Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ibu, Madrasa Pertama dan Penentu Lahirnya Generasi Bertakwa

Thursday, December 25, 2025 | Thursday, December 25, 2025 WIB

 



Oleh: Fiani (Aktivis Muslimah Konsel)


Setiap perubahan besar dalam sejarah umat selalu bermula dari pelukan dan didikan seorang ibu yang tidak pernah menyerah dalam kondisi apapun dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah SWT. Seorang ibu bukan sekedar melahirkan dan membesarkan anak-anaknya tapi juga mendidik dan membimbingnya agar tumbuh menjadi anak yang taat pada Allah SWT, mencintai orang tuanya dan menghargai orang lain. Seorang ibu yang sadar perannya tidak hanya mengajarkan anaknya berjalan dan bebicara tetapi menanamkan akidah Islam sejak dini, memberikan pemahaman tentang hakikat hidup yakni tujuan paling mendasar dari keberadaan manusia. Kemudian, seorang ibu memiliki kesadaran politik yang tajam memahami bahwa kehidupan tidak pernah adil di sisitem kapitalis. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak membawa perubahan, dari segi pendidikan, kesehatan, ataupun sosial.  Maka cita-cita seorang ibu tidak lain agar anaknya punya jiwa kepemimpinan yang adil. Namun di era moderen hari ini, peran ibu ditengah masyarakat semakin terancam dari bebagai serangan pemikiran. budaya sekuler, kesetaraan gender, HAM, moderasi beragama, dan penerapan sistm ekonomi kapitalis yang telah mengubah cara pandang masyarakat tentang peran ibu dan keluarga hanya sebagai individu yang memiliki hak dan kewajiban sebatas seorang ibu, bukan pencetak generasi yang beriman. Peran ibu tersebut untuk mencetak generasi telah hilang, bagaimana nasib generasi umat hari ini?


Dikutip laman antaranews.com, peringatan hari ibu yang diperingati di indonesia setiap tahunnya pada 22 Desember, masih dimaknai sebagai perayaan Mother’s Day internasional (24/12). Perayaan Hari ibu selalu dirayakan secara simbolik melalui ucapan, hadiah, dan uangkapan kasih sayang. Namun, ditengah krisis moral dan derasnya arus budaya sekuler, peringatan Hari ibu mestinya tidak berhenti pada sekedar kata pujian yang telah mendidik dan membesarkan anaknya hingga pandai dalam segi akademik, tapi harus juga menjadi reflesi mendalam atas peran ibu dalam membentuk generasi bertakwa, yaitu generasi yang memiliki keimanan kokoh, akhlak mulia, dan sesuai tuntunan ilahi.

Namun, realitas sosial hari ini, peran ibu sering diredukasi hanya sebagai pengasuh fisik, sementara itu tanggung jawab seorang ibu dalam pembentukan iman, adab dan visi hidup anak dialihkan kepada sekolah, negara bahkan media digital. Akibatnya, peran ibu dalam mendidik anak agar menjadi peribadi yang bertakwa tidak lagi dianggap sebagai prestasi mulia. Maka muncul narasi kesetaraan gender: (perempuan harus sama dengan laki-laki dalam peran dan tanggung jawab), dan (kehamilan, menyusui, pengasuhan dianggap penghambat kemajuan perempuan). Inilah sistem kapitalis yang memisahkan agama dengan kehidupan berbeda dengan Islam 


Kacamata Islam, peran ibu sangat penting dalam mewujudkan generasi yang bertakwa dengan menanamkan nilai-nilai tauhid pada diri anak, agar terbentuk cinta kepada Rabbnya. Maka penting peran kelurga dalam menentukkan corak kepribadian dan keyakinan anak. Dalam hal ini ibu diharuskan mengaji Islam untuk bekal dalam pembentukan karakter anak. Sebab, Ibu akan dipandang sebagai penjaga moral, akhlak dan perilakunya akan ditiru oleh anak-anaknya.

Rasulullah Saw bersabda:


_“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi Nasrani, atau Majusi”._ (HR. Bukhari dan Muslim)


Ayat diatas jelas, bukan hanya ibu menjadi peran utama dalam mendidik anak-anaknya tapi juga peran ayah sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Pendekatan emosional dan interkasi sehari-hari akan membuat anak semakin dekat dengan orang tuanya, dan ini akan mudah di didik. Membiasakan anak untuk ibadah kepada rabbnya dengan mengajarkan sholat, membaca Al-Quran, bersedekah, dan ibadah lainnya agar ketaatan tumbuh sebagai kebutuhan tanpa paksaan. Tidak hanya itu, ibu menanamkan adab dan mengenalkan batasan halal dan haram dalam kehidupan sehari-harinya serta menjaga pergaulan anak dari pengaruh yang merusak iman. Seperti yang dicontohkan ibu dari Abdullah bin Zubair, seorang sahabat Nabi Saw yang dikenal berani, jujur, dan teguh membela kebenaran. Asma mendidik anaknya dengan keimanan yang kokoh, keberanian berkata benar, serta ketundukan penuh kepada Allah, bukan kepada kekuasaan atau keselamatan dunia semata.


Demikinlah, peran ibu dalam Islam yang merupakan fondasi utama dalam pembentukan generasi yang bertakwa tapi hanya dengan sistem Islam yang bisa mewujudkannya. 


Waulahu alam bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update