Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Medali Emas Dinda Wahyuni, Gadis Tanpa Sosok Papa, Dibesarkan Air Mata Mama Tercinta

Friday, October 09, 2026 | October 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-09T12:04:18Z

Nusantaranews.net, Bukittinggi
- Jika matras biru Porprov Sumbar XVI menjadi saksi kehebatannya, maka kehidupan menjadi saksi ketegarannya. Dinda Wahyuni tidak hanya bertarung melawan atlet-atlet terbaik, ia bertarung melawan luka masa kecilnya sendiri.

Jauh sebelum namanya harum sebagai Peraih Medali Emas Gunshu Putri untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai, Dinda adalah seorang anak kecil yang harus belajar arti kehilangan terlalu dini. Papa pergi, meninggalkannya saat ia masih kecil.

Semenjak saat itu, kehidupan Dinda, sibungsu dari tiga bersaudara ini hanya berisi nama, kaka dan Mamanya.

Ia adalah anak bungsu dari Elmawati, seorang ibu yang menolak menyerah pada keadaan. Di saat orang lain mungkin runtuh, Elmawati memilih berdiri. Membesarkan Dinda bersama dua orang saudaranya dengan susah payah, dengan peluh, dengan doa yang tak pernah putus. Tidak ada sosok Papa di rumah, tapi cinta seorang Mama, ternyata cukup untuk membuat seorang anak bermimpi setinggi langit.

"Dia anak yang tegar dan mandiri. Dari kecil sudah terbiasa melihat mamanya berjuang," ujar salah satu kerabat dekatnya.

Wushu menjadi pelariannya. Setiap tendangan, setiap putaran Gunshu (tongkat) yang ia kuasai, adalah cara Dinda membuktikan bahwa kehilangan sosok oanutan tidak akan pernah membatasi prestasi. Di balik kostum merah menyalanya, ada hati seorang anak yang ingin berkata pada dunia: "Mama, aku bisa!"

Dan pada Porprov Sumbar XVI Bukittinggi ini, di tengah persaingan ketat para atlet Wushu muda berbakat se-Sumatera Barat, Dinda membuktikan itu.

Medali emas itu ia raih bukan di hari biasa. Emas itu ia persembahkan tepat di Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Mentawai yang ke-27 Tahun.

"Hanya ini yang bisa kita persembahkan pada hari jadinya Kabupaten Kepulauan Mentawai yang ke 27 tahun," ucapnya lirih.

Namun semua orang tahu, emas itu pertama-tama ia persembahkan untuk mama tercinta.

"Medali emas ini saya persembahkan untuk mama tercinta yang telah membesarkan saya dengan susah payah. Terima kasih Mama," kata Dinda sambil menahan tangis.

Ini adalah prestasi terbaiknya. Dan mungkin, ini adalah pertandingan terakhirnya. Usia yang semakin dewasa dan tuntutan kerja membuatnya harus memilih jalan hidup yang baru. Jika benar ini yang terakhir, maka ia menutupnya dengan cara paling sempurna.

Sebelum keluar dari lapangan, ia tak lupa menyebut nama-nama yang menguatkan dan mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Mentawai, KONI dan official Mentawai, Kakak Yosi, Kak Gita, Dhea, Nabila, Keken, Iqrar Permana Nusantara, dan adinda Daffa serta para atlet Sanda yang terus memberikan dukungan moral.

Perjuangan Dinda Wahyuni adalah cerminan gadis tegar yang sesungguhnya. Ditinggal Papa sejak kecil tidak membuatnya benci pada hidup. Justru membuatnya mengerti, bahwa satu cinta yang tulus dari seorang Mama, mampu mengalahkan ribuan rasa sakit.

Selamat Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Mentawai ke-27 Tahun. Terima kasih Dinda, kamu telah mengajarkan kami arti bakti seorang anak.

Feature by: Zainal Amran
×
Berita Terbaru Update