Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Memulihkan Senyum yang Hilang: Menjaga Cahaya Jiwa Anak di Tengah Arus Zaman

Thursday, April 23, 2026 | Thursday, April 23, 2026 WIB




Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T

Aktivis Muslimah


Dunia anak-anak seharusnya menjadi bentang cakrawala yang penuh warna dan harapan. Namun, realitas hari ini menyuguhkan potret yang kontras dan memilukan. Di balik keriuhan era digital, tersimpan sunyi yang menyakitkan: Indonesia sedang berada dalam dekapan darurat kesehatan mental anak.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Maret 2026) menjadi alarm keras bagi kita semua. Sebanyak 10% anak usia sekolah menunjukkan gejala gangguan psikologis, sebuah angka yang lima kali lipat lebih tinggi dibanding kelompok dewasa. Lebih tragis lagi, keinginan untuk menyudahi hidup kini bukan lagi sekadar narasi jauh, melainkan tren yang melonjak tajam hingga 10,7% pada 2023. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah rintihan jiwa generasi yang kehilangan arah dan perlindungan.

Pemerintah telah berupaya hadir melalui regulasi seperti PP TUNAS (Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak) dan kolaborasi lintas kementerian melalui SKB Kesehatan Jiwa Anak. Namun, kita harus jujur bertanya: Cukupkah pendekatan teknis administratif untuk mengobati luka yang bersifat sistemis?

Anak-anak kita hari ini tumbuh dalam atmosfer sekuler-liberal yang menyesakkan. Mereka dipaksa masuk ke dalam arena kompetisi kapitalistik yang memuja materi dan popularitas. Saat standar "kesuksesan" diukur dari apa yang tampak di layar media sosial, kegagalan sekecil apa pun menjadi beban mental yang menghancurkan. 

Di saat yang sama, pilar penyangga utama—yaitu keluarga—kian rapuh. Fenomena fatherless dan tingginya angka perceraian membuat anak kehilangan "rumah" tempat mereka pulang. Media digital pun beralih fungsi menjadi pengasuh virtual yang menyuguhkan kekerasan, pornografi, hingga gaya hidup hedonistik melalui para influencer yang abai terhadap nilai moral.

Dalam perspektif Islam, kesehatan mental bukanlah isu medis semata, melainkan buah dari ketenteraman jiwa yang berpijak pada akidah yang kukuh. Islam tidak hanya memberikan obat saat sakit, tetapi membangun ekosistem agar jiwa tetap sehat.

Islam menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah tempat bergantung (Ash-Shamad). Pemahaman ini menjadi pelindung internal yang luar biasa. Anak yang memiliki keterikatan kuat dengan Khalik tidak akan mudah limbung oleh tekanan duniawi, karena ia tahu bahwa ujian adalah bagian dari pendewasaan dan pertolongan Allah selalu dekat.

Pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak buruh industri, melainkan membentuk pola pikir (aqliyah) dan pola jiwa (nafsiyah) yang islami. Sinergi antara sekolah dan rumah memastikan anak mendapatkan cinta serta bimbingan yang konsisten, jauh dari budaya perundungan (bullying) yang merusak.

Negara memiliki peran krusial sebagai penjaga. Bukan sekadar membatasi usia akses media, tetapi secara aktif membersihkan ruang publik—baik fisik maupun digital—dari konten-konten sampah yang merusak mental. Negara juga menjamin akses layanan kesehatan jiwa secara cuma-cuma dan berkualitas sebagai bentuk tanggung jawab pemimpin kepada rakyatnya.

Kita tidak bisa terus-menerus memadamkan kebakaran jika sumber apinya—yakni tatanan hidup yang sekuler—tetap dibiarkan menyala. Darurat kesehatan mental anak membutuhkan lebih dari sekadar pembatasan jam layar atau sistem rating. Ia membutuhkan kembalinya nilai-nilai transendental dalam setiap sendi kehidupan.

Hanya dengan penerapan syariat yang kaffah, kita bisa mengembalikan "zona aman" bagi pertumbuhan anak-anak kita. Saatnya kita bergerak dari solusi tambal sulam menuju transformasi sistemis demi menyelamatkan masa depan generasi.

Wallahu 'alam bi showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update