Oleh : Ruji'in (Relawan Opini Andoolo, Sulawesi Tenggara)
Setiap tahun, memasuki bulan rabiulawal umat muslim menyambut dengan tema salawat yang membahana diberbagai penjuru negeri. Mereka sangat antusias dalam mengadakan berbagai bentuk kegiatan seperti tabligh akbar, bacaan salawat, festival, pengajian, pawai obor dan berbagai seremoni tahunan sebagai pengekspresian rasa cinta kepada baginda nabi Muhamad SAW. Namun, momentum maulid seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial saja. Ditengah perayaan tersebut, ada satu renungan mendasar yang harus kita tanyakan pada diri kita: apakah rasa cinta ini sudah diwujudkan dengan meneladani metode perjuangan beliau secara sempurna? Atau kah seremonial maulid hanya menjadi ekstasi sesaat yang berulang setiap tahun tanpa ada perubahan bagi umat?
Bulan maulid bukan sekedar momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhamad SAW. Lebih dari itu, momen ini dapat menjadi pengingat bagi umat muslim untuk kembali menumbuhkan kecintaan kepada Rosulullah sekaligus meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Di kutib RRI. CO. ID, Jakarta (Jum'at, 21/8/2026).
Jadi cinta yang hakiki itu harus dibuktikan dengan mengikuti apa yang dibawa Rosulullah SAW Bukan sekedar terucap dilisan namun syariat ditinggalkan. ittiba' kepada Nabi SAW saat ini tidak dimaknai secara utuh, hanya sebatas keteladanan akhlak. Sehingga belum menyentuh kesadaran umat. Bahkan ekspresi cinta tanpa penerapan dalam aspek kehidupan itu bukan sebuah qudwah kepada baginda Rosulullah. Karena cinta kepada Rosulullah SAW itu akan melahirkan keterikatan pada risalah yang beliau emban. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Ali-Imran:31, yang artinya :" Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku" .
Bagi seorang muslim, Rosulullah SAW adalah uswah hasanah (teladan terbaik) dalam segala aspek kehidupan. Beliau tidak hanya mengajarkan dalam aspek segi ibadah, tetapi juga dari segi politik dan kepemimpinan. Ketegasan dan kewibawaannya telah tertulis bagaimana saat beliau berjuang menyampaikan risalah Islam dengan penuh kesungguhan. Selama dua puluh tiga tahun beliau berdakwah tidak pernah menjadikan jabatan dan harta sebagai tujuan. Saat Rosulullah SAW ditawarkan jabatan agar meninggalkan Islam, beliau langsung menolak. Bahkan jika matahari pun diletakkan ditangan kanannya dan bulan ditangan kirinya, beliau tidak akan meninggalkan Islam sampai Allah memberikan kemenangan. Justru beliau mengorbankan segala harta, tenaga, waktu, keluarga, bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Rosulullah SAW bukan hanya berkorban tetapi menghadapi rintangan dari arah musuh Islam. Mulai dari cacian, dilempari kotoran, tuduhan, propaganda, pengusiran bahkan pembunuhan. Tetapi hal itu tidak menjadikan beliau marah atau mengurungkan niat yang diemban. Oleh karena itu, meneladani Rosulullah SAW sebagai qudwah semestinya dapat mendorong masyarakat untuk melakukan perubahan perbaikan kehidupan secara menyeluruh diatas akidah Islam. Bukan hanya mencukupkan diranah Hablumminallah(hubungan dengan Allah) tetapi disemua aspek termasuk Hablumminannas (hubungan dengan manusia) dan habluminnanafsi (hubungan dengan diri sendiri).
Hal itu tidak terlepas dari arus sekularisme global yang berusaha menanamkan ide yang rusak dan menggiring umat untuk menyempitkan sosok keteladanan Nabi Muhamamad SAW. Beliau cukup hanya digambarkan sebatas pribadi yang baik dan pemimpin ritual ibadah. Padahal sesungguhnya Rosulullah SAW adalah seorang kepala negara, panglima perang, pemimpin yang adil serta pemimpin politik yang telah berhasil merubah peradaban yang gelap jahiliyah menuju kepada cahaya kemuliaan Islam. Hal itu telah tertulis dalam sejarah tinta emas pada masa kekhalifahan. Alhasil yang terjadi saat ini agama dijauhkan dari negara, riba dilegalkan, kritik dianggap ancaman, kemaksiatan diberi panggung, kemiskinan semakin berkembang biak dan umat dibungkam dengan kata sabar dan tawakal. Namun, umat seharusnya tidak berlindung dibalik kata sabar, sehingga harus mendiamkan segala keburukan. Umat memiliki ranah pilihan ikhtiar dibalik kezaliman. Berfikir Kritis adalah sebuah pilihan untuk menggugah perubahan. Sebagimana yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW ketika beliau pertama berdakwah adalah merubah pemikirannya (mindset) dengan akidah Islam.
Sudah 1400 tahun umat merayakan Maulid, tetapi kondisi masih tetap seperti ini bahkan mengalami keterpurukan. Mulai dari kemiskinan yang terstruktur, hancurnya keluarga hingga terbantainya saudara kita dibelahan dunia. Dimana mereka sangat membutuhkan solusi dan persatuan kita untuk menghancurkan dinding yang tebal yaitu sekat-sekat nasionalisme yang telah mendarah daging ditubuh kaum muslimin.
Dalam Islam, amanah adalah tanggungjawab yang harus dipenuhi dan hanya diberikan kepada orang yang terpercaya. Karena amanah dalam jabatan bukanlah sebuah perlombaan dan ajang untuk meraih kekayaan. Tetapi mengemban risalah dengan benar. Rosulullah SAW telah memberikan teladan yang luar biasa kepada umatnya. Bukan hanya masalah ritual dalam aspek ibadah saja tetapi juga bagaimana beliau memimpin menjadi kepala negara yang adil di Madinah. Meneladani Rosulullah SAW tidak cukup hanya dengan bacaan salawat saja tetapi juga harus ittiba' melalui risalah yang diemban yaitu Al-Qur'an dan as-sunah dengan menyeluruh. Kemudian melanjutkan misi beliau dengan mengemban risalahnya melalui dakwah. Di zaman moderen ini dakwah tidak hanya ceramah diimbar, bisa kita lakukan lewat konten, share media, menuangkan ide lewat media, menyolusikan lewat tulisan, lewat circle dan masih banyak lagi. Karena hari ini panutan umat sangat kritis, maka kita menjadikan vibes Rosulullah sebagai panutan yang direalisasikan dalam kehidupan. Bukan hanya sekedar pasang bio Islam, hafal salawat dan kelahirannya.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis ketika terjadi dialog antara orang-orang badui dan Rasulullah SAW, beliau mengatakan ketika engkau mencintai Allah dan rosul-nya maka engkau akan bersama-nya di Surga kelak. Sehingga membuat cemburu para sahabat Rosul ketika mendengar pemuda itu kelak disandingkan bersama Allah dan Rosul-nya. Pelajaran penting dari kisah ini adalah bukti cinta kepada Allah dan Rosulullah SAW bukan sekedar terucap di lisan, tetapi harus diyakini dalam hati kemudian dibuktikan melalui perbuatan berdasarkan dari risalah yang beliau emban.
Rasulullah SAW adalah qudwah utama dalam membangun perubahan peradaban. Dakwah beliau dimulai dengan tasqif(membina) keimanan dan kepribadian para sahabat, kemudian membangun hubungan dengan masyarakat hingga akhirnya terbentuknya masyarakat Islam di Madinah. Metode inilah yang dapat dijadikan arah untuk mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan yang komprehensif. Maka disetiap momentum maulid inilah bukan sekedar mengenang kelahiran Rosulullah, bukan hanya mencintai beliau dengan lisan tetapi mengikuti perjuangannya. Bukan hanya menghidupkan sunah dalam kehidupan pribadi tetapi juga berupaya menghadirkan Islam dalam kehidupan masyarakat. Karena cinta yang hakiki kepada robb nya akan melahirkan ittiba' yang akan mendorong umat untuk menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam kehidupan secara menyeluruh.
Waallahu'alam Bish-shawab.
