Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jembatan Rusak, Nyawa Rakyat Jadi Taruhan

Tuesday, March 03, 2026 | Tuesday, March 03, 2026 WIB

 


Oleh : Dini A. Supriyatin


Jembatan Sasak Geulis Dayeuhkolot merupakan akses utama dari roda perekonomian masyarakat Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Jembatan yang menjadi penghubung Bandung Selatan dan Kota Bandung ini menjadi akses vital yang menopang harapan warga yang setiap harinya menggantungkan hidup melewati jembatan tersebut. Namun kini kondisinya memprihatinkan. Jembatan Dayeuhkolot yang pertama kali dibangun pada tahun 1951 kini mengalami kerusakan beberapa tahun belakangan. Struktur jembatan tersebut mengalami keretakan. Banyak warga yang setiap harinya melintasi jembatan tersebut mengaku merasa khawatir jembatan akan roboh jika tidak segera diperbaiki. 


Pemerintah daerah sejauh ini hanya melakukan tindakan pencegahan sementara yaitu hanya dengan memasang balley pada sisi bagian atas jembatan yang retak. Namun masyarakat menuntut pemerintah untuk melakukan perbaikan secara permanen. Mereka memasang spanduk di sekitar jembatan tersebut sebagai aksi protes. Hal tersebut merupakan bentuk kekecewaan dan keresahan masyarakat karena tidak kunjung ada perbaikan hingga saat ini. 


Menanggapi aksi protes tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi angkat bicara. Ia mengungkapkan bahwa anggaran untuk perbaikan jembatan Sasak Geulis sudah disiapkan di tahun 2026. Dedi mengungkapkan bahwa ada dua konsep untuk pembangunan jembatan tersebut. Pertama, konsep pembangunan sesuai dengan model saat ini, dengan alokasi anggaran sebesar Rp 60 miliar. Kedua, konsep pembangunan jembatan akan ditinggikan sesuai saran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dengan alokasi anggaran sebesar Rp 100 miliar.


Mengenai kerusakan jembatan Sasak Geulis ini pemerintah daerah dan provinsi dinilai lamban dalam menangani hal tersebut, padahal kerusakan sudah berlangsung lama. Namun belum ada upaya maksimal untuk mengatasi hal tersebut. Masalah serupa juga tidak hanya terjadi di wilayah Kabupaten Bandung saja. Dibeberapa wilayah di Indonesia pun permasalahan akses jalan dan jembatan yang rusak dan terputus banyak terjadi karena minimnya perawatan dan tidak tersentuh pembangunan. Kondisi tersebut membuat pengguna jalan merasa tidak aman dan nyaman. Tidak jarang rusaknya jalan sering mengakibatkan kecelakaan bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. 


Jembatan dan jalan merupakan salah satu infrastruktur yang harus menjadi perhatian negara. Karena menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat. Jembatan dan jalan juga menjadi akses penghubung anatar daerah. Jika rusak atau terputus maka roda perekonomian masyarakat pun akan mengalami kendala dan hambatan. Tak jarang ada individu masyarakat mengeluarkan dana pribadi untuk memperbaiki jalan dikampungnya, atau membuat jembatan untuk akses karena pemerintah abai bahkan saling lempar tanggungjawab antar pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.


Dalam sistem kapitalis saat ini banyak infrastruktur dibangun dengan anggaran yang besar bahkan sampai harus berhutang ke luar negeri. Namun nyatanya infrastruktur yang dibangun bukan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Misalnya pembangungan kereta cepat dan jalan tol yang sarat akan kepentingan kapitalis. Tidak semua masyarakat bisa menikmati fasilitas tersebut karena mahalnya tarif.


 Sementara di pelosok-pelosok negeri masih banyak jalan-jalan yang perlu dibangun atau diperbaiki. Begitu juga dengan jembatan yang menjadi akses utama masyarakat tidak tersentuh anggaran perbaikan apalagi pembangunan. Bahkan masyarakat setiap hari harus bertaruh nyawa untuk melintasinya. Bukan tidak ada anggaran, hanya saja negara dalam sistem kapitalisme merasa tidak memiliki tanggungjawab penuh terhadap rakyatnya. Untuk pengurusan kekayaan alam yang seharusnya bisa menjadi sumber pendanaan kebutuhan rakyat, negara salah dalam teknik pengelolaan. 


Indonesia merupakan negara yang kaya. Berbagai macam sumber daya alam yang tidak ada di negara manapun ada di negara kita. Dengan kekayaan alam yang melimpah tersebut, negara akan mampu membangun infrastruktur beserta fasilitas yang cukup baik. Termasuk jika ada infrastruktur jembatan atau jalan yang rusak maka negara akan segera menggelontorkan dana untuk segera memperbaikinya, tanpa harus ada nyawa yang hilang terlebih dahulu.


 Namun sungguh ironis, karena sumber daya alam tersebut dikelola oleh swasta dan asing sehingga negara tidak mampu untuk sekedar memenuhi kebutuhaan rakyatnya, bahkan infrastruktur dan fasilitas publik disebagian besar wilayah terkesan sangat buruk. 


Tentu sangat jauh berbeda dengan islam. Pemimpin dalam islam menempatkan dirinya sebagai raa'in (pengurus) yang akan mengurusi urusan umat. Dia akan bertanggungjawab penuh terhadap kebutuhan umat. Karena baginya kepemimpinan adalah amanah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT. Ketika Umar Bin Khathab radhiallahu'anhu menjabat sebagai seorang khalifah, beliau mendapat kabar bahwa jalan di wilayah Irak rusak. Beliau yang terkenal tegas tiba-tiba menangis dan sangat gelisah lalu berkata, "Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalan rusak, aku khawatir Allah akan menghisabku karenanya, dan bertanya kenapa aku tidak meratakan jalan untuknya?"


Begitulah sosok pemimpin dalam islam akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk umat. Dia akan merasa takut jika ada salah satu dari warganya yang merasa tidak aman, bahkan seekor hewan sekalipun.


Wallahu 'alam bi showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update