Oleh Umi Lia
Member Akademi Menulis Kreatif
Gaza masih terus dijajah, serangan terhadap penduduknya masih tetap dilakukan tentara Zionis menambah daftar panjang korban perang. Selain itu, harian Israel Haaretz, memberitakan bahwa berdasarkan citra satelit terkini, penjajah Yahudi terus memperluas wilayah yang dikuasainya dengan membangun tanggul tanah dan sistem parit yang membentang sajauh beberapa kilometer di wilayah Jalur Gaza. Bahkan di wilayah Khan Younis perluasan itu mencapai 400 meter, sementara di Rafah sekitar 1.300 meter di salah satu titiknya. Rezim penjajah ini secara bertahap terus menggeser "garis kuning" sehingga daerah di bawah kendali mereka menjadi 65 persen dari seluruh Gaza. (Repubilka.co.id, 27/7/2026)
Keberadaan tembok yang membelah Gaza itu secara diam-diam dibangun Israel, dan terlihat melalui citra satelit. Pembangunannya sudah berlangsung beberapa bulan terakhir. Tujuannya untuk memperluas pemisahan wilayah di Jalur Gaza melewati pemukiman warga yang telah hancur diserang bom-bom IDF. Penduduk yang berjumlah kurang lebih dua juta itupun semakin terdesak memadati tempat di sekitar pantai serta perbatasan Mesir. Awalnya telah terdapat "garis kuning" yang telah disepakati dalam gencatan senjata fase pertama pada akhir Oktober 2025. Garis ini sebelah timurnya dikontrol militer IDF sekitar 53-58 persen dari total wilayah Gaza. Sementara sebelah barat dikuasai Hamas di mana sekitar dua juta pengungsi tinggal di sana.
Pembangunan tembok pembatas sepanjang 23 kilometer yang membelah Jalur Gaza dinilai sebagai pencaplokan atau perampasan wilayah. Di tengah kendali militer yang semakin diperketat, semakin membuat warga Gaza terbatas ruang geraknya. Para pengamat internasional memandang tindakan ini sebagai penguasaan tempat secara sepihak dengan membuat batasan yang baru secara permanen. Dari fakta ini bisa disimpulkan bahwa mereka ingin menguasai seluruh Gaza. Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa hal itu dilakukan untuk menjamin keamanan negaranya. Mereka secara sistematis melakukan pemisahan wilayah utara dan selatan, menyerang penduduk serta menggenosida mereka. Setelah itu 80 persen wilayah Gaza ditetapkan sebagai zona militer rakyat sipil dilarang masuk.
Dunia internasional mengecam pembangunan tembok yang memperluas wilayah Israel ini. Lebih dari 80 negara, lembaga dan PBB yang berpusat di New York, menolak pencaplokan secara de facto karena melanggar hukum internasional. Selain itu tindakan militer Zionis ini akan merusak peluang damai lewat solusi dua negara. Fakta ini menegaskan bahwa entitas Yahudi tidak ingin Palestina merdeka, walaupun seluruh dunia mendesaknya.
Siapa pun orangnya akan tergerak hatinya untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan ini. Dari dulu hingga sekarang masyarakat dunia sudah bereaksi; PBB dengan banyak resolusi yang dikeluarkannya, negara-negara muslim dengan segala kecamannya, Global Sumud Flotilla serta Board of Peach (BoP) dengan program New Gaza-nya. Namun belum ada yang berhasil menghentikan aksi kekerasan penjajah Zionis laknatullah. Karena solusi yang digagas tidak berkorelasi dengan masalah yang terjadi. Banyak negara-negara yang tergabung dengan BoP yang diinisiasi oleh Presiden AS dengan harapan perdamaian akan terwujud di Palestina. Hamas pun menyerahkan kendali administrasinya kepada komite internasional seperti NCAG (National Committee for the Administration of Gaza) untuk melayani rakyat sipil. Tapi apa yang terjadi? Militer Israel menghalangi NCAG masuk ke Jalur Gaza. Semua itu membuat Gaza tidak memiliki pemerintahan sipil atau tidak berdaulat. Mereka tetap dijajah dan akhirnya terbukti mengharapkan kemerdekaan dari penjajah Yahudi, serta lembaga internasional seperti PBB dan BoP adalah suatu kebodohan.
Umat Islam tidak boleh tertipu oleh lembaga-lembaga internasional, terutama oleh propaganda BoP dengan New Gaza-nya. Mereka hanya ingin melanggengkan penjajahan dan meredam perlawanan rakyat. Palestina diambil alih pemerintahannya kemudian ditempatkan di bawah kendali asing. New Gaza itu merupakan proyek rekonstruksi yang dilakukan untuk kepentingan bisnis para pendukung AS. Hal ini pernah terjadi di Irak dan Bosnia. Setelah dihancurkan lewat serangan militer, kemudian dibangun kembali di bawah pemerintahan yang didukung penjajah. Orang yang beriman harus mengambil pelajaran dan berhati-hati jangan sampai terperosok ke lubang yang sama.
Di sisi lain berdamai dengan entitas Zionis adalah haram menurut Islam. Solusi yang hakiki untuk konflik Gaza adalah jihad. Jika warga Palestina belum berhasil mengusir penjajah Yahudi, maka kewajiban jihad ini menyebar ke negeri-negeri di sekitarnya yaitu negara-negara Arab. Karena satu negara muslim diserang hakikatnya adalah menyerang seluruh umat Islam sedunia. Tidak adanya persatuan umat (Khilafah) membuat jihad tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah tidak akan mampu melawan entitas Zionis yang didukung negara adidaya (AS). Negara super power hanya bisa dikalahkan oleh negara super power juga. Allah berfirman dalam QS an-Nisa ayat 75:
"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita dan anak-anak yang semuanya berdoa, "Ya Tuhan kami keluarkan kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisiMu dan berilah kami penolong dari sisiMu."
Hanya saja faktanya para penguasa negeri-negeri muslim berdiri di sisi AS mendukung BoP dan menjalin hubungan diplomasi dengan Zionis. Mereka berkhianat pada umat dan membiarkan muslim Gaza berjuang sendiri melawan genosida dan perampasan wilayah oleh tentara Israel. Karena itu para penguasa tersebut dan umat Islam pada umumnya harus terus diingatkan terhadap kewajiban menolong saudara seakidah. Umat harus bersatu di bawah satu kepemimpinan seorang khalifah. Dulu Baitulmaqdis dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khathab, saat ini pun Palestina hanya bisa dibebaskan dengan tegaknya Khilafah. Perjuangan untuk menegakkannya harus menjadi prioritas umat demi bisa menolong rakyat Gaza.
Khilafah adalah ajaran Islam yang wajib ditegakkan sebagai fardu kifayah. Imam al-Ghazali menyebutnya "mahkota kewajiban" karena dengan tegaknya khilafah seluruh kewajiban-kewajiban yang lain bisa ditunaikan. Seperti membaiat khalifah, menolong muslim yang tertindas, jihad menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia dan lain-lain. Khilafah itu sistem pemerintahan yang meneladani Nabi saw. yang akan menjaga akidah, pelaksana syariah, penegak agama, pemersatu umat dan pelindung negeri-negeri muslim. Sudah waktunya umat menyeru dan berdakwah demi tegaknya khilafah, karena itulah solusi untuk membebaskan Palestina dan persoalan-persoalan lain di dunia ini.
Wallahu a'lam bisawwab.
