Oleh: Ruji'in (Relawan Opini Andoolo, Sulawesi Tenggara)
Kini disuguhkan kembali dengan problematika yang kian hari semakin menambah dampak buruk bagi masyarakat. Saat ini dihadapkan langsung dengan fakta yang sangat menjerit bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang semakin menurun dan melemah sehingga menambah daftar beban yang panjang bagi masyarakat untuk mengalami kesulitan. Bagaimana tidak, naiknya dolar AS sangat membuat melemah mata uang kita yang berdampak langsung hingga ke dapur, sekolah dan rumah sakit sehingga rasanya sangat terasa dikantong setiap warga.
Seperti yang kita rasakan, ketika rupiah melemah yang naik bukan hanya kurs, harga pangan, kedelei,pupuk, solar, dan bahan pokok ikut merangkak. Daya beli tergerus dan yang paling parah, masyarakat menengah bawah kembali yang paling terkena imbasnya. Ribuan nelayan menggelar aksi demo didepan kantor bupati Pati. Mereka protes terkait kenaikan harga BBM solar nonsubsidi bagi nelayan yang naik empat kali lipatnya. (Detik.Com 4/5/2026).
Berdasarkan data terkini, depresiasi rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut dan bahkan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Hal ini didorong oleh kombinasi tekanan global yang kuat serta kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik. Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan yang signifikan. Pada perdagangan 19 Mei 2026, rupiah menyentuh level 17.720 perdolar AS, level terlemah sepanjang tahun ini. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup pada level 17.668, yang tercatat sebagai rekor terendah sepanjang masa. Sepanjang tahun berjalan (2026), rupiah telah melemah sekitar 6,30 % dan sejak akhir tahun 2025, nilainya terdepresiasai sekitar Rp. 1.050 perdolar AS. (WWW. BBC. Com, 16/5/2026).
Pelemahan mata uang rupiah saat ini merupakan rekor terbaru bahkan titik terendah sepanjang sejarah mata uang rupiah. Negara kita dibuat seolah dalam lampu merah karena dari data dasarnya ketika cadangan devisa kita jauh diatas standar aman internasional dan inflasi Indonesia menjadi naik drastis begitu liar. Di Indonesia sendiri presentasi pertumbuhan import sangat jauh melampaui eksport, bisa dibaca tujuh kali lipat import dari eksport sehingga membuat rupiah melemah dan nilainya terus mengalami penurunan.
Pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal tetapi juga internal yaitu kondisi ekonomi dalam negeri diantaranya, 1).pertama, arus modal (yang masuk dan keluar). Ketika semakin banyak modal yang masuk kedalam negeri maka semakin banyak yang membutuhkan rupiah, ketika rupiah dibutuhkan maka nilainya semakin tinggi. Namun kondisi kita hari ini menjadi sebaliknya, ketika semakin banyak modal keluar maka rupiah semakin tidak dibutuhkan dan nilainya rupiah semakin melemah. 2).kedua, kebijakan pemerintah. Saat ini negara memberi peluang untuk investasi jangka panjang (penanaman modal asing) ditambah adanya kondisi geopolitik internasional sedang tidak baik-baik saja adanya perang iran dengan israel-Amerika. Sehingga membuat kondisi rupiah semakin menurun, Hal itu memicu kepanikan ditengah masyarakat kususnya menengah kebawah dengan naiknya barang-barang pokok dan harga energi yang melonjak tinggi. Di sisi lain Amerika menawarkan suku bunga yang tinggi yang membuat para investor modal menarik modal dari negara berkembang ke negara Amerika. Dan akibatnya dolar AS semakin kuat dan rupiah melemah karena semakin tidak dibutuhkan. Disamping itu juga pengelolaan negara Indonesia dalam APBN tentang belanja negara yang sangat besar tetapi tidak berkesinambungan dengan kepentingan ekonomi masyarakat. Misalnya efisiensi disisi masyarakat selalu dikontrol tetapi disisi lain belanja pemerintah tentang MBG(makan bergizi gratis) sangat besar bahkan tidak ada efisiensi. Hal ini dapat menimbulkan pemicu penurunan kepercayaan yang sangat besar kepada masyarakat dan kemampuan pemerintah untuk mengelola keuangan negara. 3).ketiga, perdagangan(arus import dan eksport). Dalam arus import orang akan membayar dengan jumlah dolar tetapi dalam mata uang rupiah maka otomatis harga yang akan dibayar juga melonjak tinggi. Sehingga hal itu juga yang mempengaruhi dolar menguat dan rupiah melemah.
Sistem kapitalisme global dalam kondisi eksternal mereka lebih banyak bermain di nonriil atau pasar saham, hal itu dapat memudahkan asing untuk merekayasa. Alhasil semua itu sangat rentan terhadap kondisi ekonomi dalam negeri. Ironisnya ditengah goncangan ekonomi masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja, pemimpin negara kita melontarkan perkataan "orang desa kan gak pake dolar" . Perkataan yang seolah cukup menenangkan untuk masyarakat, tetapi ternyataa dampaknya terasa dimasyarakat itu sangat luar biasa. Dimana semua kebutuhan ternyata mayoritas dari import yang masuk ke dalam negeri. Dengan pelemahan rupiah otomatis harga lebih dominan mahal dan berdampak untuk menggerus kantong masyarakat yang menengah bawah.
Upaya negara yang hanya memberikan solusi tambal sulam, tidak memberikan jaminan pertahanan jangka panjang. Dimana pemerintah hanya menekankan dari pelemahan rupiah itu dengan kebijakan moneter yaitu Bank Indonesia (BI) dengan menaikan suku bunga yang bisa membuat investor asing menjadi berminat dan mendapatkan modal sehingga hal itu dapat menguatkan rupiah meningkat. Namun disisi lain solusi ini berdampak di ekonomi masyarakat, karena dengan naiknya suku-suku bunga disetiap lembaga maka otomatis akan memberatkan cicilan bunga di BI. Hal itu menjadi gambaran bahwa negara bukan menyelesaikan masalah tetapi malah menciptakan masalah baru kepada masyarakat. Alih-alih negara memberikan perlindungan rakyat, kebijakan yang diambil justru malah membebani rakyat. Belum hutang negara yang menumpuk tetapi kesejahteraan masyarakat tidak pernah dirasakan.
Kondisi ini sangat berbeda mendasar dengan sistem ekonomi Islam. Negara dalam islam memiliki tanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan masyarakat. Pemimpin dalam Islam bertugas sebagai ra'in yaitu pengurus rakyat serta melindungi masyarakat dari berbagai bentuk kesengsaraan. Sebagai mana Rosulullah SAW bersabda bahwa imam adalah pengurus rakyat dan bertanggungjawab penuh atas rakyat yang di urusnya. Konsep kepemimpinan dalam Islam menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama, bukan sekedar pertumbuhan ekonomi semu.
Dalam sistem ekonomi Islam, persoalan mata uang juga diatur dengan prinsip yang lebih stabil. Islam menetapkan penggunaan mata uang berbasis emas dan perak yaitu dinar dan dirham. Sistem seperti ini membuat nilai mata uang memiliki sandaran yang kuat sehingga tidak mudah dipermainkan oleh kepentingan politik global mau pun spekulasi pasar. Berbeda dengan sistem fiat money yang nilainya saat ini sangat bergantung pada kepercayaan pasar.
Selain itu, Islam memiliki larangan rhiba dimana dalam kapitalisme sistem pinjaman berbunga ini hanya menguntungkan pemilik modal sedangkan rakyat kecil hanya akan terjerat dalam hutang. Islam menghapus praktik riba dan menggantinya dengan mekanisme ekonomi yang lebih adil. Dalam Islam standar kesejahteraan masyarakat dengan terpenuhinya kebutuhan pokok individu per individu. Ketika negara butuh pemasukan maka menghadirkan APBN berbasis syariah. Dimana pos pemasukannya berasal dari harta umum, harta negara dan zakat. Hal itu menjadikan ketentuan syariat yang mengatur negara, bukan berasal dari pajak dan hutang ribawi. Inilah konsep mekanisme ketika Islam dijadikan sebagai solusi ditengah kehidupan maka akan memberikan solusi yang komprehensif dan mensejahterakan.
Waallahu'alam Bhis-shawab.

No comments:
Post a Comment