Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesenjangan Generasi Narasi Absurd dalam Sistem Islam

Friday, December 19, 2025 | Friday, December 19, 2025 WIB Last Updated 2025-12-19T12:49:18Z

Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Kaffah)

Generasi hari ini sedang tidak baik-baik saja. Mereka bagai telur di ujung tanduk. Jika tak seimbang, terjatuh dan pecah. Nihil dukungan bagi perkembangan fisik dan mental, padahal mereka adalah aset generasi harapan bagi terwujudnya peradaban cemerlang.

Krisis multidimensi telah membuat kehidupan mereka seakan kuat padahal lemah. Mereka dihadapkan pada beratnya situasi dalam kungkungan sistem sekuler kapitalisme neoliberal.

Sistem yang rusak dan merusak ini, sedikit demi sedikit menghilangkan spiritualitas generasi. Generasi muslim pun akhirnya jauh dari identitas khas sebagaimana Islam mewarnai. Mereka mengalami degradasi karakter sampai pada krisis identitas yang parah.

Skeptis, agnostik, ateis menjadi tren tak terelakkan di kalangan muda muslim. Kasus mental health kian melejit diiringi maraknya berbagai kasus yang ditandai  psikis generasi yang kian rapuh, nihil bahagia, ketakutan akan menghadapi masa depan suram, kian menghantui. Belum lagi kian banyaknya kasus bullying, tawuran, inner child, kekerasan dan kejahatan berbasis online, hingga bunuh diri, membunuh orang lain, menjadi kasus yang terus mewarnai generasi hari ini.

Jika ditelisik, berbagai problem yang dihadapi generasi muda hari ini muncul seiring dengan masifnya pengarusan narasi soal kesenjangan generasi. Melalui narasi ini digambarkan bahwa ada jurang yang dalam antara generasi muda dengan generasi tua akibat perbedaan pengalaman, nilai-nilai, serta cara pandang yang disebut-sebut dipengaruhi oleh lanskap sosial, budaya, dan teknologi yang berjalan sangat cepat. Tidak jarang kesenjangan tersebut memunculkan kesalahpahaman, bahkan konflik antar generasi.

Kalangan milenial, generasi Z dan gen alpha seringkali diidentifikasi sebagai digital native karena lahir dan tumbuh di era digital. Mereka terbiasa dengan teknologi digital, internet, dan perangkat seperti smartphone sejak usia dini. Itulah kenapa, pola komunikasi mereka cenderung nyaman dengan pesan teks, media sosial, dsb..

Di tengah sekularisasi dan liberalisasi yang diusung kapitalisme global,  menjadikan generasi pekat dengan budaya permisif, inklusif, egaliter, konsumtif, hedon, dan materialistik. Saat  dunia memasuki era digitalisasi, paparan budaya tersebut kian makin cepat dan menguat. Cara pandang dan perilaku generasi muda kian terpengaruh. Nilai-nilai luhur  yang diwariskan generasi sebelumnya runtuh.

Sementara itu generasi tua  yang distigma sebagai entitas yang kaku, menekankan hierarki, mempertahankan status quo, moral minded, dsb.. Mereka juga dianggap digital immigrant karena lahir sebelum teknologi digital berkembang pesat. Cenderung gaptek dan merasa lebih nyaman dengan cara-cara konvensional seperti komunikasi langsung, dan sejenisnya menjadi ciri yang tak bisa dimungkiri. Walhasil, perbedaan  dituding sebagai jurang pemisah antar generasi. Generasi muda dianggap sering tidak menghormati generasi tua, menganggap mereka sebagai orang yang kolot, tidak tahu perkembangan zaman, terlalu mengekang, dll.. Sebaliknya generasi tua sering dituding meremehkan generasi muda, menganggap  mereka sebagai orang yang egois, tidak punya rasa hormat, tidak bijaksana, tidak sopan, melawan, dll.

Mirisnya, kesenjangan ini seolah terpelihara. Generasi muda terombang ambing dalam kelemahan tanpa penjagaan negara dengan para penguasanya yang muslim. Alih-alih menjaga, negeri-negeri muslim yang seluruhnya berparadigma sekuler kapitalisme, termasuk negeri kita, bahkan berkontribusi besar dalam menciptakan habitat yang tidak support bagi fisik dan mental generasi muda.

Penerapan sistem ekonomi kapitalisme oleh negara telah nyata-nyata menciptakan kemiskinan struktural yang membatasi hak generasi untuk mendapat jaminan kebutuhan mendasar secara optimal. Harga-harga pangan, sandang, dan papan begitu mahal karena produksi dan rantai pasok dikuasai para kapitalis. Begitupun pendidikan, selain dikapitalisasi sebagaimana kesehatan dan keamanan, arah dan tujuannya pun sangat sarat dengan nilai-nilai sekuler. Produk generasi pun kian tak menentu.

Begitupun dengan penerapan sistem sosial, hukum dan persanksian, serta sistem informasi dan kemediamasaan. Semuanya berbasis pada paradigma sekuler liberal hingga menciptakan masyarakat yang destruktif dan menihilkan munculnya profil generasi ideal sebagaimana yang dikehendaki Islam.

Profil generasi hari ini justru sangat lemah dan potensinya mudah dibajak oleh kepentingan kapitalisme global yang menarget mereka sekadar menjadi buruh sekaligus pasar bagi produk-produk industri mereka. Alhasil, alih-alih menjadi trend setter, generasi umat Islam hari ini justru cenderung menjadi generasi budak atau minimal pengekor yang mudah disetir keinginan Barat.

Kesenjangan Generasi Absurd dalam Islam

Sungguh Islam tak akan membiarkan kondisi ini berlangsung. Islam Faham betul urgensi keberadaan generasi muda kita dalam rangka memenangi perang peradaban.  

Generasi muda adalah pelopor perubahan dan pengemban risalah Islam sebagaimana generasi tua yang semestinya siap mewariskan spirit perjuangan untuk mengubah sistem sekuler dan mengembalikan peradaban Islam cemerlang. Dalam Islam, kesenjangan sangatlsh absurd.

Oleh karena itu umat Islam harus menolak segala sesuatu yang diproduksi media Barat, termasuk mitos kesenjangan generasi, karena dalam Islam, kesenjangan itu, jika pun ada, tidak berlaku untuk risalah Islam. Risalah Islam, sejatinya diturunkan untuk semua generasi dan berlaku bagi semua tempat dan bagi setiap masa.

Kewaspadaan terhadap berbagai jebakan teknologi digital yang terus berkembang seolah tanpa batasan harus diperkuat dengan ketahanan ideologis.  Ketakwaan yang tinggi dan berupaya sekuat tenaga mewujudkan kembalinya institusi negara yang siap menjadi perisai sekaligus mengurus umat dengan penuh amanah dan dilandasi kesadaran ruhiyah, harus menjadi misi yang terus diperjuangkan. 

Dalam Islam, semua generasi diciptakan  sebagai hamba Allah Ta'ala, juga sebagai khalifah di muka bumi untuk menyebarkan  rahmat bagi seluruh alam. Setiap  generasi punya tanggung jawab yang sama untuk memperjuangkan kemuliaan Islam dengan serius menegakkan institusi penerapnya, yakni Khilafah Islam. 

Seluruh generasi sudah seharusnya bergandengan tangan dalam aktivitas dakwah membangun kesadaran di tengah umat bersama jemaah ideologis yang mengikuti manhaj dakwah Rasulullah saw.. Tentunya kesadaran untuk terikat secara kafah dengan Islam sebagai konsekuensi iman harus selalu dibangun. 

Sungguh, umat Islam bisa kembali tampil sebagai umat terbaik, yakni generasi pemimpin peradaban cemerlang sebagaimana firman Allah Ta'ala,  

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS Ali Imran: 110). Dan ini harus difahami bersama sebagai jawaban dari adanya mitos kesenjangan generasi. Tak perlu ini menjadi penghalang karena Islam tak bisa dihadang hanya karena kesenjangan. Kembali pada kekuatan awal, bahwa dengan tegaknya sistem Islam Kaffah, kesatuan mengalahkan kesenjangan.

Wallaahu a'laam bisshawaab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update