Oleh Umi Lia
Member Akademi Menulis Kreatif
Saat ini, ilmu dan teknologi kian maju, di tengah informasi yang begitu mudah diakses dan produk sain yang semakin memudahkan kehidupan, ternyata sebagian orang masih merasa kesepian di tengah keramaian. Perasaan itu menjadi salah satu pemicu terjadinya kasus bunuh diri. Seperti yang terjadi pada Kamis pagi, (10/9), di Universitas Brawijaya Malang, suasana seketika menjadi geger saat ditemukan seseorang dalam kondisi kritis. RR (19), mahasiswa Fakultas Kedokteran semester tiga diduga melakukan percobaan bunuh diri di salah satu gedung kampus. Kapolsek Lewokwaru, Kompol Anang Tri Hananta segera mengamankan lokasi dan melakukan tindakan awal. Peristiwa ini sudah dikonfirmasi oleh Ketua Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan Universitas Brawijaya, Dwi Retnoningsih. Korban langsung dibawa ke RSSA (RS Saeful Anwar) untuk penanganan lebih lanjut. (bsinews.id, 11/9/2026)
Sehari sebelumnya seorang pria berinisial FS (30) ditemukan tewas bunuh diri di kawasan GBK (Gelora Bung Karno), Jakarta. Ia sebelumnya sempat curhat di medsos dan menyatakan keinginan untuk mengakhiri hidup. Sesaat sebelum melakukan tindakannya, dia mengirim sinyal SOS melalui smartwatch pada temannya. Setelah membaca unggahan korban dan mendapat informasi darurat ini, saksi melapor pada petugas security yang bertugas di pintu 5 GBK, sehingga akhirnya korban ditemukan dalam keadaan tewas.
Sementara itu, dilihat dari catatan Healing 119.id yaitu hotline pencegahan bunuh diri, ternyata kliennya didominasi oleh kelompok usia 21-30 tahun. Hal ini menyimpulkan satu fakta bahwa krisis kesehatan mental mayoritas terjadi pada generasi muda. Berdasarkan data resmi dan evaluasi Kementerian Kesehatan RI, pada kurun waktu 31 Juli 2025 sampai 31 Juli 2026 yang menggunakan layanan ini 54,08 persen di antaranya adalah mereka yang berusia 21-30 tahun. Di posisi kedua 33,04% di usia 11-20 tahun. Bahkan ada anak yang berusia delapan tahun yang mengakses layanan ini. Yang ketiga sekitar 11,01% adalah mereka yang berusia 31-40 tahun. Gendernya umumnya adalah perempuan yaitu 70 persen. Adapun masalah yang diadukan beragam mulai dari konflik keluarga, perundungan dan tekanan ekonomi.
Kemajuan IPTEK ternyata tidak selalu beriringan dengan kenyamanan hidup. Angka bunuh diri yang terus naik dan layanan konsultasi pencegahan bunuh diri selalu sibuk menunjukan bahwa kehidupan yang berjalan saat ini, tidak sedang baik-baik saja. Adapun persoalannya sangat komplek, bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, baik teologis, sosiologis dan psikologis. Namun bagi orang yang beragama, melihat problematika ini tentu harus melibatkan keyakinan yang dianutnya. Apalagi di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Hanya saja sekularisme yang diaruskan dan digaungkan oleh penyelenggara negara, menyebabkan generasi muda kehilangan pegangan karena akidah atau dasar agama yang telah dijauhkan dari kehidupan. Tanpa keimanan yang kokoh kesulitan akan terasa berat dan akhirnya putus asa. Ketika dirasa tidak ada jalan keluar, maka keinginan bunuh diri pun muncul.
Sistem kapitalisme sekuler yang dianut negara ini, membentuk masyarakat yang individualistik. Setiap individu berjuang untuk bisa sukses secara materi tanpa ikatan dengan orang-orang sekitarnya. Dari sini terjadilah kompetisi, seolah berlomba untuk mendapatkannya. Mereka yang tidak ikut otomatis akan tertinggal. Dalam sistem kapitalis, kebebasan individu akan dijamin dan levelnya di atas kepentingan bersama. Sikap inilah yang menggerus rasa tanggung jawab moral terhadap kehidupan komunal. Karena itu kesepian di tengah keramaian menimpa banyak orang, bahkan terjadi pada mereka yang memiliki materi berlimpah. Inilah fakta yang merupakan konsekuensi dari budaya positivisness. Yaitu pemikiran yang mengandalkan fakta empiris, terukur, bisa diamati melalui metode ilmiah dan menegasi hal-hal yang metafisik termasuk agama.
Sistem kehidupan ditopang oleh tiga pilar, individu, masyarakat dan negara. Di antara ketiga komponen ini yang paling dominan dalam menghasilkan kebaikan, kesejahteraan, keamanan adalah negara. Jika individu rakyat mayoritas saleh, sementara kebijakan negara menyulitkan kiprah orang baik maka kebaikan atau kemaslahatan pun tidak akan terwujud. Jadi bagaimana bisa mengharap generasi muda yang tangguh, tahan banting dan kuat berjuang jika negaranya menerapkan sistem sekuler kapitalis yang nyata-nyata menjauhkan agama dalam kehidupan. Dalam aspek pendidikan, sistem ini hanya mencetak lulusan yang siap kerja jadi budak industri, bukan menghasilkan output yang berkarakter, beriman dan bertakwa. Sementara sistem ekonominya juga kapitalistik, di mana mereka yang memiliki modal lah yang akan menjadi pemenangnya. Tanpa keimanan dan moralitas anak-anak muda menjadi rapuh saat menghadapi kesulitan, kegagalan atau tekanan hidup, karena tidak mempunyai pegangan yang kuat.
Berbeda dengan negara yang menerapkan sistem Islam. Melalui pendidikan dan dakwah yang diaruskan di tengah masyarakat, akidah akan benar-benar ditanamkan sejak dini, agar menjadi benteng kokoh yang akan menjaga mental generasi muda. Kesulitan hidup dan kegagalan dalam berusaha bisa disikapi dengan tenang karena yakin bahwa semua itu merupakan ujian dari Allah. Sementara putus asa dengan memilih jalan bunuh diri itu dilarang, dan haram hukumnya. Keimanan seorang individu, akan kuat menahan keputusasaan jika dibarengi dengan pemahaman syariah yang mengkristal dalam hatinya. Untuk itu perlu ilmu agama yang terus dikaji dan lingkungan yang kondusif.
Keluarga dan masyarakat yang solid merupakan lingkungan yang kondusif bagi seseorang yang beriman dan bertakwa, jika di sana terdapat budaya saling mengingatkan (amar makruf nahi mungkar). Dengan demikian seseorang tidak akan dibiarkan hidup kesepian dan berputus asa. Orang-orang di sekitarnya akan menemaninya di saat sulit dan terus mensupportnya sampai potensi baiknya keluar. Mereka akan bersama-sama mencegah ketika sesuatu yang buruk menimpa salah seorang di antara mereka dan saling memelihara kebaikan.
Negara yang menganut ideologi Islam akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonominya diatur sesuai sunah Nabi saw. Secara historis, model negara seperti ini mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya dan output pembelajarannya adalah generasi yang tangguh dan berkepribadian Islam. Pola pikir dan pola sikapnya konsisten, di mana apa yang diajarkan itulah yang diamalkan, baik dalam keluarga di rumah, di tempat kerja maupun di tengah masyarakat. Selain itu, Allah Swt. menciptakan kehidupan ini bersama dengan jaminan keberkahan bagi negara yang menerapkan aturanNya. Selain kemakmuran secara lahiriah dan kesejahteraan secara batiniah, bagian dari berkahNya itu juga adalah lahirnya generasi muda yang tangguh mentalnya dan bisa diandalkan, serta masyarakat yang saling peduli. Pemuda yang rapuh dan kesepian tidak ada tempat di sistem sahih ini karena mereka paham dengan firman Allah dalam QS. an-Nisa ayat 29:
"...Janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian."
Wallahualam Bissawwab.
.jpg)