Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tepi Barat Membara, Serangan Masif-Brutal, Anak-anak Jadi Sasaran

Wednesday, August 26, 2026 | August 26, 2026 WIB Last Updated 2026-08-26T13:56:44Z



Oleh Ummu Nasywa

Member AMK dan Aktivis Dakwah

Dilansir news.republika.co.id (12/08/2026), Ramiz Alakbarov, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, telah menyampaikan peringatan soal potensi ledakan konflik menyusul aksi brutal tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat belakangan ini. Serangan-serangan itu secara terang-terangan dilakukan di wilayah yang diakui komunitas internasional sebagai wilayah Palestina. Dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai Timur Tengah, termasuk isu Palestina, Alakbarov menyatakan bahwa hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid di Tepi Barat sepanjang tahun 2026, termasuk 18 anak di bawah umur. Antara Januari 2024 dan Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, lebih dari satu anak setiap minggunya.

Lebih dari 1.500 anak dilaporkan mengalami luka-luka dalam peristiwa tersebut. Yang memprihatinkan, hampir separuh dari jumlah itu terluka akibat peluru tajam. Data ini menunjukkan bahwa korban paling rentan justru anak-anak, dan tingkat kekerasan yang terjadi sudah melampaui batas kemanusiaan. Anak-anak seharusnya mendapatkan perlindungan, bukan menjadi sasaran kekerasan bersenjata. Jika dunia terus diam, maka luka fisik ini akan berubah menjadi trauma panjang yang merampas masa depan mereka. Tanggung jawab moral untuk menghentikannya tidak bisa ditunda oleh siapapun yang mengaku menjunjung nilai kemanusiaan.

Sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat saat ini masih ditahan dalam tahanan militer Israel. Penahanan tersebut menunjukkan betapa sistem militer digunakan untuk menindak warga sipil, termasuk mereka yang masih di bawah umur. Kondisi ini semakin memperparah penderitaan rakyat Palestina dan menjadi bukti nyata pelanggaran hak anak di tengah konflik yang terus berlangsung. Anak-anak itu dipaksa menghadapi proses hukum militer tanpa jaminan perlindungan yang layak, padahal seharusnya mereka berhak atas pendidikan dan masa kecil yang aman. Diamnya komunitas internasional terhadap praktik ini sama saja membiarkan kezaliman terus berulang terhadap generasi paling rentan.

Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab dan menjijikkan. Tindakan kekerasan, penahanan, hingga pembunuhan yang menimpa mereka telah menimbulkan trauma mendalam dan penderitaan berkepanjangan. Anak-anak yang seharusnya hidup aman dan bersekolah, justru dipaksa menghadapi luka fisik dan  batin yang merusak masa depan mereka. Kerusakan nyata ini tidak hanya merenggut hak dasar mereka, tetapi juga menghancurkan harapan satu generasi. Semua ini menjadi bukti bahwa kebiadaban tersebut adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.

Zionis sengaja meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan, dan genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat. Pola yang sama seperti yang mereka lakukan di Gaza kini diulang secara sistematis di wilayah tersebut. Warga sipil dipaksa meninggalkan rumahnya, tanah dirampas, dan kekerasan dilakukan tanpa henti untuk memecah komunitas Palestina. Tujuannya jelas yaitu ingin mengosongkan Tepi Barat dari penduduk aslinya demi perluasan wilayah. Semua ini dilakukan secara bertahap dan terselubung agar tidak menarik perhatian dunia, padahal dampaknya sama-sama menghancurkan.

Kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina harus dilawan dengan tegas. Mereka adalah korban paling rentan yang direnggut hak hidup, pendidikan, dan masa depannya oleh kekerasan yang terus berulang. Sayangnya, dunia internasional memilih diam dan berpaling dari penderitaan ini. Lebih menyakitkan lagi, para penguasa di negeri-negeri Muslim pun ikut bungkam dan tak berani mengambil sikap nyata untuk memerangi Zionis Israel. Padahal, jika ada persatuan dan keberanian, kezaliman ini seharusnya bisa dihentikan sejak lama.

Islam mengharamkan pembiaran kejahatan pada anak-anak dan kemanusiaan secara total. Dalam ajaran Islam, anak adalah amanah dan masa depan umat yang wajib dijaga jiwa, harta, kehormatan, dan akalnya. Membiarkan mereka dibantai, diusir, atau diteror adalah bentuk persekongkolan terhadap kezaliman yang sama-sama diharamkan. Syariat menegaskan bahwa siapapun yang diam melihat kemungkaran tanpa berusaha mencegahnya dengan tangan, lisan, atau minimal hatinya, maka ia telah keluar dari prinsip iman. Karena itu, membela anak-anak yang tertindas bukanlah pilihan politik, melainkan kewajiban syar’i yang menyangkut harga diri kemanusiaan itu sendiri.

Selama umat Islam tercerai-berai dalam kotak-kotak nasionalisme, maka sistem penjajahan Zionis akan terus leluasa melakukan pembantaian di Tepi Barat dan Gaza. Ukhuwah Islamiyah adalah fondasi yang mengikat darah, akidah, dan nasib kaum muslimin sebagai satu tubuh yang jika satu anggotanya sakit, maka seluruhnya akan merasakannya. Seperti salah satu hadis: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa demam dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim)

Persatuan negeri-negeri Muslim dengan kekuatan militer, ekonomi, dan politik yang bersatu akan mematahkan hegemoni penjajah yang selama ini dilindungi dunia. Karena itu, penegakan Khilafah berdasarkan syariat menjadi kebutuhan mendesak yang akan menjadi komando tunggal untuk menghentikan agresi, membebaskan Al-Aqsa, dan melindungi anak-anak Palestina secara nyata.

Palestina tidak akan merdeka hanya dengan kutukan dan resolusi, tetapi butuh kekuatan yang mengusir penjajah dari tanahnya. Partai politik ideologis memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan umat bahwa membebaskan Al-Aqsa adalah kewajiban syar’i, bukan sekadar isu kemanusiaan. Karena itu, seruan jihad harus dijaga agar tidak padam, dan tuntutan pengiriman tentara Islam harus menjadi agenda politik utama, bukan wacana sesaat. Melalui kekuatan umat di bawah komando yang satu, benteng penjajahan Zionis bisa diruntuhkan dan kemerdekaan Palestina bisa ditegakkan secara hakiki.

Wallahu'alam bi ash-Shawwab.
×
Berita Terbaru Update