Ditulis oleh: Rieke Risdayanti, A.Md
Nusantaranews.net, dapat kita saksikan di sekitar kita saat ini, kasus bullying atau perundungan masih menjadi persoalan yang terjadi di berbagai lingkungan, terutama di sekolah dan lingkungan pergaulan anak. Bentuknya pun semakin beragam, mulai dari mengejek, mengintimidasi, mengucilkan, mengancam, melakukan kekerasan fisik, hingga perundungan melalui media sosial.
Hal ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa data. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dalam Laporan Tahunan yang disampaikan pada 11 Februari 2025, mencatat adanya 85 kasus anak korban perundungan di satuan pendidikan pada tahun 2024 yang tidak disertai laporan polisi. KPAI juga mengingatkan bahwa kasus perundungan seperti fenomena gunung es karena masih banyak kasus yang belum terungkap atau belum dilaporkan.
Data tersebut cukup menunjukkan bahwa bullying bukan persoalan kecil dan bukan pula sekadar kenakalan biasa yang dapat dibiarkan.
Bullying bukan sekadar candaan atau kenakalan biasa. Perbuatan mengejek, mengintimidasi, mengucilkan, mengancam, bahkan melakukan kekerasan fisik dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat.
Hal yang paling orang tua takutkan adalah ketika anak menjadi korban bullying, bukan hanya fisik yang terdampak, tetapi kondisi mental dan psikisnya juga dapat ikut terganggu. Anak bisa menjadi takut bergaul, merasa rendah diri, kehilangan kepercayaan diri, bahkan merasa dirinya tidak berharga.
Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat. Anak bisa saja tetap bersekolah dan beraktivitas seperti biasa, tetapi di dalam dirinya menyimpan rasa takut dan trauma akibat perlakuan yang diterimanya.
Karena itu, bullying tidak boleh dianggap sebagai masalah kecil yang cukup diselesaikan dengan mengatakan, “Namanya juga anak-anak.”
Ketika ejekan, penghinaan atau kekerasan terus dilakukan dan dianggap sebagai candaan, anak dapat belajar bahwa menyakiti orang lain adalah sesuatu yang wajar. Begitu pula ketika orang-orang di sekitarnya hanya diam, pelaku bisa merasa bahwa tindakannya dapat diterima.
Di sinilah pentingnya peran orang tua, guru, teman sebaya dan lingkungan dalam menghentikan bullying sejak awal.
*Menurut Pandangan Islam*
Menurut pandangan Islam, bullying bukanlah perbuatan yang dibenarkan. Islam mengajarkan setiap manusia untuk saling menghormati, menjaga lisan, tidak merendahkan orang lain, serta tidak menyakiti sesama, baik secara fisik maupun mental.
Allah SWT berfirman:
«“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.”
(QS. Al-Hujurat: 11)»
Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk tidak merendahkan atau mengolok-olok orang lain. Apa yang kita anggap sebagai candaan belum tentu dirasakan sebagai candaan oleh orang yang menjadi sasaran.
Islam juga sangat menjaga lisan. Perkataan yang merendahkan, menghina, memberikan julukan yang buruk atau mempermalukan seseorang tidak dapat dianggap sepele apabila perkataan tersebut menyakiti dan merendahkan kehormatan orang lain.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seorang Muslim menjaga orang lain dari gangguan lisan dan tangannya.
Maka, bullying bukan hanya persoalan tata tertib sekolah. Di dalamnya terdapat persoalan akhlak, penghormatan terhadap sesama manusia, dan tanggung jawab kita untuk tidak melakukan kezaliman.
*Perlu Ada Tindak Lanjut*
Solusi bullying harus dimulai dari pembentukan akhlak dan pengawasan bersama.
Anak-anak perlu diajarkan sejak dini bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh perilaku yang baik di rumah. Anak juga perlu diajarkan untuk berani mengatakan bahwa bullying adalah perbuatan yang salah dan berani melaporkannya ketika melihat atau mengalaminya.
Sekolah juga harus menjadi tempat yang aman bagi semua siswa. Guru dan pihak sekolah perlu melakukan pengawasan terhadap perilaku siswa, memberikan pendidikan tentang akhlak dan adab, serta menindaklanjuti setiap laporan bullying dengan serius.
Pelaku perlu diberikan pembinaan agar memahami kesalahannya dan tidak mengulangi perbuatannya. Namun, pembinaan bukan berarti membiarkan perilaku tersebut tanpa konsekuensi. Sekolah tetap perlu memberikan tindakan yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sementara itu, korban harus mendapatkan perlindungan dan pendampingan. Jangan sampai anak yang menjadi korban justru merasa dirinya yang bersalah atau dipaksa untuk menghadapi semuanya seorang diri.
Korban bullying perlu didengarkan, didukung, dan diyakinkan bahwa dirinya berharga serta tidak sendirian. Jika diperlukan, pendampingan juga dapat melibatkan tenaga profesional agar kondisi anak dapat ditangani dengan tepat.
Islam juga mengajarkan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Karena itu, ketika melihat bullying, kita tidak seharusnya hanya diam. Teman, guru, orang tua dan lingkungan sekitar harus berani membantu korban dan menghentikan tindakan tersebut dengan cara yang bijaksana.
Teman yang melihat bullying juga tidak seharusnya ikut tertawa, merekam, menyebarkan video, atau justru mempermalukan korban. Diamnya lingkungan dapat membuat korban merasa semakin sendirian.
Yang tidak kalah penting adalah memberikan perhatian kepada korban. Korban bullying bisa mengalami rasa takut, kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak berharga, bahkan mengalami luka batin yang tidak terlihat. Karena itu, mereka perlu didengarkan, didukung, dan diyakinkan bahwa dirinya berharga serta tidak sendirian.
Pada akhirnya, mencegah bullying bukan hanya tugas sekolah, tetapi tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Jika nilai-nilai Islam seperti kasih sayang, saling menghormati, menjaga lisan, dan menghargai sesama benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan yang aman dan penuh kepedulian dapat terbentuk.
Bullying harus dihentikan bukan dengan membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi dengan pendidikan akhlak, keteladanan, pengawasan, perlindungan terhadap korban, serta pembinaan terhadap pelaku.
Jangan menunggu sampai seorang anak mengalami luka yang lebih dalam baru kita menyadari bahwa bullying adalah masalah serius.
Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk belajar, berteman, tumbuh dan berkembang.
Dengan begitu, kita dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, empati dan kepedulian terhadap sesama.
