Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kaum Zionis Takut Pada Anak-Anak Gaza?

Monday, July 20, 2026 | Monday, July 20, 2026 WIB



Oleh  Aurum

Pegiat Literasi dan Praktisi Kesehatan

 

Hari-hari ini, berita genosida di Gaza kian menghilang dari pemberitaan, sedikit demi sedikit orang-orang mulai lupa, teralihkan oleh banyaknya permasalahan di negerinya sendiri, atau bahkan euforia ajang 4 tahun sekali yaitu piala dunia.

Nyatanya, sejak 7 Oktober 2023 Gaza masih merana dan membara. Pada Selasa 23 Juni 2026, laporan terbaru komisi penyelidikan internasional perserikatan bangsa-bangsa menyebutkan otoritas dan tentara zionis Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina. (kompas.com, 25/6/26)

Selain banyaknya anak-anak yang menjadi korban jiwa akibat kebiadaban zionis Israel, tak kalah banyak juga anak-anak yang direnggut masa depannya. Akibatnya mereka menjadi cacat permanen dan trauma psikologis akibat pembantaian demi pembantaian yang terus terjadi pada mereka.

Anak Gaza Penghalang Agenda Israel Raya

Penargetan dan pembantaian yang dilakukan zionis pada anak-anak Palestina bukan tanpa alasan, mereka ingin agar generasi pejuang dan penjaga tanah Al Aqsa habis tak bersisa. Mereka ingin menghapuskan jejak perjuangan para pendahulu pejuang Gaza agar perjuangan menjaga tanah suci para nabi terputus.

Rasa takut yang dimiliki oleh penjajah Zionis mendorong mereka menempuh berbagai upaya untuk menguasai Al-Aqsa. Mereka berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata dan mengabaikan berbagai kecaman yang disampaikan, baik oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun sejumlah negara. Semua tindakan tersebut dilakukan demi mewujudkan agenda yang mereka sebut sebagai Israel Raya.

Peringatan demi peringatan yang zionis abaikan, resolusi demi resolusi yang zionis khianati, membuka mata dunia bahwa berharap pada Lembaga dunia PBB sama saja berharap pada produk penjajah. Sebagaimana sejarah menceritakan, bahwa PBB adalah organisasi bentukan Inggris dan Amerika.

Oleh karena itu, menjadi sangat naif jika kita berharap pada PBB atau bahkan berharap agar Israel akan melunak dan menghentikan genosida yang telah berlangsung puluhan tahun ini secara sukarela.

Kemana Para Pemimpin Negeri Muslim?

Gaza adalah benteng terakhir pertahanan kaum Muslim dalam menjaga Al Aqsa dari kaum serakah zionis yahudi. Namun ironisnya, sampai saat ini tidak ada satupun pemimpin Muslim yang dengan gagahnya membantu mengirimkan pasukan militernya demi melawan zionis penjajah dari tanah tersebut. Para pemimpin kaum Muslim, pemimpin negeri-negeri Arab yang seharusnya menjadi saudara seperjuangan yang berada dalam barisan para pejuang Gaza dalam melawan dan mempertahankann tanah umat Islam, justru mereka tunduk patuh pada Amerika dan sekutunya. Mereka-mereka sibuk dengan urusan-urusan dalam negeri mereka masing-masing.

Para pemimpin kaum Muslim takut untuk membantu saudaranya, sedangkan mereka hidup dengan hingar bingar penuh kemewahan diatas penderitaan saudara Muslim Gaza yang berjuang untuk tetap hidup demi tanah suci benteng terakhir kaum Muslim.

Di sisi lain, ketakutan para pemimpin kaum Muslim ini lahir dari sebuah paham, yaitu paham nasionalisme. Paham yang ditanamkan oleh para kafir penjajah pada benak-benak kaum Muslim sesaat setelah Kekhilafahan Utsmani runtuh. Kaum muslim dipecah belah, dibagi menjadi negara-negara kecil dan diberi bendera-bendera negaranya. Mereka dibungkam oleh pemahaman-pemahaman tentang nasionalisme dan kapitalisme yang mejadikan sekat-sekat penghalang kaum muslimim untuk saling peduli dan bersatu sebagai kaum muslimim yang satu.

Kekuatan Islam Ketika Kaum Muslim Bersatu

Berkaca dari sejarah, bahwa Islam pernah menguasai sepertiga dunia selama kurang lebih 13 abad lamanya. Daulah Islam memimpin dunia dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu pula dunia damai.

Selama lebih dari 13 abad, sejarah menunjukkan bahwa ketika umat Islam berada dalam satu kepemimpinan dan menjalankan syariat Allah melalui institusi negara, mereka mampu mencapai kemuliaan serta memimpin peradaban dengan menjunjung tinggi keadilan, kasih sayang, dan perdamaian. Oleh karena itu, persatuan umat Islam di bawah satu komando untuk memperjuangkan pembebasan tanah kaum Muslim dari penjajahan zionis melalui jihad fisabilillah dipandang sebagai sesuatu yang mungkin diwujudkan, bukan sekadar angan-angan. Hal tersebut sesuai dengan terjemah QS. Al–Imran ayat 103 yaitu:

“Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai  dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa umat Islam itu diperintahkan untuk bersatu dan dilarang untuk terpecah-pecah karena kaum Muslim itu bersaudara.  Kemudian HR. Muslim juga menjelaskan bahwa, ”Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan tidak bisa tidur dan panas (turut merasakan sakitnya).”

Dari ayat Al-Quran dan Hadis diatas menegaskan pada kita bahwa begitu pentingnya persatuan dan kesatuan umat Muslim, dan begitu dahsyatnya kekuatan umat muslim ketika mereka bersatu dalam satu komando. Hal tersebut dibuktikan dalam fakta-fakta sejarah, sehingga ketika aturan Islam diterapkan dalam institusi negara, maka perlindungan bagi anak-anak palestina, baik jiwa maupun raganya berupa kesehatan fisik ataupun mentalnya akan terjaga. Begitu pula pendidikan dan kesejahteraan akan dijamin negara,  sehingga masa depan generasi emas penerus peradaban yang dicita-citakan adalah keniscayaan.

Namun, kemerdekaan palestina, perdamaian dunia dan kemuliaan kaum muslim tidak bisa hanya kita dapat dari berdo’a semata. Hal itu perlu diperjuangkan, sehingga menjadi kewajiban setiap umat Muslim untuk senantiasa menuntut ilmu terus belajar dan mendakwahkan Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia. Alhasil, rahmatnya bisa dirasakan oleh seluruh penduduk bumi ini, sehingga Islam rahmatan lil alamin dapat diwujudkan.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update