Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Derita Gaza Masih Berlanjut Karena Ulah Kekejaman Zionis

Wednesday, August 12, 2026 | August 12, 2026 WIB Last Updated 2026-08-12T13:16:48Z




Oleh : Ummu Khoirunnisa 
Pegiat Dakwah

Penderitaan warga Gaza akibat genosida oleh militer Israel masih terus berlanjut dan belum mereda.
Korban tewas mencapai puluhan ribu orang (lebih dari 73 ribu terluka/tewas). Mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Melalui serangan udara, dengan Jet tempurnya Israel terus menggempur berbagai wilayah seperti Kota Gaza, Deir al-Balah, Gaza Tengah, hingga Khan Younis.

Sejauh ini belum ada reaksi internasional, juga belum ada tindakan nyata yang mampu menyelamatkan Gaza.
Negara-negara seperti Qatar, Mesir, dan Turki merespon, namun dinilai masih sebatas mengecam.

Laporan PBB mengungkap adanya kekerasan seksual, penyiksaan sistematis, dan penghancuran 80% bangunan di Gaza, termasuk sekolah, rumah sakit, tempat ibadah dan rumah warga. Dokumen kerjasama bilateral merupakan kritik terhadap BOP (Bilateral Option Paper) karena dianggap tidak berguna dan tidak mampu menghentikan genosida atau mengubah kebijakan luar negeri negara sekutu Israel seperti Amerika Serikat.

Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan dalam salah satu sabdanya, "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi saudaranya itu dan membiarkan dirinya. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesulitan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan kesulitan dari dirinya pada Hari kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari kiamat." (HR. Muslim)

Seandainya saja para pemimpin dunia Islam bersatu menjatuhkan sanksi, embargo, dan blokade terhadap zionis Yahudi tersebut, maka dalam waktu sekejap negara itu akan hancur. Hanya saja semua itu tidak pernah dilakukan oleh pemimpin tersebut, mereka malah menjadi sekutu Israel. Tangan dan kaki para penguasa di negeri-negeri Muslim telah terantai oleh prinsip nasionalisme yang berasal dari Barat. Palestina yang semestinya menjadi saudara sesama Muslim yang wajib dilindungi justru dibiarkan begitu saja. 

Hal tersebut sangat bertentangan dengan apa yang Allah Swt. firmankan, "Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah ia secara seimbang dengan serangan terhadap kalian." (TQS. Al-Baqarah [2]:194)

"Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian." (TQS. Al-Baqarah [2]: 191)

Dalam Kitab Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah jilid 2 menyatakan bahwa jihad adalah fardu 'ain saat kaum Muslim diserang oleh musuh. Dalam konteks Palestina, fardu 'ain ini bukan hanya berlaku untuk Muslim di sana, tetapi juga berlaku untuk kaum Muslim di sekitar wilayah Palestina saat agresi musuh tidak bisa dihadang oleh warga setempat. 

Oleh karena itu sungguh telah berdosa kaum Muslim, terutama para penguasa mereka, yang berdiam diri dan tidak menggerakkan jihad untuk memerangi dan mengusir entitas Yahudi dari tanah Palestina. 

Adapun gencatan senjata pada kenyataannya tidak mampu menghentikan kekejaman Zionis. Berita terbaru sebanyak 
19 warga Palestina tewas dalam serangan di Jalur Gaza. Hal ini kian mengonfirmasi betapa telah terjadi pengabaian atas klaim rencana perdamaian dari AS. 

Israel dalam hal ini tercatat telah melakukan 3.795 pelanggaran gencatan senjata sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026. Islamtimes.com (6-8-2026) memberitakan dampak konflik agresi menyebabkan 1.250 warga gugur dan 4.110 lainnya luka-luka dalam periode tersebut. Pelanggaran aksi militer tersebut meliputi serangan udara, artileri, penghancuran rumah, blokade bantuan, hingga penahanan warga sipil.

Dari sikap keagamaan, Palestina ditegaskan sebagai tanah suci umat Islam yang wajib dilindungi kemuliaannya oleh semua kaum muslimin di dunia ini. Diplomasi Barat yang digadang-gadang akan mampu menyolusikan konflik nyatanya hingga kini telah gagal. Maka hal terbaik yang diperlukan tiada lain selain persatuan umat yang wajib terus diserukan sebagai solusi tunggal persoalan Palestina.

Sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk menerima kebatilan atau mengakui dominasi kaum kafir. Dengan persatuan umat di bawah kendali pemimpin yang menerapkan syariat Islam secara kaffah saja yang akan benar-benar mampu memobilisasi kekuatan umat untuk menghentikan kekejian zionis Israel.

Sudah saatnya umat Islam bangkit, menyatukan barisan, dan mengemban tanggung jawab syar'i untuk membebaskan Palestina serta mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Wallahualam bissawab.
×
Berita Terbaru Update