Muslimah Peduli Generasi
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir mengungkap rencana untuk mengeluarkan 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam waktu tujuh tahun dengan dalih "migrasi sukarela". Ia juga menyerukan niatnya untuk membuat sinagoge atau kuil Yahudi di dalam komplek Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. (CNNIndonesia.com, 1/9/2026).
Hal ini jelas sebuah pelanggaran terang-terangan terhadap status quo Al-Aqsa. Politikus sayap kanan tersebut telah beberapa kali melakukan upaya provokatif serupa. Ben-Gvir melakukan doa dan ritual Talmud di bagian Timur halaman kompleks masjid. Sejak 2003, polisi Israel mengizinkan para pemukim melakukan aksi masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa setiap hari, kecuali pada Jumat dan Sabtu. Sementara umat Muslim kerap dibatasi untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsa, terutama warga Palestina. Bahkan tahun ini mereka mencegah pelaksanaan salat Idulfitri dan hanya mengizinkan 10.000 warga Palestina dari Tepi Barat untuk melakukan salat Jumat pertama Ramadhan. Pemerintah zionis Israel tengah menyiapkan rencana pemindahan warga Palestina, tetapi masih menunggu persetujuan Amerika Serikat.
Di Tepi Barat, pemukim zionis berupaya menerobos dan membakar sebuah masjid, serta mencoretkan slogan bernada rasis dan ancaman terhadap warga Palestina. Semua ini memperlihatkan adanya upaya sistematis untuk mengubah kondisi dan identitas wilayah Palestina. Tidak hanya ancaman militer atau keamanan, tetapi juga tanah, tempat tinggal dan simbol-simbol penting umat Islam. Hal ini bukan hanya konflik antara dua pihak, namun adanya dukungan politik dari kekuatan besar yaitu Amerika Serikat.
Rencana Israel yang akan membangun sinagoge di kawasan masjid Al-Aqsa dan membiayai pemukiman ilegal Israel di kompleks masjid Al-Aqsa merupakan wujud provokasi berkelanjutan dan bentuk penjajahan yang semakin brutal dan tidak menghormati hukum internasional.
Sebagai umat Islam kita tidak boleh diam, Palestina tidak boleh dibiarkan sendirian untuk menghadapi kekuatan besar tersebut. Umat Islam saat ini ibarat buih di lautan, jumlahnya banyak namun tidak memiliki kekuatan. Kita dipisah oleh sekat nasionalisme sehingga membuat masing-masing kita disibukkan oleh masalah negara sendiri-sendiri. Berharap pada lembaga dunia internasional juga percuma, karena belum ada satu lembaga apa pun yang dapat menghentikan penyerangan serta genosida terhadap Palestina apalagi membebaskannya.
Hukum internasional lahir dari tatanan politik dunia yang didominasi oleh kekuatan Barat seringkali hanya berakhir pada kecaman dan diplomasi, yang tidak merubah apa pun. Bahkan kondisi Palestina semakin memburuk. Penggunaan istilah "migrasi sukarela" dapat membuat praktek pemindahan penduduk seolah-olah dilakukan atas pilihan mereka sendiri. Padahal ini adalah sebuah tekanan dan paksaan.
Butuh Kepemimpinan Islam
Palestina dan dunia merindukan dan membutuhkan kepemimpinan Islam untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup yang terjadi saat ini. Dalam Islam, negara merupakan junnah, yaitu perisai yang melindungi umat dari segala kezaliman dan marabahaya. Rasulullah saw bersabda:
"Imam (Khalifah) adalah perisai, dibelakang dia kaum muslimin berperang, dan berlindung." (HR Bukhari Muslim).
Kepemimpinan Islam atau khilafah berfungsi menyatukan kaum Muslim di seluruh dunia dan menghapus sekat nasionalisme. Ketika umat bersatu maka kekuatan politik, ekonomi, pertahanan dapat terhimpun. Himpunan kekuatan inilah yang akan mampu menjadikan negara Islam mandiri dan berdaulat. Persatuan umat Islam dibawah kepemimpinan Islam akan menjadikan umat Islam memiliki kemampuan untuk menghadapi segala tekanan politik dan ancaman eksternal.
Negara Islam memiliki politik luar negeri yaitu dakwah dan jihad. Jihad merupakan thariqah/ cara yang ditempuh negara untuk membebaskan negeri-negeri Muslim yang terjajah. Pelaksanaannya di bawah kewenangan negara bukan individu atau kelompok.
Khilafah sebagai satu kekuatan mandiri, akan memutus total ketergantungan ekonomi -politik dengan negara-negara yang mensponsori penjajahan terhadap Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya. Negara Islam juga akan mengonsolidasikan sumber daya (termasuk kepemilikan umum seperti minyak dan gas di dunia Islam) sebagai fondasi kekuatan militer- ekonomi independen untuk mendukung upaya pembebasan Palestina.
Jihad adalah bagian dari ajaran Islam untuk melawan orang kafir dalam menegakkan agama Allah. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 2 :
"Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian."
Persatuan umat Islam dan kepemimpinan Islam merupakan kebutuhan kita yang harus diperjuangkan. Khilafah adalah janji Allah dan bisyarah Rasulullah saw. Sejarah membuktikan bahwa ketika Islam diterapkan segala penjajahan dapat dihapuskan dan kesejahteraan dapat terwujud. Mari kita renungkan firma Allah SWT berikut ini, " Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah, bagi orang-orang yang yakin?" (QS Al-Maidah :50)
Inilah saatnya kita menunjukkan kepedulian dan keberpihakan kita terhadap Palestina, terus suarakan kondisi mereka, bantu doa dan ikut dalam perjuangan penegakan khilafah. Sebagai bentuk keimanan yang benar kepada Allah SWT dan RasulNya, maka kita juga wajib menyerukan kepada pemimpin Muslim untuk mengganti loyalitas mereka kepada musuh Islam menjadi kepada syari'at Allah. Wallahua'lam bishawab.
