Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bullying Makin Meningkat, Butuh Solusi Cepat dan Tepat

Thursday, October 15, 2026 | October 15, 2026 WIB Last Updated 2026-10-15T01:17:03Z


Oleh Feni Rosfiani

Aktivis Dakwah


Nusantaranews.net, Pada pertengahan bulan September, masyarakat dihebohkan oleh kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah dasar negeri di daerah Pemalang Jawa Tengah yang mengakibatkan seorang anak Bernama Aqib (7) meninggal dunia. Sebelum meregang nyawa, Anak kelas 2 SDN Kebon Dalem itu, sempat dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif dari medis, namun setelah 3 hari pulang kerumah akhirnya Aqib menghembuskan nafas terakhirnya. Orangtua Aqib menuturkan bahwa anaknya menjadi lebih pendiam dan tidak nafsu makan semenjak kejadian perundungan itu terjadi. Pelaku perundungan (bullying) itu adalah kakak kelas Aqib yakni 2 orang kelas 5 dan 1 orang lagi kelas 5. Aqib baru mengakui terkena perundungan itu setelah ia mengeluh sakit dada, memar di tubuh dan keadaan yang semakin parah. Sungguh kejadian ini meninggalkan luka yang amat dalam khususnya bagi keluarga. Tetapi walaupun begitu, pihak keluarga hanya berharap pelaku dihukum sesuai perbuatannya dan semoga tidak akan ada Aqib- Aqib yang lainnya lagi. Sementara kenyataanya kasus bullying ini malah semakin meningkat dari tahun 2020 sampai tahun 2025 mencapai angka 614 kasus. Jumlah ini berdasarkan data dari JPPI (Jaringan pemantau Pendidikan Indonesia). Jika terus begini, maka korban bullying akan semakin meningkat bukan berkurang.

Bullying atau perundungan bukanlah hal yang sepele bagi seorang anak. Berdasarkan fakta-fakta yang ada saat ini, korban bullying tidak hanya merasakan efek buruk dalam jangka pendek, melainkan akan terus merasakannya bahkan hingga dewasa. Bahkan, dampaknya tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga kesehatan mental. Maka tak jarang, korban bullying harus rutin berkonsultasi dengan psikiater untuk memulihkan kondisi mentalnya.

Apalagi dalam sistem kapitalisme saat ini, melahirkan generasi terbaik adalah suatu kemustahilan. Mengapa? Karena alih-alih diberikan pendidikan terbaik yang sesuai dengan ajaran Islam, masyarakat justru harus dihadapkan pada biaya pendidikan yang sangat mahal. Sementara itu, di tengah kondisi ekonomi saat ini, memenuhi biaya bertahan hidup saja sudah cukup sulit bagi masyarakat menengah ke bawah.

Sungguh sangat jelas, hal ini menunjukkan bahwa negara abai dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi rakyatnya, terutama untuk anak-anak atau generasi muda. Tidak ada pula upaya signifikan yang dilakukan oleh negara dalam menyelesaikan masalah bullying ini. Buktinya, kasus bullying kian bertambah, bukan?

Dalam sistem Islam, pemerintah mempunyai tujuan yang lengkap, luas, dan menyeluruh dalam mewujudkan generasi yang cemerlang dan mustanir. Sarana dan prasarana yang menunjang pendidikan akan disediakan oleh negara tanpa dipungut biaya sepeser pun, tanpa terkecuali. Sistem pendidikan yang diberikan pun berbasis kurikulum Islam dengan guru-guru yang kompeten, sehingga kepribadian Islam akan terbentuk pada diri generasi muda. Namun tidak hanya itu, agar kasus perundungan tidak kembali terjadi, negara harus menindak tegas para pelaku perundungan sehingga memberikan efek jera dan mencegah mereka mengulangi perbuatan tersebut. Maka dari itu, marilah kita bersama-sama berdoa dan ikut berjuang agar sistem Islam kembali menaungi seluruh dunia ini, demi terciptanya generasi penerus yang cemerlang.

Wallahualam bissawab.

 

 

 

 

 


×
Berita Terbaru Update