Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Downgrade Made On: Solusi atau Tanda Krisis ?

Thursday, October 22, 2026 | October 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-22T01:51:44Z



Oleh Nurenda

Aktivis Dakwah

Nusantaranews.net, Makin maju zaman, semakin aneh juga berbagai istilah asing di kehidupan khususnya di negara kita tercinta ini, akhir-akhir ini sering disebut dengan istilah downgrade. Downgrade adalah proses atau tindakan menurunkan tingkatan, pangkat, kualitas, versi, atau status, dari sesuatu ke level yang lebih rendah daripada sebelumnya, biasanya lebih kepada perangkat lunak (software) atau perangkat keras (hardware) pada sebuah benda elektronik yang dinamakan komputer.

Bagaimana jika istilah downgrade ini masuk pada definisi ekonomi dan gaya hidup itu sendiri, dimisalkan Downgrade Lifestyle/Trading Down. Definisi ini menyesuaikan pola konsumsi dengan beralih dari barang atau jasa yang bersifat premium ke opsi yang lebih murah atau ekonomis yang bertujuan agar menjaga kesehatan finansial atau arus kas (cash flow) soal pendapatan stagnan atau biaya hidup meningkat, dengan cara mengurangi kebiasaan makan direstoran mahal misalnya menjadi masak dirumah, atau mengganti dengan jenis protein yang lebih ekonomis. Hal ini terjadi karena ada penurunan jabatan, pangkat, atau tanggung jawab seseorang dilingkungan kerja.

REPUBLIKA.CO.ID JAKARTA - soal ini di media sosial banyak warganet yang membagikan unggahan tentang gaya hidupnya yang terpaksa harus di downgrade. Misalnya ada yang harus beralih dari naik motor setelah mobilnya dijual, ada juga yang harus menurunkan bujet makan dan nongkrong, intinya mereka beralih ke pilihan barang dan layanan yang lebih murah.

Lantas siapa yang  memicu fenomena ini? Pakar ekonomi dan bisnis sekaligus dosen di UGM, Wisnu Setiadi Nugroho menilai downgrade merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, dan bukan pilihan gaya hidup semata. "Downrading ini saya lihat sebagai respon rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup " kata Wisnu dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (7/10/2026).

Fakta yang terjadi di negara kita adalah penduduk kelas menengah menurun dari 60,8 juta orang (23 persen) pada 2018 menjadi 46,7 juta orang (16,6 persen) pada 2025. Penduduk kelas ekonomi yang rapuh atau rentan miskin semakin mendominasi Piramida ekonomi, dan 68,5 persen pada 2018 menjadi 74,5 persen pada 2025.

Fenomena downgrade pada kelas menengah makin ramai, kala dulu fenomena tekanan finansial banyak yang makan tabungan (mantab), sekarang malah lebih parah lebih banyak lagi yang makan dari utang (maut).

 

Dalam sistem Kapitalisme bisa mendorong masyarakat mengejar gaya hidup mewah dan mengedepankan gengsi, disisi lain kapitalisme semakin melahirkan kemiskinan struktural. Downgrade adalah salah satu dampak dari kebijakan efisiensi pemerintah, kenaikan harga kebutuhan pokok, kebijakan perpajakan, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Politik ekonomi dalam sistem Kapitalisme sekuler menghasilkan krisis finansial dan ancaman kemiskinan yang setiap hari semakin meluas, sedangkan negara dalam sistem Kapitalisme sekuler berlepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat.

Jika kita flash back ke masa kekhilafahan terdahulu, di masa ini Islam mengatur perekonomian melalui sistem ekonomi syariah yang terpusat pada keadilan sosial, pengelolaan kas negara yang transparan, dan kebebasan pasar yang terkendali. Fondasi utama sistem ini diletakkan sejak zaman Rasulullah SAW di Madinah, kemudian dilembagakan secara masif oleh para Khalifah lewat instrumen fiskal dan moneter yang sangat maju di zamannya.

Diantaranya cara Islam mengatur roda perekonomian pada masa khilafah adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan Baitul Mal (kas Negara) berfungsi sebagai bank sentral sekaligus bendahara Negara.

2. Instrumen pendapatan negara yang jelas sumber keuangan khilafah diatur berdasarkan syariat Islam dan hukum kepemilikan tanah/wilayah meliputi zakat, kharaj, jizyah, ushur.

3. Pengawasan Pasar melalui lembaga Hisbah  tugas utama dibentuknya Al-Hisbah (pengawas pasar) meliputi mencegah politik riba, melarang keras praktek ihtikar, mematikan akurasi timbangan, takaran, serta kejujuran dalam deskripsi barang dagangan, khilafah tidak menentukan kontrol harga (price kontrol) kecuali dalam keadaan darurat.

4. Standarisasi mata uang (Moneter)

5. Pengelolaan kepemilikan dan Sumber Daya Alam.

Begitu terperincinya sistem dalam Islam di zaman kekhilafahan dulu bedahalnya dengan sistem sekarang.

Di dalam QS Al-Hasyr ayat 7:

"....... agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu..... "

Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim (dari Abdullah bin Umar r.a.)

" Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya".

 

Didalam paradigma gaya hidup Islam adalah mengutamakan kebutuhan berdasarkan prioritas bukan memenuhi semua keinginan. Negara disini wajib menjamin dan menyediakan lapangan kerja yang memadai dan tidak membebani rakyat dengan pajak. Sistem Islam menjamin kebutuhan dasar, pangan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan sehingga tidak akan terjadi tekanan finansial secara massal dan berlebihan, karena negara pasti akan menjalankan fungsi ra'in, melayani rakyat, secara keseluruhan sesuai dengan tanggung jawab yang sebenarnya.

Wallahu a'lam bissawab


×
Berita Terbaru Update