Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Peringatan Nakba, Palestina Masih Terjajah

Friday, May 22, 2026 | Friday, May 22, 2026 WIB Last Updated 2026-05-22T09:08:49Z

Peringatan Nakba, Palestina Masih Terjajah

Penulis : Miftahul Jannah, S.Si 
(aktivis muslimah) 

15 Mei diperingati secara global sebagai tragedi Nakba, Palestina. Di tahun ini, beberapa wilayah baik internasional, nasional maupun lokal mengadakan sejumlah kegiatan untuk peringatan Nakba. Ribuan orang dari berbagai kota di Amerika Serikat menggelar aksi memperingati 78 tahun tragedi Nakba Palestina. Peserta aksi hadir dengan membawa bendera Palestina sebagai simbol untuk mendapatkan hak atas tanah air mereka. (MetroTVnews..com 17/5/2026)


Kedutaan Besar Palestina di Jakarta juga menggelar peringatan Nakba pada 18 Mei 2026 yang dihadiri sejumlah tokoh Ormas seperti PBNU untuk menegaskan dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina. Di Bandung massa menggelar aksi untuk mengutuk penjajahan serta mendukung pembebasan para aktivis dan jurnalis Indonesia yang ditahan oleh Zionis Israel.


78 tahun menjadi waktu yang tidak singkat bagi rakyat Palestina untuk berjuang melawan penjajah zionis atas wilayah mereka. Tidak terhitung berapa banyak nyawa yang melayang, jutaan pengungsi yang terkatung-katung di banyak tempat, rumah dan bangunan yang hancur, ataupun lahan dan ternak yang diambil paksa sejak pendudukan Israel atas Palestina. Dan sedihnya itu terus berlangsung sampai hari ini tanpa ada pembelaan berarti.


Tragedi Nakba (bencana, dalam bahasa Arab) merujuk pada sejarah pengusiran massal, perampasan tanah dan pembantaian etnis sekitar 750.000-800.000 warga Palestina pada tahun 1947-1949. Ini terjadi setelah keluar Deklarasi Balfour dan putusan PBB yang membagi wilayah Palestina menjadi negara terpisah bagi bangsa Arab dan Yahudi. Dan pada 1948 Israel memproklamasikan kemerdekaannya.


*Penjajahan Berkelanjutan*


Betapapun banyak aksi massa  dan kecaman menuntut penghentian penjajahan atas Palestina. Itu semua tidak berdampak apapun, bahkan Zionis Israel tetap tidak bergeming dan terus melakukan penyerangan terhadap rakyat Palestina. Israel sebagai anak emas dan sekutu utama Amerika di Timur Tengah memiliki perlindungan dan dukungan penuh dari AS atas  setiap keputusan politik ataupun penyerangan kepada Palestina. Bahkan Amerikalah yang menyokong militer Israel dengan persenjataan yang lengkap sehingga mereka memiliki keunggulan di kawasan itu.


Dukungan penuh AS, ditambah lagi dengan diamnya penguasa negri muslim menyebabkan terus berlanjutnya penjajahan ini. Penguasa negri muslim mestinya paham bahwa penjajahan tidak bisa dibiarkan. Bahkan Indonesia sebagai salah satu negri muslim terbesar di dunia dalam Pembukaan UUD'45 disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Sungguh ironis, katanya mendukung kemerdekaan dan perdamaian dunia, tapi untuk Palestina mereka buta. Kalaupun membela hanya berupa kecaman tanpa ada daya. Bertahun-tahun Palestina tetap terjajah, ini membuktikan bahwa sistem demokrasi-sekuler gagal menolong dan membebaskan mereka dari penjajahan. Ini sekaligus menunjukkan kepada kita betapa bahayanya konsep nation-state (negara bangsa) jika terus dipakai oleh negri muslim. Konsep ini telah berhasil memecah belah umat islam sehingga kehilangan kekuatannya.


Berharap kemerdekaan Palestina dari lembaga-lembaga internasional ataupun regional adalah perkara yang sia-sia. Pasalnya PBB sebagai organisasi internasional pemersatu bangsa justru menjadi pihak yang bertanggung jawab atas terwujudnya Zionis Israel di Palestina lewat resolusi PBB tahun 1947. Di samping itu, PBB tidak punya kekuatan bahkan di bawah kendali Amerika dengan hak vetonya.


*Butuh Kesatuan Umat Islam*


Jumlah umat IsIam sangat besar yakni lebih dari 2 miliar jiwa. Tapi jumlah yang besar ini tidak mampu membebaskan Palestina dari penjajahan. Jumlah umat yang besar ini terpecah menjadi lebih dari 50 negara dengan konsep nation-state nya. Konsep inilah yang menyebabkan ada sekat dan batas wilayah negara. Mereka fokus pada kesetiaan mutlak pada negaranya serta tidak ikut campur dengan urusan negara lainnya. Konsep inilah yang membuat meski jumlahnya besar umat IsIam menjadi tidak punya power untuk menghilangkan penjajahan atas Palestina.


Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna, mewajibkan pemeluknya untuk melakukan dakwah dan jihad sebagai wujud kesempurnaan imannya. Ini adalah kewajiban mulia yang hanya bisa dilaksanakan oleh negara yang berlandaskan akidah IsIam, yakni khilafah. Khilafah dipimpin oleh seorang khalifah yang dengan komandonya akan mengirim pasukan untuk membebaskan Palestina ataupun negri muslim lainnya dari penjajahan. Sistem khilafah akan menyatukan umat IsIam dari ujung timur hingga ke ujung barat. Tidak ada sekat kebangsaan, tidak ada konsep nation-state, mereka bersatu di bawah bendera IsIam. Syariah IsIam menjadi landasan hidup rakyat dan pemimpinnya. Mereka mengutamakan perintah Allah dan Rasul-Nya dibandingkan kepentingan pribadi atau golongannya. Oleh karenanya upaya untuk penegakan khilafah adalah perkara penting dan mendesak.


*Dakwah Mewujudkan Sistem Islam*


Tegaknya sistem IsIam dalam institusi khilafah adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah Muhammad SAW. Keberadaannya nanti adalah suatu yang niscaya. Meskipun hadirnya khilafah adalah suatu kepastian yang harus diyakini umat IsIam, tapi upaya untuk mewujudkannya adalah perintah wajib dari Allah. Umat IsIam tidak boleh berdiam diri, mereka harus berjuang untuk mengembalikannya. Perjuangan bukan sekedar berjuang, tapi perjuangannya harus jelas, terarah dengan mengikuti metode dakwah Rasulullah dalam mewujudkan negara IsIam di Madinah Al Munawarah.


Fokus dakwah Rasulullah adalah dengan memahamkan umat akan IsIam dan pentingnya kepemimpinan IsIam. Metode dakwah yang dilakukan Rasulullah adalah dengan melakukan pembinaan yang terus menerus kepada umat (tasqif), berinteraksi dan menyampaikan IsIam kepada masyarakat (tafaul ma'al ummah) dan ketika umat sudah menerima dengan kerelaan hati maka tahap terakhir dengan penerapan hukum islam oleh negara. Untuk mewujudkan dakwah ini, karakter dakwah yang dicontohkan Rasulullah adalah fikriyah (membentuk pemikiran dan pemahaman IsIam), siyasiyah (politis, menyampaikan pentingnya kepemimpinan IsIam) dan la unfiyah (tanpa kekerasan). Dengan metode dan karakter dakwah ini semoga tegaknya kembali khilafah tidak akan lama lagi. Sehingga terwujud kesatuan umat IsIam serta upaya pembebasan Palestina dari penjajahan menjadi hal yang mudah, InsyaAllah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update