Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Masa Kecil Dirampas, Jangan Biarkan Dunia Berpaling

Thursday, September 10, 2026 | September 10, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T19:09:52Z
 


Oleh. Ummu Nazba 
Muslimah Peduli Ummat

Nusantaranews.net, masa kanak-kanak seharusnya menjadi waktu untuk belajar, bermain, mendapatkan kasih sayang, dan tumbuh dalam rasa aman bersama keluarga. Namun, kenyataan yang dihadapi ratusan anak Palestina justru jauh dari gambaran tersebut. Penahanan dan ketidakpastian telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kabar mengenai sekitar 370 anak Palestina yang masih berada dalam tahanan Israel kembali menunjukkan betapa berat beban yang harus mereka tanggung. Mereka bukan sekadar angka yang tercantum dalam berita, tetapi anak-anak yang memiliki orang tua, keluarga, impian, serta masa depan yang seharusnya mereka nikmati.

Sebagaimana dilansir Antara News, hingga Agustus 2026 terdapat sekitar 370 anak Palestina yang dilaporkan masih ditahan di penjara Israel. Sebagian di antaranya disebut berada di Penjara Megiddo dan Ofer, di tengah ribuan warga Palestina lainnya yang mengalami penahanan. Kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius. Sebab, ketika seorang anak kehilangan kebebasannya, bukan hanya dirinya yang merasakan penderitaan. Keluarga turut mengalami luka, sementara masa depan generasi mereka juga ikut dipertaruhkan.

Dampak penahanan terhadap anak tidak berhenti pada hilangnya kebebasan secara fisik. Anak membutuhkan lingkungan yang aman agar dapat berkembang secara sehat, memperoleh pendidikan, dan membangun kepercayaan terhadap dunia di sekitarnya. Ketakutan, perpisahan dari keluarga, serta ketidakjelasan mengenai masa depan dapat meninggalkan dampak yang panjang dalam kehidupan mereka. Bagi seorang ibu, menyaksikan anak berada dalam kondisi demikian tentu merupakan penderitaan yang mendalam. Hal-hal sederhana seperti melihat anak pulang ke rumah, bersekolah, bermain, dan berkumpul bersama keluarga menjadi sesuatu yang justru harus mereka rindukan.

Islam menempatkan anak sebagai amanah yang wajib dilindungi dan dijaga. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku ketika keadaan aman, tetapi juga ketika terjadi peperangan dan konflik. Anak-anak tidak boleh dijadikan sasaran kekerasan maupun diperlakukan secara semena-mena. Syariat Islam menetapkan batas-batas dalam peperangan dan memberikan ketentuan mengenai bagaimana manusia harus diperlakukan, termasuk terhadap mereka yang menjadi tawanan.

Sejarah Islam memperlihatkan bahwa perlindungan terhadap manusia dalam peperangan bukan sekadar teori. Pada masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin, terdapat larangan untuk membunuh perempuan dan anak-anak dalam peperangan. Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq juga memberikan pesan kepada pasukannya agar tidak membunuh anak-anak, perempuan, maupun orang-orang lanjut usia. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan dan kemenangan dalam peperangan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan batas-batas kemanusiaan.

Demikian pula dalam persoalan tawanan perang. Dalam sejumlah peristiwa pada masa Rasulullah saw., tawanan tetap diperlakukan dengan mempertimbangkan kehormatan dan kebutuhan dasar mereka. Mereka mendapatkan makanan serta perlakuan yang layak, dan sebagian di antaranya memperoleh kesempatan untuk dibebaskan melalui ketentuan yang berlaku. Al-Qur'an bahkan memuji orang-orang beriman yang memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, termasuk tawanan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap manusia tetap memiliki tempat, bahkan ketika berada dalam kondisi konflik.

Prinsip Islam tersebut tentu bertentangan dengan menjadikan anak-anak sebagai instrumen tekanan atau sarana untuk mencapai kepentingan tertentu. Kekuasaan seharusnya digunakan untuk melindungi kehidupan, kehormatan, dan keamanan manusia, bukan justru menambah penderitaan mereka.

Oleh sebab itu, penderitaan anak-anak Palestina semestinya menggugah kepedulian umat Islam untuk terus menyuarakan keadilan, memberikan bantuan kepada para korban, memperkuat solidaritas, serta mendorong para pemimpin Muslim mengambil langkah nyata dalam membela dan melindungi rakyat Palestina.

Kepedulian terhadap Palestina juga tidak semestinya hanya muncul ketika isu tersebut sedang menjadi perhatian publik. Solidaritas harus dibangun secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari kesadaran umat terhadap kewajiban membela orang-orang yang tertindas. Para pemimpin di negeri-negeri Muslim memiliki peran penting untuk memperkuat persatuan, memperjuangkan keselamatan warga sipil, serta memanfaatkan berbagai jalur diplomasi, politik, dan kemanusiaan untuk mengupayakan berakhirnya penderitaan rakyat Palestina.

Bagi seorang ibu, penderitaan anak-anak Palestina seharusnya mudah dipahami melalui naluri kemanusiaan yang paling sederhana. Setiap ibu tentu ingin melihat anaknya tumbuh sehat, memperoleh pendidikan, mendapatkan pelukan ketika merasa takut, dan memiliki kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya. Keinginan yang sama juga dimiliki oleh para ibu Palestina. Anak-anak mereka berhak mendapatkan kehidupan yang aman, pendidikan yang layak, serta masa depan yang tidak terus dibayangi kekerasan dan penindasan.

Maka, sekitar 370 anak Palestina tersebut tidak seharusnya hanya menjadi angka yang berlalu dalam pemberitaan. Di balik setiap angka terdapat seorang anak dengan kehidupan, keluarga, harapan, dan impian. Kondisi mereka semestinya mengingatkan kita bahwa nilai-nilai keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia harus diwujudkan secara nyata, terutama terhadap mereka yang berada dalam posisi lemah.

Umat perlu terus menumbuhkan kepedulian, memperkuat persatuan, serta memperjuangkan keadilan melalui cara-cara yang damai, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai kemanusiaan. Pada saat yang sama, kesadaran untuk menjadikan hukum Allah sebagai pedoman kehidupan perlu terus dibangun. Ketika keadilan, perlindungan terhadap yang lemah, dan penjagaan jiwa benar-benar ditempatkan sebagai nilai utama, maka harapan akan lahirnya generasi yang hidup dalam kemuliaan dan kemanusiaan akan tetap terjaga.

Wallahu a'lam bish-shawab.

×
Berita Terbaru Update