Oleh : Ummu Ghafiqi
Pemerhati Politik
Indonesia tengah mengalami darurat kesehatan mental, terutama pada kalangan generasi Z atau disebut juga Gen Z. Dibandingkan dengan generasi-generasi lainnya, Gen Z adalah generasi yang paling banyak mengalami kecemasan hingga gangguan mental. Laporan Departemen Kesehatan RI Tahun 2026 menunjukkan sekitar 34,5% remaja atau kalangan Gen Z Tanah Air terindikasi gangguan kesehatan mental. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi depresi per kelompok usia di Indonesia, antara lain 2,0% pada rentang usia 15-24 (Gen Z); 1,5% pada rentang usia 25-34; dan 1,0% pada rentang usia35—44. (fikom.unpad.ac.id)
Faktor pemicu gangguan kesehatan mental Gen Z inipun beragam, mulai dari kekhawatiran akan masa depan, tekanan finansial, ekspektasi sosial, dan lain-lain. Rincian hasil survey oleh Jajak Pendapat (2026) dan hasil survei oleh Harmony Healthcare IT (2023) menunjukkan hasil yang serupa, yakni 2 faktor teratas yang memicu gangguan kesehatan mental pada Gen Z adalah kekhawatiran akan masa depan dan tekanan finansial. Setelah itu, diikuti dengan faktor ekspektasi sosial dan faktor relationship yang mencakup masalah hubungan percintaan dan keluarga. (data.goodstats.id)
Kondisi ekonomi negeri yang kian hari kian merosot, serta pengaruh media sosial yang menyajikan praktik hedonisme hingga relationships goals standar media sosial nyatanya telah berdampak pada kesehatan mental hingga skeptisnya Gen Z akan masa depan. Namun, dari kondisi mereka yang bersikap skeptis tersebut diprediksi dapat mengarah pada resistensi yang kemudian mampu menjadi titik balik bagi generasi ini.
Gen Z Alami Depresi, Tetapi Miliki Potensi
Krisis kompleks berbagai aspek yang melanda dunia saat ini menjadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Tekanan finansial dan kekhawatiran akan masa depan muncul akibat berbagai faktor yang berkesinambungan antara harga barang dan jasa yang cenderung meningkat, pendapatan masyarakat yang tidak serta merta meningkat dan malah cenderung menurun pada sebagian kalangan, daya jual beli menurun sebab pendapatan masyarakat yang menurun, hingga sulitnya lapangan pekerjaan dan maraknya PHK. Sementara itu, media sosial yang menyajikan praktik hedonisme berikut berbagai standar sosial ala medsos secara halus mempengaruhi ekspektasi gaya hidup Gen Z dan dalam hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.
Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuler kapitalis. Gen Z, sebagai digital native karena sepanjang hidupnya cenderung berdampingan dengan teknologi dan dunia digital, sebenarnya berpotensi menjadi generasi yang unggul sebab kemudahan mereka dalam memperoleh informasi dari pada generasi sebelumnya. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, peradaban sekuler kapitalis menghantarkan Gen Z pada arus deras informasi di era digital yang tidak selalu bermanfaat bagi diri mereka, bahkan cenderung bersifat destruktif.
Kondisi mencemaskan yang terjadi pada Gen Z ini tidak lepas dari abainya riayah (pengurusan) negara terhadap generasi. Alih-alih dirangkul dan dibina, generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi-generasi di atasnya. Padahal perbuatan menstigma buruk Gen Z oleh generasi atas, apalagi jika tidak disertai dengan solusi yang menuntaskan masalah, bisa jadi adalah sebuah bentuk proyeksi pembinaan generasi sebelum-sebelumnya yang kurang merangkul pemuda. Dengan kata lain, terjadi pembinaan generasi muda yang tidak solutif secara turun-temurun pada mayoritas generasi atas dan dilestarikan dengan sistem yang tidak mendukung perbaikan mental generasi.
Di sisi lain, kecemasan yang disertai dengan sikap kritispada Gen Z bisa menjadi peluang bangkitnya generasi untuk perubahan menuju kondisi yang lebih ideal. Untuk mencapai hal itu, generasi muda butuh dirangkul, dibina, dan dipahamkan terkait akar masalah dari problematika yang mereka hadapi serta solusi hakiki yang akan menuntaskan berbagai permasalahan umat dengan tanpa menimbulkan permasalahan lainnya. Pembinaan generasi muda ini bukan hanya tugas bagi generasi-generasi sebelumnya, melainkan juga adalah kewajiban negara.
Islam, Solusi Hakiki untuk Kecemasan Gen Z
Islam adalah solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini. Masyarakat, termasuk Gen Z, dalam negara yang menerapkan sistem Islam terjaga dari kecemasan yang ditimbulkan oleh berbagai kengerian dampak penerapan sistem kapitalis sekuler. Hal ini dikarenakan di dalam Islam, negara hadir sebagai pengurus (ra’in), dimana negara wajib mengurus pemenuhan berbagai hak individu termasuk di antaranya hak pendidikan dan akses terhadap lapangan pekerjaan.
Dalam Islam, negara berkewajiban mendidik masyarakatnya sehingga mereka memiliki kepribadian Islam, bermental kuat, dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Sistem pendidikan Islam sejak dini menanamkan pemahaman pada setiap individu terkaitvisi-misi hidup agar fokus pada hal yang patut untuk diperjuangkan sebagai seorang Muslim, serta qada-qadar agar menyadari hal apa yang seharusnya dirisaukan dan agar bersabar atas kesulitan yang menimpa dirinya.
Selain itu, negara yang menerapkan sistem Islam hadir sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Syekh Abdurrahman al-Maliki dalam buku Politik Ekonomi Islam menjelaskan bahwa politik ekonomi Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan primer setiap individu dan membantu tiap-tiap individu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kadar kemampuannya.
Bukan dalam sektor pendidikan dan ekonomi saja, namun risalah Islam sesungguhnya mengandung seperangkat aturan menyeluruh agar manusia hidup dengan sebaik-baiknya dan jauh dari faktor-faktor pemicu gangguan kesehatan mental. Sayangnya, solusi dari Islam masih dipandang sebelah mata oleh sebagian umat Muslim itu sendiri. Padahal, solusi dari Islam berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik bagi seluruh umat manusia, dan diajarkan oleh manusia pilihan yang begitu mencintai umatnya yakni Rasulullah saw. Maka sudah saatnya semua elemen umat tak terkecuali kalangan Gen Z mempelajari Islam secara menyeluruh dalam berbagai aspek, menjadikan Islam sebagai solusi yang sahih, peduli terhadap kondisi umat, dan menyadarkan pemuda lainnya bahwa Islam adalah solusi hakiki atas segala problematika umat.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment