Tsabita (Pegiat Literasi)
Palestina merupakan tempat yang Istimewa bagi umat Islam. Tanah yang memiliki sejarah panjang dan tempat lahirnya peradaban. Namun melihat kondisi Palestina saat ini sangat memprihatinkan. Zionis masih bebas menyiksa kaum muslim di sana. Rumah rumah dihancurkan, anak anak yang tak berdosa pun ikut jadi korban. Masa kanak anak yang seharusnya tumbuh dalam keceriaan dan rasa aman justru menghadapi ketakutan.
Dilansir dari WWW.AntaraNews.Com (14/8/2026), Data dari Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan tahun 2019, kasus penangkapan anak-anak Palestina oleh militer Israel telah melampaui angka 50.000 sejak tahun 1967. Sekitar 370 anak Palestina saat ini dipenjara oleh Zionis Israel, sebagian besar ditahan di Penjara Megiddo dan Ofer. Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy, menyebut 370 anak tersebut menjadi bagian dari lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus 2026.
Masa depan anak Palestina terancam. Selain menghadapi kekerasan fisik, mereka juga ikut dipenjara dan diperlakukan dengan buruk. Penangkapan anak di bawah umur adalah bagian dari kebijakan sistematis Zionis Israel untuk menghancurkan masa depan anak-anak sebagai strategi mereka dalam menekan dan mengintimidasi perlawanan rakyat Palestina.
*Nasib Anak Palestina di Sistem Kapitalis-Sekuler Versus Islam*
Berbeda dengan sistem Kapitalis-Sekuler saat ini, dalam Islam, anak anak memiliki hak perlindungan, kasih sayang, dan masa depan yang layak. Oleh karena itu kezaliman ini tak boleh terus dibiarkan. Penderitaan yang dialami anak anak Palestina seharusnya membangkitkan kaum muslim untuk segera menolong mereka. Namun negeri-negeri muslim semakin jauh dari semangat membela Palestina, rasa tanggung jawab hanya sebatas negara masing-masing.
Alih-alih menyatukan kekuatan, di tengah warga Palestina porak poranda bertahan hidup di tengah penjajah, negeri-negeri muslim fokus menjalin hubungan bilateral dengan penjajah. Negeri-negeri muslim semakin jauh dari semangat membela Gaza. Nasionalisme telah membatasi rasa tanggung jawab hanya sebatas negara masing-masing. Melemahkan solidaritas terhadap Palestina. Bukannya menyatukan kekuatan, di tengah warga Palestina porak poranda bertahan hidup di tengah penjajah, negeri-negeri muslim fokus menjalin hubungan bilateral dengan penjajah.
*Islam Solusi Masa Depan Anak Palestina*
Persoalan Palestina merupakan persoalan seluruh umat muslim. Umat muslim tidak tersekat sekat melainkan bersatu layaknya satu tubuh. Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi, bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (ikut merasakannya).” (HR.Bukhari dan Muslim)
Jelaslah Rasulullah memberikan gambaran bahwa ketika melihat saudara kita yang mengalami penderitaan, seharusnya hati kita tergugah, seperti tubuh yang ikut gelisah saat ada luka di salah satu bagiannya.
Segala bentuk intimidasi dan ancaman Zionis tidak boleh menyurutkan perjuangan pembebasan Palestina. Allah SWT. Berfirman: “ Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”.(QS. Ali Imran 3:103)
Kejahatan Israel tak bisa ditolerir dengan jalan damai. Kerusakan yang dilakukan telah melampaui batas kemanusiaan dan harus dihentikan dengan jihad oleh tentara kaum muslimin.
Allah SWT. berfirman: “janganlah kalian lemah dan meminta untuk berdamai, padahal kalian lebih unggul (di atas mereka). Allah pun bersama kalian dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amal kalian. (Q.S. Muhammad:35)
Palestina merupakan tanah milik kaum muslimin sejak masa khalifah Umar Bin Khattab. Maka haram diserahkan oleh penjajah Zionis Yahudi. Maka yang seharusnya dilakukan kaum muslimin adalah mengusir Zionis Yahudi dari Bumi Palestina, bukan berdamai, apalagi bekerja sama untuk melucuti senjata para pejuang Islam di Gaza.
Allah SWT. telah membolehkan umat Islam untuk mempertahankan diri, harta dan negara mereka dari serangan musuh. Allah SWT. Berfirman: “ telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa untuk menolong mereka itu”. (Q.S. Al-Hajj:39)
Oleh karena itu umat muslim diperintahkan untuk mengusir dan memerangi musuh yang hendak merampas hak dan menyerang mereka. Perintah berjihad untuk mengusir musuh bukan saja berlaku bagi penduduk yang terjajah, tetapi juga bisa meluas bagi kaum muslim di sekitarnya. Saikh Said Bin Ali Wahf Al-Qathani dalam kita Al-Jihad fisabilillah menyatakan, “jika musuh telah memasuki salah satu negeri kaum muslim maka fardhu’ain atas penduduk negeri tersebut untuk memerangi musuh dan mengusir mereka. Juga wajib atas kaum muslim lain untuk menolong negeri itu jika penduduknya tidak mampu mengusir musuh. Hal itu dimulai dari yang terdekat , kemudian yang terdekat.” (Al-Qathani, Al-Jihad fi sabilillah Ta’ala, hlm.7, Maktabah Syamilah)
Anak Palestina membutuhkan sosok Pahlawan Islam seperti Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis dari tangan penjajah. Sosok Salahuddin menjadi pengingat bahwa umat membutuhkan pemimpin yang mampu melindungi dan berjuang demi kepentingan Islam. Maka satu satunya jalan untuk menghentikan berbagai permasalahan dan penderitaan yang terjadi di Palestina yaitu dengan bersatunya kaum muslimin dibawah kepemimpinan Islam kaffah. Wallahu a’lam bishawaab.
