Nusantaranews.net, Padang — Upaya pengerukan sedimentasi lumpur dan material sisa banjir pekan lalu kembali terlihat di sekitar kawasan Jembatan Muaro Penjalinan, Kota Padang. Pengerukan ini dilakukan untuk membersihkan endapan tanah yang menghambat aliran sungai dan berpotensi memicu luapan air saat curah hujan tinggi.
Meski pembersihan terus dilakukan, langkah ini dinilai hanya menyelesaikan masalah di permukaan. Pasalnya, lokasi tersebut sudah berulang kali dikeruk dalam waktu yang relatif singkat. Penumpukan material lumpur yang terus terjadi menandakan adanya persoalan serius pada ekosistem aliran sungai dari bagian hulu hingga hilir.
Kondisi ini apabila dibiarkan tanpa penanganan komprehensif, tidak hanya memboroskan anggaran perawatan, tetapi juga menempatkan pemukiman warga di sekitar muara dalam ancaman banjir berulang. Penumpukan sedimentasi akan terus terjadi selama alih fungsi lahan dan deforestasi di wilayah hulu tidak ditindak tegas.
Semestinya, pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V Padang dalam melakukan pengerukan sedimentasi mesti melakukan perencanaan yang matang dan berkolaborasi secara terpadu dengan instansi terkait. Penanganan sungai tidak bisa sekadar mengandalkan alat berat di kawasan hilir, melainkan harus menyentuh akar masalah melalui pembenahan tata kelola lingkungan serta konservasi hutan di area catchment area (tangkapan air) hulu.
Jika pencegahan di hulu tidak segera dibenahi, pengerukan di Muaro Penjalinan hanya akan menjadi rutinitas tanpa akhir yang berulang setiap kali banjir datang.
