Oleh Aning
Aktivis Muslimah
Nusantaranews.net, Generasi muda yang masih dibantu secara finansial oleh orang tua sering kali bergerak terlalu cepat menuju penilaian. Angka seperti 64% generasi muda dalam kelompok tersebut umumnya langsung dibaca sebagai tanda melemahnya kemandirian.
Namun, jika dilihat lebih perlahan, fenomena ini datang dari pertemuan beberapa lapisan sekaligus, seperti kondisi ekonomi yang berubah, kesiapan individu dalam mengelola keuangan, serta relasi keluarga yang memang memiliki karakter tersendiri, terutama di konteks Asia. Dalam lanskap global, pola ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Di Amerika Serikat, lebih dari sebagian kelompok usia 18–34 belum sepenuhnya mandiri secara finansial. Tetapi, hanya sebagian kecil yang benar-benar berada pada posisi independen penuh.
Berdasarkan riset Deloitte tahun 2025, sekitar 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Ketidakamanan ini disebabkan oleh tingginya biaya hidup, sistem upah yang pas-pasan, serta ketidakpastian kondisi ekonomi di masa depan. Walaupun demikian, di tengah himpitan finansial, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Hingga mereka menganggap hal tersebut sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Menurut mereka, self-reward dan healing bukanlah pemborosan, melainkan "biaya wajib" untuk menjaga kewarasan di tengah himpitan tekanan ekonomi.
Tekanan Finansial yang Menimpa Gen Z
Yang terjadi saat ini, tekanan finansial yang menimpa Gen Z tidak terjadi dalam ruang hampa. Keadaan ini merupakan buah pahit penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem kapitalisme, negara hanya sebatas regulator yang memberikan ruang lebar kepada pemilik modal untuk menguasai berbagai sektor strategis. Sebagian besar sumber daya alam (SDA) yang sejatinya milik umat, seperti minyak, gas, batu bara, nikel, emas, tembaga, timah, bauksit, hasil laut, hutan, dan kekayaan alam lainnya, justru diserahkan kepada pihak asing dan swasta.
Hingga akhirnya, aset publik dikuasai segelintir korporasi swasta yang menjadikan ketimpangan distribusi harta kekayaan makin meluas. Sampai negara pun kehilangan sumber fiskal yang memadai untuk bisa membangun industri strategis yang bisa menyerap jutaan tenaga kerja dan menjamin kebutuhan pokok masyarakat.
Sebab, dalam sistem kapitalisme, tenaga kerja diperlakukan hanya sebagai faktor produksi yang nilainya ditentukan oleh mekanisme pasar. Di saat jumlah pencari kerja jauh lebih banyak daripada lapangan kerja, perusahaan menjadikannya alasan untuk tidak menaikkan upah. Akhirnya, upah hanya mengikuti standar hidup minimum, sampai-sampai tidak mampu menutup biaya kebutuhan hidup.
Sementara upah stagnan, biaya hidup terus melambung tinggi. Harga hunian yang kian tidak terjangkau serta kompetisi di dunia kerja yang makin kompetitif menciptakan kekhawatiran kolektif terhadap masa depan. Tidak hanya itu, sistem kapitalisme juga gagal menjamin kebutuhan pokok setiap warga negara, sebab hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek distribusi. Karena distribusi hanya dipandang sebagai aspek pelengkap, kewajiban negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat pun diabaikan. Dampaknya, kemiskinan tidak pernah terselesaikan, dan Gen Z dibiarkan berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya.
Terjebak Gaya Hidup Hedonisme
Selain itu, himpitan ekonomi diperparah oleh gaya hidup sekuler yang hedonis. Kini Gen Z yang lahir di era digital, setiap hari dibombardir algoritma media sosial yang menampilkan etalase kehidupan mewah dan potongan momen terbaik, yang tidak jarang dijadikan tolok ukur hidup normal. Standar artifisial ini mendatangkan desakan psikologis untuk menyamainya.
Namun, kebutuhan akan pengakuan sosial, rasa takut tertinggal, dan kemudahan akses instrumen keuangan modern seperti paylater dan pinjaman daring menciptakan jebakan konsumsi. Akhirnya, banyak anak muda membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Healing yang dilakukan dan barang yang dibeli tidak selalu bernilai guna, melainkan hanya sebagai pamer demi mempertahankan citra diri di ruang publik digital.
Sehingga, dalam situasi psikologis yang tidak pasti, pengeluaran gaya hidup sering kali beralih fungsi menjadi mekanisme pertahanan diri atau bentuk penghargaan diri (self-reward) atas kelelahan seharian. Hingga ada dorongan emosional untuk menikmati hasil kerja keras saat ini karena masa depan terasa terlalu abstrak untuk direncanakan.
Islam Mengurus Rakyat dan Menutup Gaya Hidup Hedonis
Menjamin kebutuhan dasar, baik kebutuhan pokok ataupun kolektif, negara diberi amanah untuk mengurusinya. Tidak hanya itu saja, negara juga harus hadir sebagai penanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Rasulullah saw. bersabda:
"Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum muslim, lalu ia menutup dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka (menutup) perhatian kepada mereka dan kemiskinan mereka, Allah akan menutup (dirinya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Maryam).
Karena kepala negara adalah pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusannya. Rasulullah saw. bersabda: "Imam atau pemimpin itu laksana seorang penggembala, dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, jika negara lalai dan abai dalam melayani urusan rakyat, niscaya kekuasaan yang ada di tangannya akan menjadi sebab penyesalan dirinya kelak di akhirat. Namun, jika ia mengkhianati amanah yang telah diberikan rakyat, dosa besar dan azab yang pedih akan ditimpakan kepadanya.
Begitu juga, negara wajib mengelola sumber daya alam yang termasuk kategori milik umum. Karena Islam melarang menyerahkan pengelolaan kekayaan milik umum kepada individu atau swasta. Dengan pengelolaan sumber daya alam sesuai syariat, negara bisa membangun industri strategis dan juga bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, begitu pun menyediakan pelayanan publik yang berkualitas, harga kebutuhan pokok terjangkau, dan jaminan sosial yang memadai. Dengan kebijakan tersebut, para penanggung nafkah, termasuk Gen Z, akan mudah mendapat pekerjaan yang layak dan tidak akan merasakan tekanan finansial yang berat.
Begitu pula, dalam pengaturan upah tenaga kerja, Islam menetapkan bahwa upah ditentukan berdasarkan manfaat yang diberikan pekerja kepada pemberi kerja. Sehingga, besarnya upah berbeda antarsektor dan profesi, yang ditetapkan melalui kesepakatan kedua belah pihak, dengan kemungkinan merujuk pada pendapat para ahli (khubara) ketenagakerjaan sesuai harga pasar tenaga kerja.
Ibnu Mas'ud ra. berkata, Nabi saw. bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian mengontrak (tenaga) seorang ajir, maka hendaknya diberitahu tentang upahnya. Dengan demikian, upah yang diterima seorang pekerja merupakan hak penuh sebagai kompensasi atas tenaga yang telah dicurahkan." (HR. Ad-Daruquthni)
Dalam Islam, upah tidak boleh didasarkan pada harga barang dan jasa yang fluktuatif, sebab akan merugikan salah satu pihak. Begitu juga, upah tidak boleh ditentukan berdasarkan kebutuhan dasar pekerja atau konsep upah minimum, karena pemenuhan kebutuhan pokok merupakan tanggung jawab negara, bukan pengusaha.
Dari pandangan lain, Islam melarang manusia hidup hedonisme, karena hidup hedonis akan mengantarkan manusia pada kesengsaraan dunia dan akhirat. Sebab, hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Orang yang bergaya hidup hedonis senantiasa menjadikan kesenangan sebagai prinsip perilaku sehari-hari.
Hingga, makna hidup seperti ini jelas bertolak belakang dengan Islam. Sebab, Islam memandang dunia hanya sementara dan setiap amal akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Allah SWT berfirman:
"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al-Zalzalah: 7–8).
Maka itu, Islam menutup celah hedonisme dengan kurikulum pendidikan Islam yang membentuk visi hidup yang benar, yaitu dunia sebagai ladang beramal dan akhirat sebagai tujuan. Dengan itu, gaya hidup sederhana melekat pada generasi. Hingga harta yang dimiliki bukan untuk kesenangan duniawi, melainkan dikontribusikan untuk bekal di akhirat nanti.
Dari arah yang lain, Islam juga tidak akan membiarkan media swasta, apalagi asing, bebas membentuk opini publik untuk kepentingan ideologi asing. Media dalam negara Islam diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan individu. Karena negara berperan sebagai junnah (perisai) yang melindungi ideologi dan ajaran Islam dari bahan olokan dan hinaan, menyaring informasi yang merusak, dan menjadi corong informasi dan dakwah Islam bagi dunia. Allah SWT berfirman:
"Jika sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya, (padahal) jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentu orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)." (QS. An-Nisa: 83)
Dalam pasal 103 dalam Draft Konstitusi negara Islam menjelaskan, "Instansi penerangan adalah direktorat yang menangani penetapan dan pelaksanaan politik penerangan negara demi kemaslahatan Islam dan kaum muslim. Hingga di dalam negeri dapat membangun masyarakat Islam yang kuat dan kukuh, menghilangkan keburukan, dan menonjolkan kebaikannya. Dan di luar negeri mendakwahkan Islam dalam kondisi damai dan perang dengan pemaparan yang menjelaskan keagungan Islam dan keadilannya, kekuatan pasukannya, juga menjelaskan kerusakan sistem buatan manusia dan kezalimannya serta kelemahan pasukannya."
Dengan penjagaan ini, media sosial tidak akan menjadi pintu masuk tsaqofah asing yang merusak generasi.
Selama sistem kapitalisme masih diadopsi dan sistem buatan manusia tidak digantikan oleh sistem Islam, maka Gen Z tidak akan terjamin hidupnya dengan benar. Negara Islam adalah sistem yang menyebarkan kebaikan, kegembiraan, dan ketenangan. Karena negara Islam bertanggung jawab atas kesejahteraan manusia dan mampu mengakhiri ancaman terhadap kehidupan.
Ketiadaan negara Islam, penting adanya komunitas yang tepat agar Gen Z menggunakan masa mudanya untuk mengembangkan Islam dalam tatanan kehidupan. Para pemuda saleh/salihah dan berenergi kuat harus menjadi motivator manusia untuk bangkit dari keterpurukan, dan memandu manusia menuju kejayaan dengan penerapan Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan manusia.
Dengan itu tegaklah peradaban Islam yang agung yang memberikan kemaslahatan bagi dunia. Maka dari itu, kita berjuang terus merapat dalam barisan dakwah agar penerapan syariat Islam kaffah segera terwujud. Wallahu alam bishowab.