Oleh. Hasna Syarifah, S.Si.
Pemerhati Remaja
Isu demiliterisasi Gaza kembali mencuat di tengah situasi yang belum benar-benar kondusif. Dalam beberapa pemberitaan terbaru, Board of Peace (BoP) mendesak Hamas untuk melucuti senjatanya sebagai bagian dari rencana perdamaian. Namun, tuntutan ini langsung ditolak oleh Hamas karena dinilai mengancam eksistensi dan perjuangan mereka.
Di sisi lain, Hamas justru mendesak dunia internasional untuk bertindak atas berbagai pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh pihak zionis. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dibuat, serangan masih terus terjadi dan menelan korban sipil hingga saat ini.
Bias Mediator dan Upaya Pelemahan
Jika dilihat lebih dalam, posisi BoP sulit disebut sebagai mediator yang benar-benar netral. Desakan pelucutan senjata justru terlihat sejalan dengan kepentingan Barat dan zionis yang sejak awal ingin melemahkan kekuatan perlawanan di Gaza. Dalam konteks ini, demiliterisasi bukan sekadar langkah menuju perdamaian, melainkan dapat dipahami sebagai upaya untuk menghentikan perlawanan rakyat Gaza secara sistematis.
Lebih jauh lagi, pelucutan senjata juga merupakan bagian dari serangan pemikiran (ghazwul fikri). Narasi yang dibangun seolah-olah menempatkan perlawanan sebagai ancaman, sementara penyerahan senjata dianggap sebagai satu-satunya jalan damai. Padahal, bagi rakyat yang hidup di bawah penjajahan, perlawanan adalah bentuk pertahanan diri yang sah secara moral maupun hukum internasional.
Akar Masalah: Penjajahan yang Belum Berakhir
Dalam perspektif lain, solusi yang ditawarkan tidak cukup hanya melalui jalur diplomasi formal. Selama akar masalah berupa penjajahan belum diselesaikan, berbagai kesepakatan hanya akan bersifat sementara dan semu. Oleh karena itu, diperlukan kekuatan nyata yang mampu benar-benar melindungi dan membela rakyat, bukan sekadar menjadi penengah yang pasif.
Gagasan ini menekankan pentingnya peran pemimpin yang kuat serta sistem yang menyatukan negeri-negeri Muslim. Dengan adanya kesatuan politik dan militer, akan muncul kekuatan nyata yang mampu menghentikan penjajahan serta melindungi nyawa kaum Muslim secara menyeluruh. Di samping itu, kesadaran umat perlu terus dibangun agar tidak mudah terjebak dalam narasi yang justru melemahkan posisi dan perjuangan mereka sendiri.
Wallahu a’lam bish-shawab
No comments:
Post a Comment