Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Alarm Krisis Kesehatan Mental Generasi Muda

Wednesday, October 07, 2026 | October 07, 2026 WIB Last Updated 2026-10-07T11:54:43Z




Oleh Bunda Ghaniyya
Muslimah Peduli Umat


Nusantaranews.net, Linimasa media sosial kini ramai dengan rangkaian pemberitaan yang mengejutkan. Pada Kamis (10/9/2026) telah terjadi percobaan bunuh diri yang dilakukan seorang mahasiswa kedokteran di Universitas Brawijaya. Mahasiswa FKUB ini melakukan tindakan melompat dari lantai 6 gedung Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK). Beruntung mahasiswa tersebut selamat dan kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit. (kompas.id 10/9/2026)

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya Minggu (6/9/2026) telah ditemukan jenazah di area Gelora Bung Karno pada dini hari. Dugaan sementara adalah tindakan bunuh diri karena selain ditemukan cairan yang dicurigai sebagai penyebab kematian, juga karena akumulasi berbagai masalah pribadi yang terlihat di ungahan media sosialnya. (kompas.id 10/9/2026)

Dua kasus tersebut bukanlah peristiwa tunggal, namun harus menjadi alarm yang tidak boleh diabaikan. Berdasarkan data healing119.id yang merupakan layanan hotline pencegahan bunuh diri di bawah naungan Kementerian Kesehatan, tercatat klien generasi muda rentang usia 21 hinga 30 tahun mendominasi penggunaan layanan ini. Fakta ini menunjukkan secara jelas bahwa krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda, generasi yang digadang-gadang sebagai bonus demografi dan penopang masa depan.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi adalah rasa kesepian. Kesepian kini tidak lagi identik dengan kesendirian fisik. Seringnya kesepian ini justru hadir di tengah keramaian, di tengah kebisingan metropolitan, bahkan di tengah linimasa media sosial yang tidak pernah sunyi. Fenomena ini menjadi potret kelam yang mengancam generasi muda. Generasi ini seakan hidup di zaman terhubung secara digital namun terputus secara emosional.

Jika ditelisik lebih dalam, kesepian yang berujung keputusasaan ini memiliki akar yang sistematis. Pertama, pengaruh sekularisme terhadap pengikisan akidah generasi. Tidak bisa dipungkiri kekuatan iman yang berdasar pada akidah merupakan pegangan hidup setiap individu. Ketika iman melemah, kesulitan dan ujian hidup yang sejatinya bersifat sementara justru dinilai sebagai masalah permanen dan berujung pada keputusasaan.

Kedua, efek kapitalisme yang membawa masyarakat pada kehidupan yang individualistik. Sistem ini membawa kondisi kompetisi yang tidak sehat. Setiap orang didorong untuk berjuang sendiri, mengejar indikator kesuksesan individual berupa materi, prestasi akademik, jabatan, dan sebagainya. Bahkan kondisi ini diperparah oleh budaya toxic positivity dimana media sosial hanya menampilkan kehidupan yang selalu tampak bahagia, produktif, dan sukses. Generasi muda secara tidak langsung dipaksa untuk menjadikan kehidupan yang ditampilkan di sosial media sebagai standar kebahagiaan. Akibatnya, saat tidak terpenuhi maka akan berimbas pada kondisi stabilitas mental mereka sendiri. Secara materi mungkin terpenuhi dengan baik, namun batinnya mengalami kekeringan empati dan support.

Ketiga, peran negara yang abai. Ini jelas merupakan pengaruh dari sistem yang dianut negara ini, yaitu sekularisme-kapitalis. Negara fokus melayani rakyat hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur fisik, tapi lalai membangun infrastruktur jiwa generasi mudanya. Pendidikan tanpa kurikulum dan orientasi yang jelas, serta layanan kesehatan mental yang minim dan tidak merata. Ketika negara absen, generasi dibiarkan tumbuh dalam sistem yang keras tanpa jarring pengaman.

Islam membangun akidah sebagai benteng terkuat dan mendasar bagi setiap individu sejak dini. Keyakinan bahwa setiap ujian dan kesulitan datang dari Allah SWT dan hukum haram untuk tindakan bunuh diri akan menjadi rem kuat setiap individu dalam menghadapi keputusasaan. Selain itu Islam membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat secara nyata sehingga dapat menghindarkan kesepian yang berujung pada keputusasaan.

Negara yang menerapkan sistem islam secara kaffah akan membuat kebijakan pendidikan yang berlandaskan akidah dan ekonomi islam yang menjamin kesejahteraan. Solusi dari masalah kesehatan mental generasi muda ini tidak bisa diselesaikan dengan sistem negara saat ini yang yang sekedar memberi motivasi. Diperlukan perubahan yang komprehensif seperti revitalisasi nilai iman dan perubahan total dari ekonomi yang individualistik menuju ekonomi yang taat syariat dan penuh keberkahan. Negara hadir secara nyata dengan semua kebijakan yang berfokus pada pelayanan masyarakat secara umum.

 Wallahu a’lam.
×
Berita Terbaru Update