Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gaza dan Siasat Perdamaian

Tuesday, August 11, 2026 | August 11, 2026 WIB Last Updated 2026-08-11T05:09:25Z





Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd. (Pendidik Generasi)

Kabar terbaru dari Gaza kembali menghadirkan situasi yang membuat kita bertanya: apakah pelucutan senjata benar-benar berarti berakhirnya penjajahan dan lahirnya perdamaian?

Pada akhir Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Board of Peace (BoP) telah mencapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Trump menyebutnya sebagai langkah besar menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng. Dalam kerangka tersebut, pelucutan senjata dikaitkan dengan rencana penarikan bertahap pasukan Israel dan pengambilalihan tanggung jawab keamanan oleh pasukan stabilisasi internasional bersama kepolisian Palestina (miragenews.com, 31/7/2026)

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: mengapa senjata kelompok perlawanan harus menjadi persoalan utama, sementara persoalan pendudukan dan keamanan warga Palestina belum benar-benar selesai?

Pertanyaan ini semakin relevan karena setelah kesepakatan tersebut diumumkan, serangan Israel masih terjadi. Pada 1 Agustus, misalnya, serangan udara Israel dilaporkan menghantam Gaza dan merusak fasilitas penyimpanan obat di sekitar Rumah Sakit Al-Aqsa (reuters.com, 1/8/2026).

Bahkan, laporan lain menyebut adanya ketidakjelasan mengenai penarikan pasukan Israel. Sementara Hamas mengaitkan pelucutan senjata dengan penarikan Israel, pejabat Israel justru menyatakan bahwa pelucutan senjata Hamas harus terlebih dahulu dibuktikan sebelum penarikan dilakukan (apnews.com, 1/8/2026).

Di sinilah umat perlu berhenti sejenak dan berpikir kritis.

Perdamaian, tetapi Siapa yang Memegang Kendali?

Bagi masyarakat dunia, kata perdamaian tentu terdengar indah. Tidak ada orang waras yang menginginkan perang terus berlangsung. Rakyat Gaza membutuhkan keamanan, makanan, rumah sakit, sekolah, dan kehidupan yang layak.

Namun, perdamaian tidak boleh hanya dimaknai sebagai berhentinya perlawanan, sementara akar persoalan tetap ada.

Jika sebuah wilayah masih menghadapi pendudukan, kehilangan tanah, penghancuran rumah, pembatasan kehidupan, dan ketidakpastian politik, maka persoalannya belum selesai hanya karena senjata salah satu pihak dilucuti.

Inilah yang perlu dikritisi dari narasi perdamaian yang berkembang.

Pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Gaza. Terlebih jika penarikan Israel tidak berjalan sebagaimana yang dijanjikan. Fakta bahwa Israel masih melakukan serangan setelah pengumuman kesepakatan menunjukkan bahwa proses tersebut masih penuh persoalan dan belum dapat dianggap sebagai perdamaian yang tuntas. ([Reuters][2])

Karena itu, umat Islam perlu memiliki literasi politik internasional. Jangan mudah terbuai oleh istilah-istilah yang terdengar menenangkan seperti peace, stability, reconstruction, atau security tanpa melihat siapa yang membuat aturan, siapa yang mengawasi, dan siapa yang memperoleh keuntungan dari pengaturan tersebut.

Kehadiran pasukan internasional pun tidak otomatis berarti Palestina telah bebas. Pasukan internasional dapat menjalankan fungsi keamanan atau stabilisasi, tetapi pertanyaan mendasarnya tetap: siapa yang menentukan masa depan Palestina?

Al-Qur'an mengingatkan umat Islam agar tidak lengah terhadap tipu daya pihak yang memusuhi mereka:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali 'Imran: 139)

Ayat ini bukan ajakan untuk bertindak gegabah. Sebaliknya, ia mengajarkan agar umat tidak kehilangan keteguhan, kejernihan berpikir, dan keyakinan ketika menghadapi situasi sulit.

Jangan Wariskan Palestina Hanya sebagai Berita

Sebagai pendidik generasi, saya melihat persoalan Palestina bukan sekadar isu geopolitik yang jauh dari kehidupan anak-anak kita.

Apa yang terjadi di Gaza membentuk cara generasi muda memahami keadilan, kepemimpinan, solidaritas, dan posisi umat Islam di dunia.

Jika generasi muda hanya melihat konflik Palestina sebagai berita yang datang dan pergi, mereka akan mudah lelah dan akhirnya apatis. Hari ini menangis melihat Gaza, beberapa hari kemudian lupa.

Sebaliknya, pendidikan harus membantu mereka memahami bahwa persoalan umat membutuhkan kesadaran politik yang matang, bukan sekadar emosi sesaat.

Mereka perlu belajar bertanya: Mengapa konflik berlangsung begitu lama? Mengapa negara-negara Muslim dengan jumlah penduduk dan sumber daya yang besar belum mampu menghadirkan kekuatan politik yang efektif? Mengapa keputusan tentang masa depan Palestina begitu sering bergantung pada kekuatan negara-negara besar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar generasi tidak tumbuh sebagai penonton sejarah.

Dari Solidaritas Menuju Kekuatan Umat

Membela Palestina tentu tidak cukup hanya dengan mengecam Israel atau menyebarkan berita di media sosial. Solidaritas kemanusiaan tetap penting, termasuk bantuan kemanusiaan bagi korban perang. Namun, persoalan sebesar Palestina membutuhkan penyelesaian yang lebih mendasar.

Dalam perspektif Islam, umat merupakan satu kesatuan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan tersebut semestinya melahirkan kepedulian sekaligus kekuatan politik untuk melindungi kaum Muslim yang dizalimi.

Karena itu, solusi Palestina tidak cukup hanya mengandalkan perubahan kebijakan negara-negara besar atau kesepakatan internasional. Umat Islam membutuhkan kekuatan politik yang mampu menyatukan kepentingan kaum Muslim, membangun kemandirian politik dan ekonomi, serta melindungi negeri-negeri Muslim dari dominasi kekuatan asing.

Dalam perspektif Islam ideologis, kebutuhan tersebut berkaitan dengan persatuan umat dalam satu kepemimpinan politik Islam, yakni Khilafah, yang menjalankan kehidupan berdasarkan syariat Islam secara kaffah.

Tentu, membicarakan solusi tidak berarti mengabaikan jalur diplomasi maupun bantuan kemanusiaan hari ini. Tetapi kita juga perlu berani bertanya lebih jauh: apakah umat akan terus bergantung pada keputusan kekuatan global, atau mulai membangun kekuatan politiknya sendiri?.

Sebagai pendidik, saya berharap anak-anak kita tidak tumbuh dengan mentalitas bahwa nasib umat selalu ditentukan oleh pihak lain.

Ajarkan mereka mencintai Palestina. Ajarkan mereka mendoakan saudaranya. Ajarkan mereka membantu korban. Tetapi lebih dari itu, ajarkan mereka memahami akar persoalan, membaca politik dunia, dan menyadari pentingnya persatuan umat.

Sebab Gaza bukan hanya tentang sebuah wilayah yang sedang berperang. Gaza adalah cermin tentang bagaimana dunia memperlakukan sebuah bangsa yang terus berjuang mempertahankan tanah dan kehidupannya.

Dan bagi generasi kita, pertanyaannya bukan hanya 'Apa yang terjadi di Gaza?', tetapi juga: 'Umat seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita—umat yang hanya mampu menyaksikan, atau umat yang memiliki kekuatan untuk menentukan masa depannya sendiri?'

Wallahu A'lam Bishshawab.
×
Berita Terbaru Update