Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Siswa Indonesia Alami Bullying, Cerminan Sistem Pendidikan yang Gagal

Friday, October 02, 2026 | October 02, 2026 WIB Last Updated 2026-10-01T20:54:59Z





Oleh : Yunita Sari, S.Pd (Aktivis Muslimah Andoolo Sulawesi Tenggara) 

Data PISA 2025 kembali menampar wajah pendidikan kita. Sebanyak 24 persen siswa Indonesia mengalami bullying beberapa kali dalam sebulan. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata negara OECD yang hanya 20 persen.

Rinciannya lebih memprihatinkan. Sebanyak 15,2% siswa dijadikan bahan lelucon, 11,6% menjadi korban rumor buruk, 7% mengalami perundungan siber, 5,6% dipukul atau didorong, dan 3,2% diancam. Ini bukan angka statistik biasa. Ini adalah jeritan generasi, Kompas. Id (14/09/2026). 

Fenomena ini diperparah dengan kasus-kasus brutal yang viral. Sebut saja kasus 3 santri di Lombok Tengah yang diduga dibakar seniornya, kompas.com(05/06/2026), hingga berbagai kasus perundungan di sekolah negeri dan pesantren yang tak kunjung usai. Kita sedang dalam kondisi darurat bullying, namun pencegahan tertinggal jauh.

Mengapa ini terus terjadi?

Sekularisme telah mencabut benteng keimanan dari individu dan keluarga. Ketika agama hanya ditempatkan sebagai ritual privat dan tidak menjadi asas kehidupan, anak tumbuh tanpa kendali takwa. Tidak ada yang mencegah seseorang menyakiti orang lain ketika standar benar-salah bukan lagi halal-haram, melainkan sekadar perasaan dan kepentingan. Anak yang jauh dari Islam akan mudah merendahkan, menghina, dan menyakiti temannya tanpa rasa takut kepada Allah.

Pun, masyarakat yang terbentuk dalam sistem Sekuler-Kapitalis adalah masyarakat yang permisif, individualistik, dan tidak peduli. Bullying dinormalisasi karena orang-orang merasa "bukan urusan saya" atau "yang penting bukan saya dan keluarga yang dibully". Budaya amar ma'ruf nahi munkar mati. Guru takut menegur karena takut dilaporkan. Teman memilih diam dan merekam untuk konten. Inilah buah dari sistem yang memuja kebebasan individu di atas kepedulian kolektif.

Dan negara yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme melahirkan sistem pendidikan sekuler yang gagal total. Sistem pendidikan hari ini hanya fokus pada nilai akademik dan keterampilan kerja, bukan membentuk generasi berkepribadian Islam. Kurikulum kosong dari pembentukan akhlak. Lebih parah lagi, tidak ada sanksi tegas bagi pelaku bullying. Bahkan pelaku di bawah 17 tahun pun dilindungi dengan dalih "perlindungan anak", sehingga korban tidak mendapatkan keadilan dan pelaku tidak pernah jera.

Maka solusi tambal sulam seperti sosialisasi anti-bullying, poster di dinding sekolah, atau program karakter semu tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah.

Islam menawarkan solusi sistemik. Sebab, Islam membangun akidah sebagai fondasi kepribadian individu dan keluarga sejak dini. Anak yang tumbuh dengan keimanan yang kokoh akan menjadikan takwa sebagai kendali dalam setiap perilakunya. Ia tahu bahwa menyakiti sesama Muslim adalah kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya."

Islam juga membangun masyarakat yang peduli dan beramar ma'ruf nahi munkar, tidak permisif dan tidak membiarkan kezaliman terjadi di depan mata. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang saling menjaga. Ketika ada kemunkaran, ia dicegah bersama, bukan dibiarkan.

kemudian, Negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan sanksi tegas (uqubat) yang bersifat zawajir dan jawabir bagi pelaku bullying. Pendidikan dalam Khilafah bertujuan membentuk insan yang berkepribadian Islam, menguasai ilmu, dan bertakwa. Dan ketika pelanggaran tetap terjadi, negara hadir dengan sanksi tegas yang menjerakan dan menebus dosa. Tiada area abu-abu usia. Setiap Muslim yang telah baligh wajib menanggung taklif atas perbuatannya. Dengan begitu, keadilan tegak dan korban terlindungi.

Bullying bukan sekadar kenakalan remaja. Ia adalah cerminan sistem pendidikan yang gagal karena dibangun di atas asas yang salah. Selama Sekularisme-Kapitalisme masih dipertahankan, bullying akan terus berulang. Hanya dengan penerapan Syariat Islam secara kafah dalam naungan Khilafah, generasi akan selamat.

Wallahu'alam
×
Berita Terbaru Update