Oleh Maryatiningsih
Aktivis Dakwah
Nusantaranews.net, Momen Maulid setiap tahun selalu dirayakan
oleh umat Islam, khususnya di Indonesia.
Dikutip dari sindonews.com, Minggu,
(23/8/2026) Kementerian Agama RI memberikan sambutan pada Bulan Rabiul awal tahun
1448 Hijriah. Pihaknya mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru
negeri Indonesia untuk bersalawat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. ini, digelar
melalui blissful mawlid 1448 H. Salah satu acaranya adalah Gema Salawat Kebangsaan”,
yakni gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat pencintaan kepada
Rasulullah Muhammad saw..
Respon masyarakat sangat antusias dalam menyambut Maulid Nabi, mereka membacakan salawat, bukan hanya satu kali bahkan sampai sebulan penuh diadakan safari maulid. Dengan menggemakan salawat-salawat setiap malamnya dan tabligh akbar secara besar-besaran. rri.co id, (22/8/2026)
Di mana-mana diadakan perayaan Maulid Nabi, hanya saja substansinya berhenti di ritual emosional saja. Ittiba' kepada Nabi saw. yang masyarakat pahami masih sebatas ritual saja, masih sebatas meneladan akhlak. Tidak ada sentuhan ajakan untuk mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem yang sahih, yakni sistem Islam. Penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu masih menjadi prioritas utama saat ini, terutama di kalangan berduit atau kalangan yang memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Di kalangan umat Islam tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul. Namun, arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah saw.. Bahkan, masyarakat masih salah kaprah memaknai istilah jihad dan dakwah. Padahal, kedua aktivitas tersebut di atas, sangat familiar di masa perjuangan Beliau.
Antusiasme masyarakat dalam mengekspresikan kecintaan kepada Nabi saw. tanpa konsekuesi ideologis. Padahal cinta kepada Rasulullah seharusnya mampu melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa. Bukan sekedar seremonial belaka. Apalagi melihat kondisi negeri saat ini sangat memprihatinkan, Krisis terjadi di seluruh aspek kehidupan, termasuk yang krusial yaitu krisis keimanan. Akibatnya, kemaksiatan dan kezaliman merajalela di mana-mana.
Kondisi umat saat ini kehilangan kesadaran akan hubungannya dengan Allah Swt. atau istilahnya belum terwujud “Idrak silah billah “ Karena umat masih banyak yang menghambakan dirinya kepada selain Allah Swt. Parahnya lagi ketidaksadaran ini dilakukan secara sistemik. Kapitalisme dan liberalisme yang menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup, sehingga ketika semua kenikmatan dunia itu hilang yang terjadi rusak mental masyarakat. Hal ini berpengaruh terhadap melonjaknya kriminalitas di tengah masyarakat, seperti: kasus bunuh diri, korupsi, bullying, pembunuhan, dll. Pelakunya merasa seolah-olah tidak bersalah atau berdosa, yang penting keinginannya tercapai.
Semua permasalahan ini akar penyebabnya adalah sistem yang diterapkan saat ini, yaitu sistem Kapitalis. Yakni sebuah sistem yang berasal dari buah pikiran manusia. Sementara manusia adalah mahluk yang lemah dan terbatas, bahkan tidak mampu menentukan nasibnya sendiri.
Kapitalisme selalu berupaya mempertahankan eksistensinya. Para pemujanya akan terus berusaha menghalangi suara kebangkitan Islam yang menuntut perubahan sistem. Mereka akan terus dengan upaya yang keras menghambat, menghalangi dan membungkam serta membuat cara agar umat Islam tidak berdaya. Umat Muslim saat ini digiring hanya tunduk dan patuh pada sistem sekuler, bukan kepada Sang Khaliq, yang telah menciptakan langit dan bumi serta seisinya.
-Pertama, mengembalikan makna ittiba' sebagai
keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi Saw,, bukan sekedar ritual,
seperti yang ditegaskan di dalam surat Ali Imran ayat 31 yang artinya, “Katakanlah
(Muhammad) jika kamu mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu
dan mengampuni dosa-dosamu, Allah maha pengampun, lagi Maha Penyayang."
Wallahualam bissawab.
