Oleh : Sarah (Mahasiswi Telkom)
Dilansir dari KOMPAS.com - Tanggal gajian tiba. Notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya.
Hal seperti itu kini menjadi hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan.
Sebagian besar generasi muda, khususnya Gen Z, saat ini berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi yang cukup berat. Rasa cemas terhadap kondisi keuangan pribadi kian memuncak, hingga lebih dari separuh dari mereka merasa tidak memiliki pijakan finansial yang aman untuk masa depan. Tekanan dari tingginya biaya hidup serta sulitnya mencapai stabilitas ekonomi kerap menimbulkan beban mental tersendiri bagi generasi ini dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Uniknya, di tengah keterbatasan anggaran dan kecemasan tersebut, pengeluaran untuk kesenangan pribadi justru menunjukkan tren pengetatan yang minim. Aktivitas seperti self-reward, healing, hingga pemenuhan gaya hidup tidak lagi dipandang sebagai bentuk pemborosan atau kemewahan semata, melainkan telah bergeser menjadi kebutuhan emosional yang krusial. Konsumsi ini difungsikan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kesehatan mental di tengah gempuran tekanan hidup yang terus membayangi.
Sistem kapitalisme yang berjalan saat ini kian menghimpit kehidupan Gen Z melalui ketimpangan ekonomi yang nyata. Di satu sisi, kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup terjadi begitu cepat, sementara di sisi lain tingkat pendapatan relatif tak bergerak. Kondisi ini diperparah oleh minimnya peran negara dalam menjamin penyediaan kebutuhan dasar masyarakat, sehingga generasi muda seolah dibiarkan berjuang sendirian di tengah gelombang ketidakpastian finansial.
Beban ekonomi tersebut makin berlipat ganda akibat dominasi pemikiran sekuler-liberal yang memengaruhi gaya hidup masyarakat. Konsep self-reward, healing, hingga perilaku konsumtif yang berlebihan kerap dijadikan ajang pelarian instan untuk melepaskan stres. Dampaknya kian masif ketika media sosial gencar mempromosikan tren populer yang memicu kepanikan sosial (fear of missing out) dan mendorong budaya belanja tanpa perhitungan matang.
Di balik fenomena ini, terdapat persoalan mendasar berupa krisis pemaknaan hidup di kalangan Gen Z. Ketika tujuan hidup tidak lagi berlandaskan pada pencarian ridha Allah dan penerapan nilai-nilai Islam, kebahagiaan pun bergeser dan diukur sebatas pada kenikmatan materi serta kepuasan fisik semata yang sifatnya sementara.
Melalui mekanisme pengelolaan sumber daya alam secara mandiri dan berorientasi publik, sistem Khilafah hadir untuk menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan dasar rakyat secara merata. Negara tidak hanya berperan sebagai regulator, melainkan bertanggung jawab penuh dalam menyediakan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki sebagai penanggung jawab utama keluarga. Dengan jaminan sosial dan kepastian ekonomi dari negara ini, generasi muda termasuk Gen Z tidak perlu lagi berjuang sendirian dalam menghadapi ketidakpastian finansial.
Di samping perlindungan ekonomi, Islam juga membentengi masyarakat dari dominasi gaya hidup hedonis dan konsumtif. Negara mengambil peran aktif dalam menyaring serta membatasi penyebaran ide-ide sekuler-kapitalistik yang berpotensi merusak moral generasi. Media massa dan sarana informasi akan diarahkan sepenuhnya sebagai instrumen edukasi publik yang berfokus pada pembentukan kepribadian Islami serta peningkatan ketakwaan seluruh warga negara.
Seluruh tatanan ini bermuara pada pembentukan paradigma hidup yang mendasar, yakni pemahaman bahwa hakikat penciptaan manusia semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Berbekal fondasi akidah yang kokoh, Gen Z tidak lagi mengukur kebahagiaan dari materi sesaat, melainkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki visi besar, berjiwa tangguh, dan siap berkontribusi aktif sebagai pembangun kembali peradaban Islam.
