Oleh : Purnama Sari
Job Fair Kota Depok 2026 yang diadakan di Depok Town Square pada hari Selasa menarik perhatian banyak pencari kerja, serta orangtua yang setia mendampingi anak-anak mereka dalam mencari pekerjaan. Kehadiran orangtua di acara ini bukan hanya untuk menemani, tetapi juga sebagai bentuk dukungan moral dan harapan agar anak mereka segera mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun mencari peluang. Salah satu orangtua, Rohmah Agustina, mengungkapkan harapannya agar job fair kali ini benar-benar memberikan kesempatan kerja dan bukan hanya sekadar acara seremonial. Rohmah, yang telah beberapa kali mendampingi anaknya dalam proses melamar pekerjaan, merasa perlu untuk memastikan bahwa proses pendaftaran berjalan lancar, terutama karena terdapat masalah teknis dengan aplikasi pendaftaran.
Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai semakin sulitnya mencari pekerjaan, terutama bagi lulusan baru yang sering kali harus memenuhi syarat pengalaman kerja. Rohmah berharap pemerintah dan perguruan tinggi dapat memperluas akses magang agar lulusan memiliki pengalaman sebelum terjun ke dunia kerja. Sumini, orangtua lainnya, juga mengantar putranya, Satrio, untuk pertama kalinya ke job fair. Ia ingin melihat langsung suasana bursa kerja dan berharap anaknya dapat menemukan pekerjaan.
Satrio sendiri mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan karena hanya lulusan SMA dan belum memiliki banyak pengalaman. Meskipun persaingan semakin ketat, Satrio berusaha meningkatkan kemampuannya agar dapat bersaing di pasar kerja. Job fair kali ini memberikan secercah harapan ketika salah satu perusahaan meminta Satrio untuk menindaklanjuti lamarannya. Tari, yang sudah beberapa kali menemani putrinya, Mufi, berburu pekerjaan, merasa kehadirannya dapat memberikan semangat.
Mufi, yang merupakan lulusan D3 Broadcasting, telah melamar ke banyak perusahaan namun belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Ia kini melamar berbagai posisi dan mengikuti pelatihan daring untuk meningkatkan keterampilannya. Kisah-kisah orangtua yang mendampingi anak-anak mereka dalam pencarian kerja menunjukkan bahwa perjuangan mencari pekerjaan tidak hanya menjadi beban anak, tetapi juga melibatkan dukungan dan harapan dari seluruh keluarga.
Inisiatif pemerintah dengan menggelar _job fair_ tidak memberikan solusi yang tepat karena sektor industri sedang mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, pembukaan sekolah dan program vokasi tidak serta-merta membuat lulusan lebih mudah mendapatkan pekerjaan, terbukti banyak lulusan vokasi yang tetap menganggur.
Selama kapitalisme masih menjadi sistem dominan di dunia, termasuk Indonesia, pengangguran akan tetap menjadi masalah besar. Tingginya tingkat pengangguran berdampak pada rendahnya kesejahteraan masyarakat yang dapat mendorong perilaku kriminal serta menurunkan rasa aman di dalam negara.
Implementasi sistem kapitalisme menjadi salah satu penyebab utama masalah pengangguran. Di negara yang menganut kapitalisme, pemerintah berperan sebagai pengatur yang mengutamakan kepentingan bisnis, tanpa benar-benar menjamin kesejahteraan rakyat atau membantu menciptakan lapangan kerja.
Akibatnya, terjadi kesenjangan besar antara jumlah pekerjaan yang tersedia dan jumlah pencari kerja. Negara semakin cenderung untuk menyerahkan tanggung jawab penciptaan lapangan kerja kepada sektor swasta dengan membuka ruang bagi investasi yang luas serta menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada swasta. Sumber daya alam yang melimpah di negeri ini justru dikuasai oleh pemodal dan dikelola oleh mereka. Ini bertentangan dengan tujuan mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebaliknya, dalam pandangan Islam, negara memiliki peran sebagai pengurus rakyat. Dalam penerapan sistem ekonomi yang berlandaskan Islam, negara tidak akan melepaskan tanggung jawabnya dan tetap berkomitmen untuk menjamin kesejahteraan rakyat serta menciptakan kesempatan kerja. Negara harus mendukung rakyat melalui pendidikan, bantuan modal, industrialisasi, penyediaan tanah, dll.
Islam menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar adalah tanggung jawab negara yang harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat. Oleh karena itu, penerapan sistem ekonomi yang sesuai dengan Islam perlu memastikan ketersediaan pekerjaan yang cukup dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Khilafah akan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang dirancang efektif dalam menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Khilafah akan mengelola sumber daya alam secara mandiri dan mencegah penyerahan kepada pihak swasta apalagi asing. Dengan pendekatan ini, negara dapat menciptakan banyak lapangan pekerjaan.
Dengan demikian, negara membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar dan akan terfokus pada pengembangan sektor pertanian, perdagangan, industri, dan jasa. Selain itu, negara juga akan memfasilitasi warganya untuk mengembangkan sektor riil melalui pendidikan yang berkualitas, penyediaan modal, keterampilan, informasi, serta infrastruktur yang memadai.
Inilah tanggung jawab Khilafah dalam menjaga dan merawat rakyatnya agar hidup sejahtera. Karena, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Wallahualam bissawab.
