Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Terhimpitnya Generasi Z dalam Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Saturday, August 29, 2026 | August 29, 2026 WIB Last Updated 2026-08-31T00:17:21Z



Oleh: Febriyanti M.,A.Md.Tekim 
(Aktivis Dakwah)

       Berdasarkan data dari Deloitte Insights, sebanyak 48% Generasi Z merasa tidak aman secara finansial. Angka ini naik dari 30% pada tahun sebelumnya. Generasi Z tumbuh di kehidupan yang menawarkan banyak pilihan, tetapi justru menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti. Belum lagi, di satu sisi mereka dituntut untuk mandiri, produktif, sukses, dan memiliki kehidupan yang layak. Namun, di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Generasi Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Ketika biaya hidup kian meningkat dan kondisi ekonomi melemah, Generasi Z sering mencari solusi penyelesaian masalah personal dengan meningkatkan keterampilan, mencari pekerjaan tambahan, berhemat, serta dituntut cerdas dalam pengelolaan keuangan.

  Padahal, kemampuan setiap individu ada batasnya. BPS mencatat rata-rata upah buruh Indonesia pada Agustus 2025 sebesar Rp3,33 juta dan tumbuh 1,94% dibandingkan tahun lalu. Angka tersebut menunjukkan bahwa pendapatan nominal memang meningkat. Pertanyaannya, apakah peningkatan tersebut cukup untuk menghadapi seluruh beban hidup Generasi Z, atau masyarakat luas di era ini yang kebutuhannya kian meningkat? (bps.go.id 05/02/2026)

Tekanan Ekonomi di Era Kapitalisme

 Perspektif kritis sistem ekonomi kapitalisme menempatkan generasi dan masyarakat dalam tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara individual. Biaya kebutuhan akan terus meningkat, sementara negara tidak hadir sepenuhnya untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Realitanya, sistem sekuler yang berjalan saat ini menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit masyarakat, khususnya Generasi Z, dengan biaya hidup yang naik tetapi gaji stagnan. Belum lagi, tekanan ini semakin parah akibat gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan _self-reward_, _healing_, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi". Hal ini terjadi karena setiap hari Generasi Z diperlihatkan berbagai konten mulai dari liburan, fashion, skincare, konser, kafe, dan berbagai bentuk kehidupan yang tampak sempurna. Algoritma tidak hanya menampilkan apa yang mereka sukai, tetapi juga membuat tren terasa seperti kebutuhan, padahal itu hanyalah keinginan yang kurang bermanfaat. Berlanjut dalam era digital saat ini, budaya hedonis yang terjadi akhirnya berujung pada FOMO, yaitu rasa takut tertinggal tren, takut tidak dianggap, dan takut hidup terasa biasa-biasa saja tanpa pencapaian materialistis. Media sosia pun terus menyuguhkan konten kepada generasi tanpa henti. Hal ini menjadikan generasi hanya berfokus pada keinginan berstandar media sosial tanpa lagi berpikir panjang atas kebutuhan yang seharusnya dipenuhi.

 Inilah penyebab krisis yang lebih mendalam bagi Generasi Z, yaitu mereka tidak memahami dengan jelas tujuan hidupnya. Akibatnya, orientasi hidup menjadi semakin materialistis. Kebahagiaan mereka diukur dari kepemilikan materi dan kenikmatan duniawi sesaat, bukan dari rida Allah dan kemuliaan Islam. Jika kembali kita telaah secara logika berbagai fakta yang nyatanya terjadi diera sistem kapitalisme ini tidak pernah mendapatkan solusi tuntas, mengapa demikian? Jawabannya jelas kita ketahui bersama bahwa dalam sistem yang sekarang diterapkan oleh penguasa berlandaskan asas manfaat atau materi dan tentunya hanya akan berfokus kepada yang memiliki modal. Kemudian perihal memisahkan agama dari kehidupan apakah ini menjadi solusi untuk para generasi selanjutnya tumbuh menjadi generasi pembangun bangsa? Hasilnya saat ini justru generasi krisis akan tujuan hidup dan jauh dari konsep serta visi penyiapan SDM yang disebut "Generasi Emas", nauzubillahi min dzalik.

Islam sebagai Landasan Peraturan Hidup

 Dalam perspektif Islam, kehidupan manusia tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar materi. Kebahagiaan sejati dikaitkan dengan ridha Allah dan kehidupan yang sesuai syariat. Dalam hal ini, Islam tidak pernah memisahkan agama dari kehidupan. Islam hadir dengan seperangkat aturan yang tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga menjadi landasan hidup manusia sesuai fitrahnya. Negara dengan sistem Islam, atau Khilafah, menjamin kebutuhan dasar seluruh umat melalui pengelolaan sumber daya alam sesuai syariat dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki. Negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin kebutuhan dasar umat dan mengelola kekayaan milik umum demi kemaslahatan umat. Demikianlah konstruksi ekonomi Islam. Sumber daya alam yang termasuk milik umum tidak semestinya dikuasai segelintir pihak, tetapi dikelola untuk kepentingan umat. Selain itu, negara juga berkewajiban menciptakan kondisi agar umat dapat memperoleh penghidupan yang layak. Dengan demikian, generasi muda dan masyarakat tidak dibiarkan menghadapi seluruh beban kehidupan seorang diri.

 Islam juga menutup gaya hidup hedonisme dan melindungi generasi dari paparan konten di media sosial yang merusak, seperti sekulerisme-kapitalisme. Media dalam negara Islam diarahkan untuk edukasi serta meningkatkan ketakwaan umat. Tidak adil rasanya ketika generasi disalahkan dalam kondisi ini, padahal terlihat jelas generasi sekarang menjadi korban dari sistem yang berjalan. Berbeda dengan sistem Islam yang menawarkan aturan ekonomi dimana negara sebagai pengurus rakyat (ra’in), sekaligus akidah yang sudah jelas membebaskan manusia dari perbudakan materi semata. Gen Z seharusnya tidak diarahkan menjadi generasi konsumtif, tetapi dibentuk menjadi generasi yang berilmu, bertakwa, produktif, dan berkontribusi dalam negara.

 Inilah Islam, hadir untuk membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zariyat: 56, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku". Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. Mereka pun akan menyadari dirinya sebagai hamba Allah sekaligus bagian dari generasi yang memiliki tanggung jawab membangun kehidupan sesuai syariat Islam. 
 Wallahu a’lam bishawab
×
Berita Terbaru Update