Oleh: Rani (Aktivis Muslimah Andoolo)
Persoalan di negeri ini selalu tidak berhenti khususnya LGBT tak lagi berhenti pada perdebatan tentang identitas dan perilaku personal. Perkembangannya di tengah deras arus informasi, media sosial, dan budaya global mulai menyentuh ruang keluarga dan pendidikan bahkan kerap dinormalisasi dengan menghadirkan banyak konten agar masyarakat mulai toleran
Selain itu, banyak masyarakat dari bangku sekolah hal yang tabuh dan mungkin cenderung menghindari topik pembicaraan tentang seks—baik di sekolah, tempat kerja, ataupun di meja makan. Obrolan soal seks dianggap tabu, sehingga anak dan remaja mencari informasi sendiri lewat banyak konten yang ada
Jika kita menelusuri jejak digital Indonesia, Indonesia salah satu negara dengan konsumsi konten internet atau media sosial yang paling banyak, dan ini selaras dengan jumlah data pengunjung situs porno yang sudah diblokir Komdigi pada 2022 mencapai 10,1 juta per bulan. Jumlah kunjungan totalnya mencapai 85,3 juta kali per bulan, dengan waktu kunjungan rata-rata 5 menit, 20 detik.
Sehingga banyak kalangan kaula muda berlomba-lomba berpartisipasi membuat konten agar viral dan banyak di tonton, apa patokannya? Agar supaya viral dan mendapat view, like terbanyak tanpa memperhatikan dampaknya. Konten tak masuk akal pun akan dijabain dan dilakukan, bahkan hal yang tidak biasa diluar nurul manusia.
Seperti yang baru-baru viral dan menguncang jagat medsos diberbagai platform. Dikutip oleh Jakarta, CNN Indonesia -- Dua tersangka pemeran video mesum sesama jenis 'A day in my life' di Leuwiliang, Bogor, MR (27) dan MA (23), memproduksi puluhan konten porno yang dilakukan sejak Juli 2026.
Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Anggi Eko Prasetyo, mengatakan menyebutkan puluhan video mesum sesama pria atau gay itu dibuat di sejumlah daerah, seperti Bogor, Depok, dan Jakarta. Hingga akhirnya, tersangka MR dan MA ditangkap di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
"Terkait dengan video tersebut, itu adalah satu dari setelah dilakukan pendalaman satu dari 20 video yang sudah mereka berdua buat. Dan mereka sudah melakukan aktivitas perekaman ataupun produksi itu sejak bulan Juli 2026," kata Anggi dikutip dari detik, Senin (21/9).
Polisi mengungkap dua pria penyuka sesama jenis merekam video mesum 'A day in my life'. Mereka mengakui membuat video mesum tersebut dan diperjualbelikan di grup komunitas gay. Anggi mengatakan video mesum 'a day in my life' kedua pelaku ini hanyalah satu dari 20 video yang sudah mereka buat. (21/9/2026)
Bahkan lebih ngerinya berita terbaru saat ini kedua pelaku terjangkit positif HIV, padahal kita tahu sendiri meningkatkannya kasus HIV/AIDS adalah salah satu dari perilaku seks bebas dan menyimpang LGBT bahkan menjadi yang tertinggi penyebarannya melalui LSL (Lelaki Suka Lelaki) atau gay, apalagi saat ini mulai di normalisasi dengan keberadaannya. Akhirnya upaya yang dilakukan salah satu menghadirkan konten seperti konten Day In My life.
Dengan aktivitas ini, masyarakat bisa terbiasa mengkonsumsi video yang merusak moral generasi muda dan menganggap hal yang tabuh dan gampang di akses baik legal maupun ilegal, apalagi dengan video tersebut bisa meraup keuntungan banyak, apa jadinya negeri ini jika generasinya saja sudah terpapar, mau berharap apa?
Ternyata jika di telusuri masyarakat kita hobi dan terbiasa mengonsumsi menonton video semacam ini, bahkan dibuat berbayarpun banyak yang menontonnya, tidak heran saja Indonesia salah satu penikmat platform tertinggi video pornografi, makanya bisa berlomba-lomba membuat konten yang berbau LGBT
Seyogianya, negara segera dan tegas menangani sumber masalahnya. Akan tetapi, perilaku LGBT dan seks bebas yang nota bene menjadi penyebab populasi HIV/AIDS justru tumbuh subur di masyarakat bahkan kerap djadikan dan diselipin dalam bentuk konten atau iklan secara perlahan-lahan.
Kasus diatas bermuara persoalan LGBT yang kerap di kampanyekan yang awalnya tidak di sadari kini berkembang menjadi gagasan yang lebih luas lagi bahkan sudah sampai gagasan internasional dan tentu akan terus di agendakan.
Dari persoalan personal, isu ini bergeser menjadi persoalan pilihan, identitas, dan hak tentu berbagai unsur, mulai dari media, di dunia industri khususnya musik, film, makanan, atau lembaga NGO, lembaga internasional, dan bahkan budaya sampai kebijakan perusahaan dan diplomasi, di paksa menerima dalam membentuk penerimaan terhadap isu ini
Narasi hal ini merupakan narasi bobrok yang berupaya digembar-gemborkan oleh Barat untuk merusak pemikiran kaum muslim. Mereka berusaha membuat khsususnya kaum muslimin mengakui keberadaan mereka dan mengikuti budaya liberalnya yaitu seks bebas, yang kian melanda dan merusak identitas sebagai manusia yang berakal. Apa jadinya jika manusia tak ada bedanya dengan sifat kehewanan, bahkan hewanpun masih mengenali siapa pasangannya
Sungguh, sistem kapitalis liberal yang diadopsi negeri ini menjadi biang kerok rusaknya pemikiran masyarakat. Solusi yang ditawarkan penguasa tak pernah membuahkan hasil, contohnya saja negara tidak mampu bertindak tegas terhadap kemaksiatan yang ada, misalkan seks bebas dan LGBT.
Islam sangat tegas menyelesaikan masalah LGBT apalagi ini terang-terangan membuat konten di depan umum dan mengajak, hukuman yang pantas maka hukuman yang diberikan yakni hukuman mati, sebab perilaku yang dilaknat oleh Allah swt.
Sabda Rasulullah, "Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Sebagian besar sahabat Nabi dan imam mazhab (seperti Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, serta sebagian pendapat dalam Mazhab Syafi'i) berpendapat bahwa pelaku hubungan sesama jenis (liwath) dijatuhi hukuman mati. Metode eksekusi yang disebutkan oleh sebagian ulama bervariasi, mulai dari pedang (pancung), dirajam, hingga dijatuhkan dari tempat tinggi lalu dilempari batu, sebagaimana azab yang diberikan kepada Kaum Luth.
Dengan adanya hukuman negara yang tegas dan menjerakan. Wallahu A'lam Bishowab
