Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Olahraga Dalam Cengkeraman Industri

Tuesday, October 06, 2026 | October 06, 2026 WIB Last Updated 2026-10-06T09:39:04Z





oleh : ummu fatih (pegiat opini)

Prestasi membanggakan ditorehkan Antam Fighting Club (AFC) Kolaka pada ajang Arung Palakka Championship 2026 yang berlangsung di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 25–27 September 2026. Kejuaraan yang memperebutkan Piala Bupati Bone tersebut diikuti sekitar 840 atlet dari berbagai daerah.

AFC menurunkan 21 atlet yang berasal dari tiga perguruan silat, yakni Perisai Diri sebanyak 11 atlet, Tapak Naga 5 atlet, dan Tapak Suci 5 atlet. Hasilnya, mereka berhasil membawa pulang 22 medali, terdiri atas 10 emas, 9 perak, dan 3 perunggu. Perisai Diri menyumbang 5 emas, 4 perak, dan 2 perunggu; Tapak Naga 2 emas dan 3 perunggu; sedangkan Tapak Suci meraih 3 emas, 2 perak, dan 1 perunggu.

Prestasi tersebut memberikan kontribusi besar bagi IPSI Kabupaten Kolaka. Dari total 14 medali emas yang diraih IPSI Kolaka, 10 emas atau sekitar 71 persen berasal dari atlet binaan AFC. Pihak ANTAM menyebut capaian ini sebagai langkah awal menuju Porprov 2026 sekaligus bagian dari komitmen pembinaan generasi muda melalui olahraga. ANTAM juga membuka peluang penyelenggaraan kejuaraan serupa dengan skala lebih besar pada 2027 agar bakat atlet muda Kolaka dapat berkembang hingga PON dan kejuaraan dunia. (sultra.antaranews.com)


1. Prestasi jangan berhenti pada perolehan medali

Perolehan 22 medali memang menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan telah menghasilkan capaian konkret. Namun, ukuran keberhasilan olahraga tidak semestinya berhenti pada jumlah emas, perak, atau perunggu.

Jika orientasi olahraga hanya pada kemenangan, atlet dapat diarahkan untuk mengejar prestasi sebagai tujuan akhir. Padahal olahraga juga berkaitan dengan pembentukan kedisiplinan, ketekunan, keberanian, ketahanan menghadapi tekanan, dan kemampuan mengelola kegagalan.

Mental juara sejatinya bukan hanya keberhasilan mengalahkan lawan. Mental tersebut terbentuk melalui latihan yang konsisten, disiplin, kemampuan bangkit setelah gagal, fokus terhadap tujuan, dan kemauan terus belajar. Dengan demikian, prestasi AFC seharusnya menjadi pintu untuk membangun generasi yang tangguh, bukan sekadar menghasilkan deretan medali.

2. Jangan sampai olahraga berubah menjadi industri yang mengejar keuntungan

Olahraga modern tidak lepas dari kepentingan ekonomi. Ketika olahraga semakin populer, muncul sponsor, penyelenggara pertandingan, hak siar, iklan, merchandise, bonus, hingga berbagai bisnis yang mengelilinginya.

Dalam kondisi seperti ini, ada risiko olahraga bergeser dari sarana pembinaan manusia menjadi komoditas. Atlet dapat dipandang terutama sebagai aset untuk menghasilkan prestasi, popularitas, keuntungan ekonomi, bahkan citra bagi pihak tertentu.

Karena itu, pembinaan AFC perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Dukungan perusahaan melalui CSR tentu dapat memberikan manfaat bagi atlet dan masyarakat. Namun, pembinaan generasi tidak semestinya sepenuhnya bergantung pada kepentingan perusahaan atau nilai komersial olahraga.

3. Olahraga jangan dijadikan sarana membangun fanatisme sempit

Kompetisi dapat membangun semangat dan motivasi. Namun, kompetisi juga dapat bergeser menjadi fanatisme apabila identitas kelompok, daerah, klub, atau bangsa ditempatkan secara berlebihan.

Olahraga semestinya menjadi aktivitas yang melatih kemampuan dan kesehatan, bukan memunculkan permusuhan, penghinaan, diskriminasi, atau fanatisme yang memecah masyarakat. Kritik terhadap budaya olahraga yang melahirkan ashabiyah dan menjadikan pertandingan sebagai arena pelampiasan emosi juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Karena itu, keberhasilan atlet Kolaka seharusnya dimaknai sebagai prestasi yang membanggakan sekaligus sarana membangun karakter positif, bukan alasan untuk merendahkan daerah atau kelompok lain.

4. Pembinaan olahraga membutuhkan arah yang jelas

Berita tersebut menyebut pembinaan AFC tidak hanya diarahkan pada pencapaian saat ini, tetapi juga sebagai persiapan menuju Porprov 2026 dan diharapkan dapat mengantarkan atlet menuju PON bahkan kejuaraan dunia.

Ini menunjukkan pentingnya kesinambungan pembinaan. Atlet tidak cukup hanya dipersiapkan ketika akan menghadapi pertandingan. Mereka membutuhkan latihan berkelanjutan, pelatih yang berkualitas, fasilitas, pemenuhan kebutuhan dasar, kompetisi yang sehat, pendampingan mental, serta jalur pengembangan yang jelas.

Tanpa sistem pembinaan yang berkelanjutan, prestasi dapat bersifat sementara yaitu muncul ketika ada kompetisi, kemudian meredup setelah pertandingan selesai.

5. Negara tidak boleh menyerahkan pembinaan generasi kepada mekanisme pasar

Dukungan ANTAM melalui CSR patut dilihat sebagai salah satu bentuk kontribusi terhadap pembinaan atlet. Namun, secara prinsip, kebutuhan generasi dan masyarakat tidak dapat seluruhnya diserahkan kepada perusahaan.

Ketika pembinaan olahraga bergantung pada kemampuan finansial perusahaan, daerah yang memiliki dukungan korporasi besar bisa mendapatkan fasilitas lebih baik dibanding daerah yang tidak memilikinya. Padahal pembinaan generasi merupakan kepentingan masyarakat secara luas.

Dalam perspektif ini, negara harus memiliki tanggung jawab utama dalam memastikan generasi mendapatkan kesempatan mengembangkan potensi fisik, keterampilan, dan kepribadiannya. Olahraga bukan sekadar urusan pertandingan, tetapi bagian dari pembinaan manusia.

6. Prestasi harus dikaitkan dengan tujuan pembentukan generasi

Yang lebih penting dari 10 emas adalah manusia yang berada di balik medali tersebut.

Apakah mereka tumbuh menjadi generasi yang disiplin? Apakah mereka memiliki akhlak yang baik? Apakah mereka memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat? Apakah kemampuan fisik mereka digunakan untuk kebaikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar keberhasilan olahraga tidak hanya menghasilkan statistik prestasi, tetapi menghasilkan manusia yang berkualitas.

Solusi Islam

1. Negara wajib mengurus kebutuhan rakyat, termasuk pembinaan generasi

Islam menempatkan penguasa sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus urusan rakyat. 

Rasulullah SAW bersabda:

«الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan prinsip ini, pembinaan generasi tidak diserahkan semata-mata kepada perusahaan, pasar, atau kepentingan industri. Negara wajib memastikan tersedianya sarana yang memungkinkan masyarakat mengembangkan kemampuan fisik dan keterampilannya.

Olahraga dapat menjadi salah satu sarana tersebut selama aktivitasnya sesuai dengan ketentuan syariat dan membawa kemaslahatan.

2. Pembinaan fisik diarahkan untuk membentuk generasi yang kuat

Rasulullah SAW bersabda:

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ»

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)

Kekuatan dalam hadis tersebut tidak hanya dipahami sebagai kekuatan fisik, tetapi mencakup berbagai bentuk kekuatan yang dibutuhkan seorang Muslim. Karena itu, pembinaan olahraga dapat menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang sehat, kuat, disiplin, dan memiliki kemampuan yang bermanfaat.

3. Negara menyediakan sarana dan sistem pembinaan secara berkelanjutan

Pembinaan tidak boleh bersifat insidental hanya ketika menghadapi Porprov, PON, atau kejuaraan tertentu. Negara perlu membangun sistem yang memungkinkan bibit-bibit muda ditemukan sejak dini, dilatih secara berkesinambungan, dan mendapatkan fasilitas yang memadai.

Rasulullah SAW juga mendorong aktivitas yang mengandung latihan keterampilan dan kekuatan. 

Rasulullah SAW bersabda:

«كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَهُوَ لَهْوٌ ... إِلَّا أَرْبَعَةٌ»

"Di antara aktivitas yang dikecualikan adalah berjalan antara dua sasaran untuk latihan memanah, melatih kuda, dan bermain bersama istri." (HR. an-Nasa'i)

Ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang memiliki manfaat dan tujuan yang benar mendapatkan tempat dalam kehidupan seorang Muslim.

4. Olahraga ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan kehidupan

Islam tidak menjadikan kemenangan pertandingan, popularitas, atau keuntungan materi sebagai tujuan tertinggi manusia.

Allah SWT berfirman:

«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ»

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Karena itu, olahraga harus ditempatkan sebagai sarana untuk menjaga kesehatan, melatih kemampuan, membangun kekuatan, dan melakukan aktivitas yang bermanfaat. Prestasi boleh diraih, tetapi tidak menjadikan manusia lalai dari tujuan hidupnya sebagai hamba Allah.

5. Pembinaan atlet harus disertai pembentukan kepribadian Islam

Atlet bukan hanya tubuh yang harus dilatih agar kuat, tetapi manusia yang memiliki akal dan perilaku. Karena itu, pembinaan harus berjalan bersama pendidikan Islam.

Allah SWT berfirman:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا»

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu.”
(QS. Asy-Syams: 9)

Dengan pembinaan seperti ini, atlet diharapkan memiliki disiplin sekaligus ketakwaan, memiliki keberanian tetapi tidak sombong, mampu menerima kemenangan tanpa takabur dan menerima kekalahan tanpa putus asa.

6. Olahraga dijauhkan dari praktik yang bertentangan dengan syariat

Kompetisi tidak boleh melahirkan perjudian, membuka aurat, mengabaikan kewajiban agama, fanatisme kelompok, permusuhan, atau perilaku yang merusak masyarakat.

Allah SWT berfirman:

«وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ»

“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)

Dengan demikian, sistem olahraga harus memastikan bahwa kompetisi tetap berada dalam koridor syariat, sehingga olahraga benar-benar menjadi sarana membangun kekuatan dan kemaslahatan, bukan menjadi industri hiburan yang mengeksploitasi manusia.

7. Pengembangan olahraga harus terintegrasi dengan pembinaan generasi secara keseluruhan

Islam tidak memandang olahraga sebagai sektor yang berdiri sendiri. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, keamanan, dan pembinaan generasi merupakan bagian dari tanggung jawab pengurusan rakyat.

Maka, prestasi AFC tidak seharusnya hanya menjadi berita tentang banyaknya medali. Prestasi tersebut dapat menjadi momentum untuk bertanya lebih jauh,bagaimana sistem membina anak-anak dan pemuda agar sehat fisiknya, kuat kepribadiannya, luas ilmunya, dan baik akhlaknya?

Di sinilah pembinaan olahraga memperoleh makna yang lebih besar. Bukan sekadar mencetak juara di arena pertandingan, tetapi membentuk generasi yang kuat dan bertakwa sebagai bagian dari penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.
×
Berita Terbaru Update