Oleh : Rahmat Sitepu
Keresahan itu mulai terasa: akankah suatu hari manusia hanya menjadi pemberi perintah, sementara AI mengambil alih posisi manusia dalam menghasilkan tulisan?
Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuat batas antara pekerjaan manusia dan kemampuan mesin semakin tipis.
Hari ini, seseorang cukup mengetik sebuah prompt, bahkan hanya memberikan sebuah judul, lalu dalam hitungan detik sebuah tulisan dapat muncul. Ada pembuka, isi, penutup, pilihan diksi yang rapi, struktur yang sistematis, bahkan gaya penulisan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Bagi dunia kepenulisan, kemampuan ini tentu mengagumkan. Tetapi sekaligus menimbulkan keresahan.
Sebab menulis selama ini bukan sekadar pekerjaan menyusun kata menjadi kalimat. Menulis adalah proses panjang antara pikiran, pengalaman, pengamatan, perasaan, dan imajinasi manusia.
Seorang manusia menulis karena pernah melihat sesuatu, merasakan sesuatu, memikirkan sesuatu, atau bahkan terluka oleh sesuatu. Dari sanalah sebuah tulisan menemukan ruhnya.
Manusia memiliki kekurangan. Ketika menulis, ia bisa salah mengetik, keliru menempatkan kata, membalik susunan kalimat, lupa tanda baca, bahkan lupa kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sebuah tulisan manusia tidak selalu lahir dalam keadaan sempurna.
Namun di balik kekurangan itu terdapat sesuatu yang tidak mudah ditiru oleh mesin: jejak kehidupan penulisnya.
Tulisan tentang kehilangan, misalnya, bisa saja disusun dengan sangat indah oleh AI. Tetapi manusia yang pernah kehilangan orang yang dicintainya memiliki pengalaman emosional yang berbeda.
Manusia tidak sekadar mengetahui arti kehilangan. Ia pernah merasakannya. Begitu pula dengan kerinduan, kesepian, kegembiraan, ketakutan, kemarahan, harapan, dan berbagai pengalaman lain yang membentuk cara seseorang memandang dunia.
Imajinasi manusia lahir dari pertemuan antara pengalaman dan perasaan. Sementara AI bekerja dengan cara yang berbeda.
AI memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah data, mengenali pola, memproses informasi, dan menghasilkan teks berdasarkan sistem serta algoritma yang bekerja di belakangnya.
Dalam menyusun kata menjadi kalimat yang terstruktur, kemampuan AI memang sulit disangsikan.
Berikan sebuah topik, ia dapat mengembangkannya. Berikan sebuah judul, ia dapat membuat kerangka. Berikan beberapa poin, ia dapat mengubahnya menjadi artikel.
Bahkan sebuah gagasan yang masih berantakan dapat diolah menjadi tulisan yang terlihat matang dalam waktu yang sangat singkat. Di sinilah keunggulan AI sekaligus tantangannya bagi manusia.
AI mampu menghasilkan tulisan yang sempurna secara struktur, tetapi kesempurnaan struktur tidak selalu berarti kedalaman rasa.
Ada tulisan yang secara tata bahasa benar, alurnya rapi, pilihan katanya menarik, tetapi ketika selesai dibaca terasa kosong. Hambar. Tidak meninggalkan bekas. Tidak terasa seperti pengalaman seseorang.
Barangkali karena tulisan yang dibuat mesin tidak mengalami kehidupan sebagaimana manusia mengalaminya. AI dapat menulis tentang hujan, tetapi manusia memiliki kenangan tentang hujan.
AI dapat menulis tentang perjalanan, tetapi manusia pernah berjalan jauh, tersesat, lelah, bertemu orang asing, melihat pemandangan baru, lalu membawa pengalaman itu pulang menjadi cerita. AI dapat menulis tentang kesedihan, tetapi manusia pernah menangis dalam diam.
Di situlah letak perbedaan antara informasi dan pengalaman. AI memiliki kemampuan mengolah informasi. Manusia memiliki pengalaman untuk memberi makna terhadap informasi tersebut.
Karena itu, kekhawatiran bahwa AI akan mengambil posisi manusia dalam dunia kepenulisan bukan sesuatu yang sepenuhnya tanpa alasan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam untuk membuat draf awal kini dapat dipercepat secara drastis.
Namun persoalannya bukan semata-mata apakah AI dapat menulis. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah manusia akan berhenti berpikir karena AI dapat menulis?
Jika manusia hanya memberikan prompt, menerima hasil, lalu langsung mempublikasikannya tanpa membaca, memeriksa, mengolah, dan memberikan pengalaman pribadinya, maka yang perlahan hilang bukan hanya pekerjaan menulis.
Yang hilang adalah proses berpikir manusia itu sendiri. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kesadaran.
Ia dapat membantu mencari sudut pandang, memperbaiki struktur kalimat, mengembangkan gagasan, merapikan tulisan, membuat alternatif judul, dan mempercepat pekerjaan.
Tetapi manusia tetap harus menjadi pengarah. Manusia yang menentukan apa yang ingin dikatakan. Manusia yang menentukan apa yang penting. Manusia yang memeriksa apakah informasi itu benar. Dan manusia pula yang bertanggung jawab atas tulisan yang akhirnya dibaca publik.
Sebab AI juga memiliki kelemahan. Ia dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi tidak selalu benar. Ia dapat salah memahami konteks, keliru menangkap maksud pengguna, atau menghasilkan informasi yang tidak memiliki dasar yang cukup.
Dalam dunia jurnalistik, persoalan ini menjadi jauh lebih serius. Tulisan jurnalistik bukan hanya persoalan indahnya kalimat.
Ada fakta yang harus diverifikasi, narasumber yang harus dikonfirmasi, konteks yang harus dijaga, serta tanggung jawab etik yang melekat pada setiap informasi yang dipublikasikan.
Karena itu, wartawan yang menggunakan AI tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikirnya kepada mesin. AI boleh membantu menyusun. Tetapi wartawan tetap harus memeriksa. AI boleh membantu mengembangkan. Tetapi fakta harus tetap diverifikasi.
AI boleh membantu memperbaiki bahasa. Tetapi tanggung jawab atas isi tetap berada pada manusia. Mungkin masa depan dunia kepenulisan bukan pertarungan antara manusia dan AI.
Bisa jadi, masa depan justru berada pada kemampuan manusia menggunakan AI tanpa kehilangan identitas kemanusiaannya. Manusia mempunyai imajinasi. AI mempunyai kemampuan mengolah data. Manusia memiliki pengalaman. AI memiliki pola.
Manusia mempunyai rasa. AI mempunyai algoritma. Keduanya dapat bertemu di meja yang sama. Tetapi siapa yang memegang pena? Itulah pertanyaan yang mungkin lebih penting untuk kita renungkan.
Sebab ketika manusia hanya menjadi operator prompt, sementara mesin menjadi produsen utama gagasan dan tulisan, kita mungkin tidak sedang menyaksikan AI mengambil alih pekerjaan manusia.
Kita sedang menyaksikan manusia perlahan menyerahkan sebagian kemampuan berpikirnya sendiri kepada mesin. Dan mungkin di situlah keresahan sebenarnya bermula.
Manusia bisa lupa EYD. AI bisa menghasilkan kalimat sempurna yang tidak memiliki rasa.
Manusia bisa membuat tulisan yang berantakan tetapi jujur terhadap pengalaman. AI bisa membuat tulisan yang sangat rapi tetapi membutuhkan manusia untuk memastikan bahwa apa yang ditulis benar-benar memiliki dasar.
Pada akhirnya, teknologi boleh semakin cerdas. Tetapi jangan sampai manusia menjadi semakin kehilangan rasa. Karena tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang benar secara tata bahasa.
Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu membuat manusia lain merasa, berpikir, dan melihat kehidupan dari sudut yang berbeda.
Dan selama manusia masih memiliki pengalaman, imajinasi, rasa dan kemampuan untuk memberi makna, maka mesin belum sepenuhnya mengambil alih posisi manusia.
