Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Cegah LGBT, Kurikulum Saja Tidak Cukup

Tuesday, August 11, 2026 | August 11, 2026 WIB Last Updated 2026-08-11T05:09:33Z




Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd. (Pendidik Generasi)

Kabar bahwa Kementerian Agama menargetkan materi edukasi pencegahan penyebaran budaya lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) mulai diajarkan pada tahun ajaran 2026/2027 patut mendapat perhatian. Materi tersebut direncanakan masuk melalui mekanisme insersi ke dalam kurikulum yang sudah ada, mulai kelas IV SD hingga jenjang SMP dan SMA. (kemenag.go.id, 22/7/2026)

Sebagai pendidik yang setiap hari berhadapan dengan generasi muda, saya tentu menyambut baik setiap upaya melindungi anak dari berbagai pengaruh yang dapat merusak masa depan mereka. Anak-anak membutuhkan bekal untuk memahami identitas dirinya, menjaga kehormatan, dan membangun pergaulan yang sehat.

Namun, saya juga merasa perlu mengajak kita berpikir lebih jauh: apakah memasukkan materi bahaya L6BTQ ke dalam kurikulum sudah cukup untuk menyelesaikan persoalan?

Menurut saya, belum.

Sebab persoalan ini bukan sekadar persoalan kurangnya informasi. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu cara pandang hidup yang membentuk masyarakat dan generasi kita.

Ketika Pendidikan Berhadapan dengan Sistem yang Berbeda Arah

Budaya L6BTQ tidak tumbuh dalam ruang kosong. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah berkembangnya pandangan sekuler-liberal yang menempatkan kebebasan individu sebagai nilai yang sangat tinggi. Dalam pandangan tersebut, pilihan pribadi mengenai kehidupan dan relasi seksual semakin ditempatkan sebagai wilayah kebebasan individu.

Di sinilah pendidikan menghadapi persoalan yang tidak sederhana.

Di satu sisi, anak diajarkan untuk menjauhi budaya L6BTQ. Namun di sisi lain, mereka hidup dalam lingkungan yang terus menerima berbagai gagasan atas nama kebebasan, HAM, toleransi, dan keberagaman.

Anak akhirnya dapat bertanya: Jika setiap orang bebas menentukan dirinya sendiri, mengapa pilihan tertentu dianggap salah? Jika semua identitas harus dihormati, bagaimana saya harus bersikap terhadap perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama?

Pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab hanya dengan satu atau dua jam pelajaran.

Bahkan jika materi tersebut diberikan terus-menerus selama bertahun-tahun tanpa fondasi pemikiran yang kuat, ada risiko pembahasannya justru menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Anak mengenal istilahnya, tetapi belum tentu memahami mengapa Islam memiliki pandangan yang tegas tentangnya.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar 'anak perlu tahu bahaya L6BTQ', tetapi anak perlu memiliki standar berpikir yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam Islam, standar tersebut bukan tren, opini publik, atau perubahan zaman. Standarnya adalah wahyu Allah SWT.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 4)

Maka pendidikan generasi seharusnya tidak berhenti pada larangan perilaku, tetapi membangun akidah dan keterikatan kepada hukum syara' sebagai fondasi dalam mengambil sikap.

Jangan Sampai Generasi Mendatang Kehilangan Arah

Sebagai pendidik, kekhawatiran terbesar saya bukan hanya tentang apa yang terjadi pada anak hari ini, tetapi generasi seperti apa yang akan lahir 10, 20, atau 30 tahun mendatang.

Anak-anak hari ini adalah calon orang tua, guru, pemimpin, pembuat kebijakan, dan pembentuk masyarakat di masa depan.

Jika sejak kecil mereka tidak memiliki pemahaman yang kokoh tentang fitrah manusia, keluarga, pergaulan, dan batas halal-haram, mereka akan mudah mengikuti perubahan nilai yang datang silih berganti.

Hari ini persoalannya mungkin L6BTQ. Besok bisa muncul bentuk pemikiran lain yang juga menuntut penerimaan atas nama kebebasan.

Jika setiap generasi hanya diajarkan untuk menghadapi satu masalah demi satu masalah, pendidikan akan selalu tertinggal dari perubahan zaman.

Karena itu, yang harus dibangun bukan hanya kemampuan anak menghindari satu bentuk penyimpangan, tetapi kemampuan mereka berpikir dan bersikap berdasarkan Islam.

Bukan Sekadar Menambah Materi, tetapi Membangun Sistem

Pendidikan tentu memiliki posisi penting. Namun pendidikan tidak berdiri sendiri. Anak belajar bukan hanya dari buku dan guru, tetapi juga dari keluarga, media, lingkungan pergaulan, budaya masyarakat, dan kebijakan negara.

Karena itu, solusi terhadap persoalan L6BTQ membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

Pertama, penguatan akidah. Anak harus mengenal siapa dirinya, siapa Penciptanya, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa ia akan kembali. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa hidup memiliki aturan dari Allah SWT.

Kedua, pendidikan tentang sistem pergaulan Islam. Anak perlu memahami batas pergaulan laki-laki dan perempuan, konsep mahram, menjaga pandangan, menutup aurat, serta membangun rasa malu (haya'). Pendidikan ini harus diberikan secara bertahap dan sesuai usia.

Ketiga, keluarga harus diperkuat. Orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan karakter anak kepada sekolah dan internet. Rumah harus menjadi tempat pertama anak mendapatkan kasih sayang, keteladanan, sekaligus pemahaman Islam.

Keempat, lingkungan dan media harus mendukung pendidikan. Akan sulit membangun karakter Islami di sekolah jika anak setiap hari menerima pesan yang bertolak belakang dari media dan lingkungan.

Kelima, diperlukan sistem yang konsisten. Inilah titik penting yang sering terlupakan. Jika ingin persoalan ini diselesaikan sampai akar, tidak cukup hanya dengan program pendidikan atau insersi kurikulum. Dibutuhkan penerapan Islam secara kaffah, termasuk sistem pendidikan, sosial, media, keluarga, dan aturan kehidupan yang seluruhnya memiliki arah yang sama: menjaga akidah, kehormatan, keluarga, dan fitrah manusia.

Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang menjadi baik secara pribadi, tetapi juga bagaimana masyarakat dibangun agar mendukung kebaikan tersebut.

Sebagai pendidik generasi, saya berharap kebijakan edukasi tentang bahaya L6BTQ tidak berhenti sebagai tambahan materi di sekolah. Jadikan ini momentum untuk mengevaluasi kembali arah pendidikan kita.

Generasi tidak cukup hanya diberi tahu apa yang harus dijauhi. Mereka harus dibekali pemahaman mengapa sesuatu harus dijauhi, siapa yang menetapkan aturan, dan untuk apa mereka hidup.

Sebab generasi yang kokoh bukan generasi yang sekadar hafal banyak larangan, tetapi generasi yang memiliki akidah yang kuat, pemikiran yang jernih, kepribadian Islam, dan keterikatan kepada syariat.

Maka, jika kita sungguh-sungguh ingin menjaga generasi hingga masa depan, maka ikhtiar itu harus dilakukan secara menyeluruh. Bukan sekadar mengganti materi pelajaran, tetapi membangun kehidupan yang menjadikan Islam sebagai pedoman secara kaffah.

Wallahu A'lam Bishshawab
×
Berita Terbaru Update