta pada Rasulullah saw menjadi kegiatan yang justru bertolak belakang.

Hal ini terjadi karena sistem hidup kita hari ini diatur oleh Kapitalisme yang berasaskan sekuler yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Sistem hidup ini juga melahirkan liberalisme yaitu kebebasan. Manusia merasa bebas melakukan apapun termasuk dalam berekspresi (memakai kostum tertentu) dengan dalih kreativitas. Sistem yang menjadikan standar perbuatan bukan lagi halal haram, melainkan mengikuti hawa nafsu dan kepentingan.

Perayaan Maulid dalam Islam

Merayakan atau memperingati Maulid Nabi adalah bentuk rasa syukur kita atas kedatangan cahaya petunjuk yang bermakna kemenangan. Bentuk cinta pada Rasulullah saw dapat diwujudkan dengan mempelajari nasabnya, risalahnya, dan perjalanan hidupnya. Setelah mengenal sosoknya maka akan lahir kecintaan yang diwujudkan dengan shalawat kepadanya, serta mengikuti (Ittiba') perjuangan hidup dan dakwahnya.
Menjalankan segala apa yang beliau perintahkan dan menjauhi segala larangannya.

Perayaan Maulid Nabi juga bisa menjadi sarana syiar dakwah agar umat Islam tidak lupa pada keteladanan Nabi. Sebagian ulama membolehkan  perayaan Maulid dengan syarat kegiatannya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara sebagian ulama melarang karena menganggap hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat serta generasi awal Islam (salafus shalih). Pelarangan ini karena dikhawatirkan adanya pengagungan yang berlebihan (ghuluw) dan menyerupai cara umat agama lain dalam merayakan kelahiran tokoh agama mereka.
Sementara perayaan Maulid yang berisi kemaksiatan atau perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam jelas haram hukumnya.

Di Indonesia sendiri perayaan Maulid Nabi sudah berlangsung cukup lama dan menjadi tradisi tahunan di beberapa daerah. Ada yang diisi dengan pembacaan kitab-kitab sejarah Nabi (seperti Barzanji) di masjid atau pesantren, tablig akbar, bagi-bagi berkah (sedekah), hingga parade jalanan yang masif seperti karnaval.

Mencintai Nabi adalah syarat kesempurnaan iman, Rasulullah saw bersabda:
" Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga Aku lebih ia cintai dari pada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Mencintai Rasulullah saw bisa diwujudkan dengan menghidupkan sunnah beliau. "Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, berati ia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku, maka ia bersamaku di surga. (HR. Tirmidzi).

Cinta pada Nabi tidak boleh hanya dibibir saja, mari kita wujudkan dengan mengamalkan risalahnya yaitu dengan menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan. Bukan mengambil apa yang kita sukai dan meninggalkan apa yang kita tidak sukai. Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah bukan seperti makanan prasmanan. Kita wajib taat tanpa tapi dan tanpa nanti. Wallahua'lam bishawab.
×
Berita Terbaru Update