Angka kematian ibu (AKI) Indonesia tertinggi di Asia Tenggara, padahal jumlah dokter kandungan surplus. Kebanyakan dokter kandungan terkonsentrasi di kota-kota besar, sedangkan di daerah, apalagi daerah 3T seperti Papua, jumlahnya sangat minim. Ini karena tingkat kesejahteraan dan fasilitas di daerah dan daerah 3T jauh jika dibandingkan dengan kota besar. Upaya pemerataan dokter kandungan, misalnya dengan program WKDS, saat ini tidak bisa dilakukan karena dianggap melanggar HAM. (Kompas..id/04/06/2026)
Hal ini disebabkan oleh AKI tinggi menunjukkan negara gagal melindungi nyawa ibu. Ini berdampak pada kelangsungan hidup anak. Dan kesehatan dalam kapitalisme hanya dianggap sebagai komoditas sehingga dipenuhi untuk tujuan materi berupa keuntungan, bukan untuk pelayanan rakyat. Kapitalisme hanya peduli pada jumlah tenaga kesehatan, tetapi abai dalam distribusinya sehingga tidak menyelesaikan masalah. Negara hanya menjadi regulator, bukan pengurus rakyat.
Lalu distribusi dokter kandungan menjadi salah satu penyebab tingginya AKI. Namun, sebenarnya persoalannya sistemis, yaitu terkait jaminan pemerataan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktur kesehatan berupa ketersediaan faskes, RS, dokter, perawat, bidan, dll.
Maka,hal ini akan sangat berbeda dengan Islam yang memposisikan kesehatan sebagai kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara Khilafah. Dan negara seharusnya mampu menyediakan fasilitas kesehatan, infrastruktur, dan nakes dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata. Tidak boleh ada daerah yang kekurangan layanan kesehatan.
Khilafah juga membangun infrastruktur seperti jalan ,untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Dan hanya Khilafah saja sebagai negara yang layak membiayai sektor kesehatan dari Baitul mal sehingga tersedia layanan gratis bagi masyarakat sedunia.

No comments:
Post a Comment