Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Memaknai Self Reward dalam Pandangan Islam

Wednesday, September 09, 2026 | September 09, 2026 WIB Last Updated 2026-09-10T01:08:00Z






Oleh: Ernawati Rukmana

​Dikutip dari money.Kompas.com, anak muda saat ini ketika tanggal gajian tiba, notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda.

​Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya mulai membuka keranjang belanja daring yang sudah terisi sejak beberapa hari sebelumnya. Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang viral, menonton film di bioskop, hingga berburu tiket konser.

​Fenomena seperti ini kini menjadi hal yang lumrah di media sosial. Kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self reward, little treat, hingga "healing tipis-tipis". Bagi sebagian orang, pengeluaran semacam ini kerap dianggap sebagai bentuk pemborosan.

​Fakta di lapangan menunjukkan bahwa generasi Z (Gen Z) sering kali berada di posisi dilematis. Di tengah tekanan ekonomi yang sulit dan beban angsuran yang melilit, gaya hidup konsumtif seperti di atas tetap saja berjalan.

​Meski tampak boros, bagi Gen Z hal ini tidak sepenuhnya tanpa pertimbangan. Banyak dari mereka yang menyadari tertekannya daya beli saat ini. Pembelian dalam partai besar akhirnya ditunda, lalu dialihkan dengan berburu promo atau diskon agar tetap bisa menyisihkan uang. Tak sedikit pula yang mulai berinvestasi dalam bentuk emas, tanah, maupun rumah.

​Bagi mereka, pengalaman berbelanja dijadikan sebagai cara untuk menjaga kesehatan mental—dengan catatan tetap ada kendali diri. Merek menginginkan kualitas hidup, bukan sekadar hura-hura. Uang yang dihasilkan harus memiliki tujuan yang jelas, tanpa mengabaikan kesempatan untuk tetap menikmati hidup.
​Namun, di bawah naungan sistem kapitalisme, kebutuhan hidup terasa terus meningkat. Generasi muda dituntut memiliki skill, pengalaman kerja, pendidikan, investasi, usaha, rumah, hingga tabungan. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi kepastian ekonomi saat ini. Akibatnya, kita dituntut bekerja sangat keras hingga hidup terasa seperti perlombaan mengejar dunia yang garis finisnya tak pernah terlihat.
​Kondisi ini rentan memicu krisis tujuan hidup. Pada hakikatnya, manusia memiliki banyak keinginan dan tidak pernah merasa puas. Namun di sisi lain, manusia juga kerap bingung akan hakikat keberadaan dirinya. Jawaban atas kebingungan tersebut sebenarnya satu: manusia harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini tersirat dalam Al-Qur'an:

​"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas [28]: 77)

​Melalui ayat tersebut, kita diperbolehkan menikmati hidup sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, dengan catatan tidak berlebihan. Hidup harus memiliki standar yang jelas, yaitu batas halal dan haram sesuai hukum syariat, demi meraih keridaan Allah SWT agar setiap perbuatan kita bernilai ibadah.

​Perlu dipahami bahwa ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan, tidak terbatas pada salat, puasa, dan zakat saja. Ibadah adalah bentuk penghambaan diri kepada Allah secara menyeluruh. Sebagai contoh, seorang suami yang bertanggung jawab mencari nafkah halal untuk anak dan istrinya—baik melalui wiraswasta, menjadi ASN, maupun pegawai swasta—dengan tetap mematuhi aturan-aturan Allah.

​Dari sini terlihat bahwa Gen Z boleh saja memiliki cita-cita yang tinggi, berbelanja sesuai kebutuhan, dan menikmati rezeki dari Allah SWT (minnallah). Syarat utamanya adalah tidak sombong dan lupa daratan, sebab kehidupan dunia ini hanyalah sementara.
​Pada akhirnya, yang dicari bukanlah validasi atau pujian manusia, bukan pula sekadar pelarian berupa healing yang justru menumpuk masalah. Dalam pandangan Islam, hiduplah sesuai aturan Allah agar dapat mengemban amanah dengan benar. Rezeki adalah pemberian Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.

​Dengan memahami tujuan hidup dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, kita tidak akan mudah stres dalam mengarungi kehidupan. Hiduplah sesuai kemampuan, tinggalkan pola pikir kapitalisme yang konsumtif, dan kembalilah kepada sistem Islam yang menyeluruh.

​Wallahu a'lam bish-shawab.
×
Berita Terbaru Update