Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Entitas Zionis Israel Bangun Tembok Membelah Gaza

Tuesday, September 15, 2026 | September 15, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T00:53:27Z




Penulis: Nanih Nurjanah 
Komunitas Muslimah Coblong

Nusantaranews.net, militer Israel terus memperluas kendalinya di Jalur Gaza hingga ratusan meter melampaui apa yang disebut sebagai "Garis Kuning", sehingga meningkatkan wilayah di bawah penguasaannya menjadi sekitar 65 persen dari total keseluruhan wilayah Jalur Gaza. Berdasarkan investigasi harian Israel, Haaretz, yang merujuk pada citra satelit terkini, perluasan ini sebagian besar berupa pembangunan tanggul tanah dan sistem parit yang membentang sejauh beberapa kilometer ke dalam wilayah Gaza. Di Khan Younis, perluasan tersebut bahkan mencapai sekitar 400 meter melampaui garis di sepanjang Jalan Salah al-Din, sementara di Rafah, jaraknya meluas hingga sekitar 1.300 meter. Militer Israel secara bertahap menggeser penanda tersebut ke arah barat guna memperkokoh kontrol teritorial mereka.

Lebih dari itu, Israel diam-diam membangun tembok tanah raksasa sepanjang 23 kilometer yang membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Proyek yang dikonfirmasi melalui citra satelit dan dilansir oleh Associated Press ini melintasi sejumlah permukiman Palestina yang telah hancur dibombardir dan dulunya dihuni oleh lebih dari dua juta penduduk.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Gaza bukanlah sekadar konflik bersenjata biasa, melainkan sebuah bentuk penjajahan yang kian brutal. Saudara-saudara kita di Gaza kini dikurung di balik "tembok baru"—bukan sekadar pembatas keamanan, melainkan tembok kelaparan dan blokade kematian yang terencana. Rumah sakit kehabisan pasokan obat, kateter medis terpaksa dipakai berulang hingga puluhan kali, dan anak-anak kehilangan nyawa bukan hanya karena terjangan bom, melainkan akibat ketiadaan pasokan makanan yang layak. Di saat yang sama, para jurnalis dilarang masuk agar kejahatan kemanusiaan tersebut dapat tertutupi dari pandangan dunia.

Pembangunan tembok pemisah ini menegaskan ambisi Zionis Israel untuk menguasai seluruh wilayah Gaza tanpa sisa. Sejarah membuktikan bahwa Israel tidak akan pernah memberikan kemerdekaan yang hakiki kepada rakyat Palestina, betapapun dunia internasional menentangnya. Berbagai narasi propaganda seperti Board of Peace (BoP) atau konsep "New Gaza" hanyalah tipu daya yang menyesatkan, dan menaruh harapan kemerdekaan pada pengakuan entitas penjajah adalah sebuah kesalahan besar.

Ironisnya, negeri-negeri Muslim seolah hanya menjadi penonton di tengah panggung dunia tanpa mampu mengulurkan bantuan nyata. Padahal, Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 75: "Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas...?"

Ayat ini dengan tegas memerintahkan umat Islam untuk saling menolong tatkala ada saudaranya yang dizalimi. Kenyataan pahit ini menjadi bukti nyata bobroknya sistem kapitalisme-sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Al-Qur'an hari ini kerap direduksi sebatas ritual ibadah, sementara sekat-sekat nasionalisme kian menguat di negeri-negeri Muslim. Padahal, ikatan akidah Islam menuntut umat untuk bersatu bagaikan satu tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang, belas kasihan, dan cinta kasih mereka bagaikan satu tubuh; apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim).

Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh tertipu oleh berbagai propaganda negara kafir. Berdamai dengan entitas Zionis Israel adalah keharaman, sementara menegakkan jihad melawan penjajahan hukumnya adalah fardhu kifayah. Kapitalisme terbukti menjadi akar permasalahan karena segala sesuatunya diukur semata-mata dari materi, tanpa memperhitungkan dampak kehancuran dan jatuhnya korban jiwa.

Sebaliknya, dalam pandangan Islam, negara memiliki peran mulia bukan sekadar sebagai pengatur administratif, melainkan sebagai pelindung (ra'in) dan penegak syariat secara kaffah. Daulah Khilafah bukanlah negara sekuler, monarki absolut, ataupun republik liberal, melainkan institusi kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam yang bertugas menerapkan hukum Allah dan mengemban risalah dakwah. Negara berfungsi menjaga umat dari berbagai pemikiran rusak seperti sekularisme, liberalisme, dan zionisme, serta berpegang teguh pada firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 59: "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), serta Ulil Amri di antara kamu."

Peran pertahanan dalam sistem Islam menjadi aspek paling krusial, khususnya dalam merespons penderitaan di Gaza. Negara Islam memiliki tiga pilar pertahanan utama: pertama, memiliki tentara yang tidak hanya berfungsi menjaga keamanan dalam negeri, melainkan siap siaga menjaga perbatasan dan membebaskan negeri-negeri Muslim yang dijajah; kedua, mewajibkan pengiriman pasukan jihad ketika wilayah seperti Baitulmaqdis, Rohingya, atau Uyghur diserang; dan ketiga, membangun kemandirian industri militer tanpa harus bergantung atau mengimpor senjata dari pihak musuh.

Tanpa adanya negara yang menerapkan Islam secara kaffah, pembebasan Gaza, penyatuan umat di bawah satu kepemimpinan, dan penegakan syariat secara sempurna mustahil dapat terwujud. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Nawawi bahwa menegakkan kepemimpinan Islam adalah kewajiban berdasarkan ijma' umat. Masalah utama Gaza hari ini bukan sekadar kekurangan donasi atau bantuan kemanusiaan, melainkan ketiadaan perisai pelindung bagi umat.

Umat harus disadarkan dari pengkhianatan para penguasa sekuler dan diarahkan untuk fokus pada perjuangan menegakkan Khilafah. Hanya di bawah naungan kepemimpinan Islam yang hakiki, umat tidak akan lagi mudah dipecah belah, ditipu oleh propaganda musuh, dan dibiarkan terjajah di tanah sendiri.

Sumber: Republika - Israel Teruskan Pencaplokan Gaza

×
Berita Terbaru Update