Oleh Antarita Sari
Aktivis Muslimah
Nusantaranews.net, AI atau artificial intelligence adalah suatu platform pintar yang saat ini sedang digemari oleh banyak orang. Platform ini digunakan untuk mempermudah manusia melakukan pekerjaan seperti desain, mengedit foto, membuat website tanpa coding, atau mengerjakan PR para siswa. Penggunaannya sangat mudah dan bisa diakses secara gratis. Namun, siapa sangka di balik kemudahan dan kepintaran AI, ternyata AI memiliki dampak buruk bagi kehidupan manusia.
Baru-baru ini seorang mantan karyawan perusahaan AI, Jacob Coxon, membagikan utas di X terkait alasannya keluar dari perusahaan AI. Dalam unggahannya, ia menegaskan bahwa AI akan menjadi sebuah sistem super yang bisa meretas apa pun, merevolusi bidang apa pun hanya dalam semalam (cnbc.com, 09/09/2026).
Bahaya terselubung dalam tren AI
Kemunculan tren edit foto menggunakan AI marak diikuti oleh para penggunanya. Untuk melakukan edit foto, AI mengharuskan penggunanya untuk masuk menggunakan email. E-mail yang sering kita gunakan ini, berisi data diri kita. Sehingga secara tidak langsung kita malah memberikan akses kepada AI untuk mengambil data diri kita. Hal ini sangat berbahaya.
Selain itu, masyarakat, terutama para remaja, sering menggunakan chatbot AI untuk curhat dan menceritakan masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka. Alasan masyarakat sering curhat kepada chatbot AI adalah:
1. AI selalu tersedia 24 jam tanpa batasan waktu
2. Mereka merasa selalu didengar tanpa dihakimi
3. Praktis dan murah sehingga tidak perlu pergi ke psikolog
Meski terlihat seperti pendengar yang baik, AI hanyalah simulasi algoritma teks. Pemakaian yang berlebihan bisa menyebabkan seseorang menjadi terisolasi dari dunia nyata dan memicu kecanduan emosional. Selain itu, data atau cerita yang diketik tidak sepenuhnya hilang dan dapat diproses oleh sistem di balik layar. Sehingga privasi yang seharusnya menjadi sebuah rahasia bisa jadi disalahgunakan oleh sistem ini.
Salah Satu Faktor Penyebab Kerusakan Lingkungan
Selain berdampak pada pribadi manusia, ternyata AI juga bisa merusak lingkungan. Bagaimana tidak, server AI membutuhkan air bersih dalam volume yang sangat besar untuk proses pendinginan evaporatif. Seperti yang terjadi di Virginia Utara, Amerika Serikat, pusat data senter dunia mengonsumsi hampir 2 miliar galon air bersih pada tahun 2023 (dw.com, 09/04/2026). Data center menyedot air minum yang sama dengan kebutuhan rumah tangga. Hal ini menciptakan kelangkaan air akut bagi warga dan mengeringkan ekosistem sungai terdekat.
Tak hanya itu, konsumsi energi dan emisi karbon juga sangat besar. Konsumsi listrik data center secara global saat ini berada di kisaran 415 hingga 565 terawatt-hour (TWh) per tahun. Angka ini mencakup sekitar 1,5% hingga 2% dari total konsumsi listrik di seluruh dunia.
AI Sebagai Alat Bagi Kapitalis
Banyak sosiolog, ekonom, dan kritikus teknologi beranggapan bahwa AI bukan lagi sekadar alat efisiensi, melainkan instrumen utama kapitalisme modern, yang sering disebut Capitalism 2.0 atau Surveillance Capitalism, untuk memaksimalkan keuntungan dan memperkuat kendali pasar.
Bagi para kapitalis, AI bisa menggantikan peran pekerja manusia. Dengan mengganti tenaga kerja manusia dengan AI yang dapat bekerja secara nonstop tanpa lelah, tanpa serikat pekerja, dan tanpa menuntut kenaikan upah, keuntungan finansial langsung bergeser ke kantong pemilik modal (capital share meningkat), sementara porsi pendapatan untuk pekerja (labor share) menurun drastis.
Kecanggihan Teknologi dalam Pandangan Islam
Semakin hari, teknologi semakin canggih. Manusia semakin dipermudah dalam menjalankan kehidupan berkat teknologi. Dalam pandangan Islam, AI dipandang sebagai wasilah (alat atau sarana) hasil dari perkembangan akal manusia. Selama teknologi ini membawa kemaslahatan dan tidak menimbulkan mudarat bagi umat, Islam tidak melarang kita menggunakannya.
Jika AI digunakan untuk mempermudah ibadah, memperluas dakwah Islam yang moderat, membantu pengenalan suara (voice recognition) untuk tajwid Al-Qur'an, serta membantu riset kedokteran untuk menyelamatkan nyawa, maka boleh-boleh saja kita mengaksesnya. Allah swt berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 29,
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
Dari sini kita bisa memahami bahwa AI adalah salah satu bentuk karunia fasilitas di bumi yang Allah izinkan untuk kita manfaatkan demi mempermudah kehidupan sehari-hari.
Namun, jika AI digunakan untuk tujuan kemudaratan seperti menciptakan disinformasi (hoaks/deepfake), melakukan plagiarisme yang merusak integritas akademik, melakukan spionase yang melanggar privasi orang lain, hingga pembuatan gambar makhluk bernyawa untuk tujuan yang dilarang (tashwir), tentu saja tidak diperbolehkan. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih yang sangat mendasar:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh memberikan dampak bahaya (bagi diri sendiri) dan tidak boleh menimbulkan bahaya (bagi orang lain).” (HR. Ibnu Majah)
Perlu ditegaskan bahwa AI tidak boleh dijadikan mufti (pemberi fatwa). Salah satu diskusi paling krusial di dunia Islam saat ini adalah maraknya masyarakat yang bertanya tentang hukum agama langsung kepada chatbot AI. Menanggapi fenomena ini, para tokoh Islam dan lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa mengambil fatwa atau rujukan hukum agama secara mutlak dari AI hukumnya dilarang/tidak sah (fisip.uinjkt.ac.id, 19/05/2025).
Kecanggihan teknologi adalah ujian bagi akal dan iman manusia. Sisi baiknya adalah nikmat yang harus disyukuri dengan cara memanfaatkannya demi kebaikan. Sementara sisi buruknya adalah peringatan agar kita tetap waspada, menjaga kendali, dan tidak membiarkan kemajuan materi menghancurkan nilai spiritual serta kelestarian bumi.
Wallahu a'lam bishowab.
