Oleh: Suryani
Jakarta, CNN Indonesia – Memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di indonesia minim mendapatkan murid baru. Meskipun minim mendapat murid baru, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap digelar menyambut pelajar baru tersebut.
Kompas.com – Krisis murid terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Beberapa sekolah dasar (SD) negeri hanya menerima sedikit peserta didik, bahkan ada juga yang tidak mendapatkan muris baru untuk tahun ajaran 2026/2027.
Detik.com – jakarta, sejumlah SD Negeri di berbagai daerah kekurangan murid baru kelas 1 pada tahun ajaran baru 2026/2027. Ketua DPR RI Puan Maharani turut menyoroti hal ini dan mengingatkan agar pemerintah melakukan evaluasi.
Metrotvnews.com – memasuki tahun ajaran baru, sejumlah sekolah dasar negeri di berbagai wilayah di indonesia menghadapi tantangan serius serupa minimnya jumlah pendaftar. Fenomena ini melanda beberapa daerah, mulai dari lampung, banten, hingga jawa timur.
Fenomena krisis murid baru di Sekolah Dasar (SD) Negeri yang kian sepi peminat sementara SD Swasta justru membludak merupakan pergeseran sosial yang cukup mendasar. Pergeseran orang tua dari sekolah negeri ke sekolah swasta bisa di analisis dengan beberapa faktor berikut.
Pertama, dari segi fasilitas dan sarana prasarana yang lebih unggul di sekolah swasta dibandingkan sekolah negeri. Banyak SD Swasta menawarkan ruang kelas ber AC, laboratorium, sarana olahraga yang memadai. Sebaliknya sejumlah sekolah dasar negeri masih bergelut dengan masalah infrastruktur dasar yang rusak atau minim. Kedua, kualitas layanan dan responsivitas, sekolah swasta menganggap siswa dan orang tua sebagai mitra/layanan yang harus dipuaskan. Komunikasi antara guru dan orang tua umumnya lebih terbuka dan responsif dibandingkan sekolah negeri yang terkadang masih terkesan birokratis. Ketiga, persepsi keamanan dan lingkungan sosial. Adanya kekhawatiran terkait isu perundungan, pengawasan siswa yang kurang mendalam, hingga pergaulan membuat orang tua rela membayar lebih demi lingkungan sekolah swasta yang di anggap lebih terkontrol.
Krisis murid di SD Negeri tidak bisa dilepaskan dari masalah struktural dalam sistem pemerintahan dan tata kelola pendidikan daerah maupun nasional. Ketimpangan anggaran dan distribusi pembangunan, meskipun aturan mengamanatkan porsi anggaran pendidikan sebesar 20 %, realitasnya di tingkat daerah acap kali belum optimal atau tidak merata. Penyerapan anggaran sering terhambat oleh proses birokrasi, sehingga modal untuk pembenahan fisik SDN berjalan lambat. Kemudian masalah distribusi dan kepastian status guru negeri turut memengaruhi kualitas dan pembelajaran. Kebijakan rekrutmen yang tidak seimbang serta belum meratanya pelatihan kompetensi membuat sebagian SDN kekurangan guru tetap yang berdedikasi.
Dalam persepektif islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar dan tanggung jawab strategis yang mencakup individu, orang tua, hingga negara. menjawab krisis ini, islam menawarkan beberapa pembenahan konstruktif.
Pertama, keunggulan pendidikan islam terletak pada penguatan nilai moral dan spiritual. Kontruksi islam menegaskan bahwa ilmu tanpa pembentukan karakter hanya akan melahirkan krisis moral. Pemerintah harus merevitalisasi pendidikan karakter di SDN. kurikulum tidak boleh sekedar berorientasi pada nilai akademis formal, tetapi harus mengintegrasikan pembentukan adab, akhlak mulia dan nilai-nilai keagamaan secra substantif agar SDN kembali di percaya oleh orang tua.
Kedua, prinsip keadilan dan pemerataan. Islam melarang penumpukkan kualitas dan fasilitasnya pada kelompok tertentu (sebagaimana firman allah dam QS. Al-Hasyr:7 agar harta/sumber daya tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja). Pemerintah perlu menerapkan redistribusi sumber daya pendidikan yang berkeadilan. Fasilitas unggulan dan memberikan kesejahteraan pada guru-guru terutama honorer.
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment