Oleh Rukmini
Pegiat Literasi
Nusantaranews.net, Darah masih mengalir di Tepi Barat. Rumah masih dibongkar. Masjid masih diratakan. Tapi dunia seolah sudah kebal. Sementara itu di Gaza, penjajahan berganti baju. Dari rudal dan tank, menjadi kontrak dan investasi. Inilah wajah penjajahan hari ini. Kejam di lapangan, licin di meja perundingan. Zionis terus memperluas tanah. Amerika terus memperluas bisnis. Dan Palestina terus jadi korban.
Fakta: Dari Rumah Dibongkar Hingga "New Gaza"
Zionis Israel tidak pernah berhenti menganeksasi Tepi Barat. Ribuan serangan, teror, dan intimidasi dilakukan pemukim ilegal setiap bulan. Puluhan masjid dihancurkan. Rumah-rumah warga Palestina digusur. Terbaru, Israel merencanakan pembangunan 2.300 unit perumahan ilegal baru di Tepi Barat. Tujuannya jelas: memutus wilayah Palestina agar tidak bisa jadi negara.
Di sisi lain, proyek "New Gaza" makin gencar digaungkan. Proyek ini muncul setelah kesepakatan BoP-Business Opportunity Program-antara Amerika dan segelintir penguasa. Kedoknya "rekonstruksi Gaza". Isinya: membuka Gaza untuk investasi asing, pelabuhan komersial, dan zona ekonomi khusus. Tanah Palestina dijual atas nama "pembangunan". spiritofaqsa.or.id, Rabu (05/08/2026)
Dua kejadian ini berjalan beriringan. Di Tepi Barat Israel merampas dengan kekerasan. Di Gaza Amerika merampas dengan kontrak.
Analisis: Israel Raya dan Kapitalisme Darah
Aneksasi tidak akan berhenti hanya karena kecaman PBB. Selama 75 tahun resolusi PBB diabaikan. Karena bagi Zionis, membangun "Israel Raya" dari Sungai Nil ke Sungai Eufrat adalah doktrin negara. Kemerdekaan Palestina justru bertentangan dengan tujuan itu. Maka solusi dua negara hanya ilusi. Mustahil disetujui Zionis karena artinya mereka harus mengembalikan tanah rampasan.
Sementara itu Amerika tidak mau kalah. Jika Israel bermain dengan militer, Amerika bermain dengan ekonomi. Proyek BoP di Gaza adalah bentuk baru penjajahan. Palestina tidak dijajah dengan meriam, tapi dengan utang dan investasi.
Strategi BoP ini licik. Atas nama "kemanusiaan" dan "rekonstruksi", Amerika dan kroninya masuk membawa modal. Tanah Gaza yang hancur dijadikan proyek. Rakyat Palestina dijadikan buruh di tanahnya sendiri. Keuntungan mengalir ke perusahaan Amerika dan Zionis. Inilah kapitalisme bencana: semakin hancur suatu negeri, semakin besar peluang bisnisnya.
Yang lebih berbahaya, ada penguasa muslim yang ikut menandatangani dan mendukung BoP. Dengan dalih "demi rakyat Gaza", mereka justru menggadaikan kedaulatan Palestina ke korporasi. Ini pengkhianatan.
Solusi Islam: Kembali Kepada Jihad, Persatuan, dan Sistem Islam
Sejarah 75 tahun sudah membuktikan bahwa penjajah tidak akan pernah memberi kemerdekaan dengan sukarela. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah." QS. Al-Baqarah: 120.
Maka selama masih berharap pada PBB dan perundingan, maka selama itu pula Palestina akan terus terjajah. Jalan satu-satunya adalah dengan menyadarkan umat bahwa Zionis hanya paham bahasa kekuatan. Pembebasan Al-Aqsa hanya bisa dilakukan dengan jihad fi sabilillah. Jihad untuk mengusir seluruh penjajah dari tanah Palestina, bukan sekedar gencatan senjata.
Selain itu umat juga wajib melek terhadap tipu daya baru bernama BoP. Proyek "New Gaza" bukan bantuan kemanusiaan. Itu adalah penjajahan ekonomi dengan bungkus investasi. Ia menjadikan darah syuhada sebagai komoditas dan tanah wakaf kaum muslimin sebagai ladang bisnis Amerika. Siapapun penguasa muslim yang menandatangani dan mendukung BoP berarti telah berkhianat. Wajib bagi umat untuk membongkar topeng ini dan menolak segala bentuk normalisasi serta kerjasama dengan penjajah.
Namun, perlawanan dan kesadaran saja tidak cukup. Umat Islam hari ini ibarat buih, banyak jumlahnya tapi tercerai berai. 57 negara muslim tidak bisa berbuat apa-apa untuk Palestina karena tidak ada satu komando. Perbatasan dibuat penjajah agar kita saling asing.
Karena itu solusinya adalah menyatukan kembali negeri-negeri muslim di bawah satu naungan. Naungan itu adalah khilafah. Hanya dengan khilafah, tentara kaum muslimin dari berbagai negeri bisa digerakkan bersama untuk membebaskan Al-Aqsa. Hanya dengan khilafah, boikot politik dan ekonomi terhadap Amerika dan Zionis bisa dilakukan secara total. Hanya dengan khilafah, harta milik umum umat seperti SDA bisa digunakan untuk membiayai jihad dan membangun kembali Palestina.
Sejarah telah mencatat. Al-Quds pernah 88 tahun berada di tangan Salibis. Tapi saat umat bersatu di bawah Shalahuddin Al-Ayyubi dan satu akidah, Al-Quds berhasil dibebaskan. Itulah bukti bahwa kemuliaan umat hanya akan kembali saat kembali kepada sistem Islam.
Aneksasi di Tepi Barat adalah bukti keseriusan Zionis. Proyek New Gaza adalah bukti kelicikan Amerika. Dua-duanya tidak akan berhenti dengan doa dan kecaman saja. Keduanya hanya akan berhenti jika ada kekuatan yang menghentikannya.
Kekuatan itu adalah umat Islam yang bersatu di bawah sistem Islam. Kekuatan itu adalah khilafah. Selama kita masih percaya pada solusi PBB dan solusi bisnis, maka Palestina akan terus dijajah. Saatnya kembali pada solusi Islam.
Wallahu a’lam bish-shawab.
