Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dunia pendidikan indonesia : Ekosistem generasi “TERSESAT”

Wednesday, November 04, 2026 | November 04, 2026 WIB Last Updated 2026-11-04T05:04:41Z
 

Oleh: Muezza Amanda
 
Dunia pendidikan indonesia, tak pernah jauh dari kata suram. Berbagai permasalahan pelik yang dihadapi oleh ekosistem pendidikan tak kian berkesudahan. Mulai dari masalah kuriklum, kesejahteraan guru, sampai keselamatan jiwa murid yang kerap kali dioertsruhkan karena keracunan MBG. Tak Berhenti soalan teknis, soalan sosialisasi pun menjadi permasalahan di ekosistem pendidikan indonesia ini.
 
Kasus bullying kerap menigkat, terutama pads tahun 2024-2025 silam, angka melonjak dari 573 kasus ke 614 kasus, yang artinya kasus melonjak sebanyak 7,1% dalam satu tahun, ini merupakan lonjakan yang siginifikan, meningat totalan kasus dari 2024-2036 adalah sebesar 1.899 kasus. kasus perundungan ini terjadi diberbagai lini, baik di tingkat sekolah maupun peruguruan tinggi.
 
Bullying masih merupakan musuh yang besar dalam dunia pendidikan. Bahaya bulying kian nyata karena pada berbagai kasus yang ada, korban memiliki kencenderungan untuk menghabisi nyawa mereka sendiri demi menghidari pelaku bullying yang berada dalam lingkungan sosial mereka baik sekolah maupun di luar sekolah. dan pada faktanya sampai saat ini, pemerintah terkhusus satuan pendidikan di indonesia tidak bisa mengatasi begitu banyaknya kasus sampai saat ini.
 
Berbagai kasus bullying dengan berbagai tingkat kekejamannya ini bercokol di dunia pendidikan kita bukan tanpa sebab. hal ini lahir karena kegagalan sistem kepitalis sekuler dalam melahirkan manusia “baik” yang utuh secara akal dan moral. Dalam sistem kapitalis individu dihargai dengan banyaknya materi yang dimiliki. bahwa masing-masing manusia memiliki harga yang bisa dibeli atas dirinya. dengan dasar pemikiran yang semacam ini, tentu tidak mengherankan manusia-manusia yang dihasilkan dari sistem pendidikan ini nirempati, dan tidak bersikap layaknya manusia yang berakal dan bermoral.
 
sistem sekuler sejatinya telah menanamkan akarnya dalam tiga lingkup utama tempat generasi baru tumbuh dan berkembang, yaita keluarga, lingkungan, serta negara. dalam lingkup keluarga yang merupakan tempat pendidikan pertama bagi generasi, namun orang tua dibuat lalai atasnya karena sibuk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang kian mencekik. akibatnya anak-anak ini tumbuh tanpa teladan bagaimana bersikap santun terhadap sesama. Dengan kondisi generrasi yang begitu jauh dari adab mulia karena nilai sekulerisme yang begitu bercokol, mengejar materi, dan menjadikan hidup liberal dan hedonis sebagai panutan.
 
Dalam sistem sekuler, sebuah ekosistem yang menghasilkan anak-anak yang tidak sehat secara mental dan moral. dimulai dari keluarga yang bisa menjadi sumber kekerasan pertama yang kemudian berpengaruh besar pada prilaku dan pembentukan karakter anak-anak. jika orang tua terbiasa menyeleasikan masalah dengan kekerasan verbal, fisik, ancaman, dan sebagainya maka akan membentuk anak menjadi pribadi yang keras dan berpotensi melakukan kekerasan. selain itu juga lingkungan masayrakat memiliki pengaruh yang demikian besar pada generasi, namun pada faktanya dapat kita lihat bahwa lingkunganpun menempatkan nilai-nilai sekuler dalam kehidupan sehati-hari, yaitu nilai-nilai yang menempatkan materi diatas segalanya dan memisahkan agama dari kehidupan, yang menghasilkan masyarakat yang individualis, mengedepankan ego masing-masing dan juga tak acuh terhadap apa yang terjadi pada saudaranya, inilah potret khas masyarakat dalam sistem sekuler kapitalistik.
 
elemen ekosistem rusak ini dilengkapi dengan lemahnya peran negara dalam perlindungan generasi dari kerusakan yang jelas terlhat dalam berbagai sisi semisalnya, perangkathukum yang tdak efektif. hukum yang ada tidak mampu menekan kasus perundungan yang kian berulang. kemudian juga kuriruluam yang tidak mampu melahirkan generasi yang saleh dan saliha, sekolah dan institusi pendidkan tinggi hanya fokus pada prestasi akademik, namun tidak dikaitan dengan nilai spiritual. ditambah lagi, begitu bebasnya segala bentuk informasi yang masuh ke tengah masyarakat melalui sosial media tanpa ada sensor dari negara. tayangan-tayangan yang tidak mendidik, penuh dengan hasrat seksual dan hubungan intim lawan jenis, persaingan dan juga perumusahan justru menjadi panutan yang ditonton secara bebas oleh generasi.
 
ekosistem ini selayaknya diganti dengan sebuah ekosistem yang jelas nyata dalam memelihara manusia secara utuh. ketiga elemen ekosistem ini seharusnya menjadi sesuatu yang bekerja sama dalam membentuk generasi yang berahlak dan beradab dan hanya bisa terjadi ketika islam diterapkan secara menyeluruh.
 
Dalam sistem islam, penanaman akidah islam akan menjadikan invidu menjadi generasi yang memiliki pola pikir dan sikap sesuai islam.dimana orang tua dipasikan akan mejadi teladan yang baik bagi anak, masyrakat akan mengawasi dengan ketat permasalahan kekerasan dalam rumah tangga, sehingga ini mejadi salah satu pemutus rantai kekerasan yang menjadikan korban kemudian menjadi pelaku. serta negara yang dengan ketat mengawasi baik dalam bidang pendidikan maupun pengawasan informasi yangmasuk ketengah masayrakat terutama anak mudanya dan juga disertai sistem hukum yang tegas,agar pelaku jera dan calon pelaku tidak berani mencoba berbuat.
 
beginilah islam membentuk generasi emas, bertakwa, berilmu lagi mulai yaitu dengan penerapa sistem islam secara totalitas, dengan penerapan ini perundungan dapat dicegah, dapat diprediksi atau diatisipasi dan generasi dalam pertumbuh dengan aman, dan nyaman.
×
Berita Terbaru Update