Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tanah Sudan, Negeri Emas yang Terampas

Thursday, November 20, 2025 | Thursday, November 20, 2025 WIB

 


Oleh Sumiyah Umi Hanifah

Aktivis Muslimah

Sudan, merupakan sebuah negara dengan potensi besar dan kekuatan Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa. Tanah primadona yang kaya akan tambang emas ini selama puluhan tahun terjebak dalam berbagai krisis. Di antaranya adalah konflik berkepanjangan antara identitas Islam dan kelompok yang otentik dengan sistem dominasi kekuasaan global. Belum sembuh luka lama, Sudan kini kembali berada di bawah bayang-bayang genosida.

Dilansir dari republika.id, Kamis  (31/10/2025) menyebutkan bahwa sedikitnya ada 1500 orang warga Sudan tewas akibat penguasaan Pasukan Rapid Support Forces (RSF) atau Pasukan Dukungan Cepat, di El-Fasher. Setelah pengepungan selama 18 bulan, yang diwarnai kelaparan dan pengeboman, Kota El-Fasher yang merupakan benteng terakhir militer Sudan, di wilayah Darfur bagian Barat, jatuh ke tangan paramiliter RSF, pada 26 oktober 2025 lalu.

Pemerintah Sudan memberitakan bahwa pada hari Rabu, sejumlah 2000 orang telah terbunuh di Kota Khartoum. Pasukan RSF dengan brutal melakukan pembantaian secara biadab yang dilakukan di sepanjang rute pelarian. Paramiliter RSF juga melakukan penggerebekan dari rumah ke rumah, penangkapan dan pemerkosaan massal terhadap perempuan dan anak-anak perempuan. Bahkan, RSF dengan tanpa ampun membantai warga sipil yang berada di masjid-masjid, termasuk menyerang dan menculik para petugas medis.

Sebagaimana diungkapkan oleh Mona Nour Al Daem, seorang relawan kemanusiaan untuk pemerintah Sudan. Mona menyebutkan, ada kurang lebih 450 orang tewas di Rumah Sakit Bersalin Arab Saudi. Jaringan (kelompok) Dokter di Sudan yang memantau perang saudara tersebut menyebutkan, situasi yang ada saat itu seperti "genosida yang nyata", dan merupakan bagian dari kampanye pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja dan sistematis. Kota El-Fasher membara, hal itu tampak dari kerusakan infrastruktur yang parah, horor pemerkosaan massal, serta pembantaian yang kekejamannya di luar nalar.

Data PBB menyebutkan selama peperangan, sedikitnya ada 150 ribu orang tewas dan 14 juta orang mengungsi, serta ratusan ribu warga Sudan terjebak dalam pengepungan. Sehingga banyak dari mereka yang sekarat karena kelaparan, kekurangan gizi, penyakit, teror, dan berbagai tindak kekerasan lainnya. cnbcindonesia.com, Rabu (5/10/2025)

Menurut laporan "Pers Today", sebelum terpisahnya Sudan Selatan, negara ini merupakan wilayah Arab-Islam terbesar di Benua Afrika dan salah satu dari sepuluh negara terluas di dunia. Posisi Sudan sangat strategis, yaitu di tepi Laut Merah, berbatasan dengan delapan negara penting di Afrika, seperti: Afrika Tengah, Sudan Selatan, Chad, Mesir, Eritrea, Ethiopia, dan Libya, serta dialiri oleh Sungai Nil, telah menjadikan Sudan menjadi salah satu kawasan paling sensitif secara geopolitik di dunia.

Belum lagi, Sudan merupakan satu dari beberapa negara penghasil emas terbesar di dunia. Pada tahun 2024, negara ini mencapai rekor produksi emas dengan total 64,4 ton emas, sehingga menghasilkan pendapatan sekitar USD 1.6 miliar. Dikutip dari Xinhua, Selasa (4/11/2025)

Potensi eksotis inilah yang membuat Sudan dilirik oleh investor dari Teluk, yaitu Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Potensi ekonomi dan budaya yang besar, SDA yang kaya, lahan pertanian subur, hingga banyaknya tenaga kerja muda, merupakan daya tarik tersendiri bagi para investor. Negara-negara di Teluk ini mulai melakukan investasi besar-besaran sejak tahun 1970-an.

Sejak meraih kemerdekaan pada tahun 1956, Sudan telah mengalami lebih dari 20 kali kudeta militer. Kini negeri ini kembali terjerumus dalam konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan yang dipimpin oleh Abdel Fattah dan Pasukan RSF yang dipimpin oleh Mohamad Hamdan Dagalo. Yang mana Pasukan RFS disebut-sebut mendapat sokongan dana dan senjata dari Uni Emirat Arab (UEA). Keserakahan telah membutakan mata hati para pemimpin negeri-negeri Muslim di kawasan Timur Tengah, sehingga mereka terlibat dalam perampasan SDA milik saudaranya, rakyat Sudan.

Krisis di Sudan sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, dan bukan murni konflik etnis. Akan tetapi di dalamnya ada keterlibatan negara adidaya Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang melibatkan negara-negara bonekanya (zionis) dan UEA. Dalam konflik yang terjadi di Sudan ini, terjadi perebutan pengaruh politik proyek Timur Tengah Baru (AS) yang bertujuan untuk "merampok" SDA yang melimpah ruah.

Sistem kapitalis liberal yang diterapkan saat ini, telah memuluskan ambisi negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat (As) dan China, untuk merampas SDA di Sudan. AS sebagai pengusung ideologi kapitalis telah lama mendominasi perpolitikan, perekonomian, dan menancapkan kuku kolonialisme-nya di berbagai negeri. Cara yang ditempuh yaitu dengan mendirikan lembaga-lembaga internasional, yang aturannya dibuat hanya untuk melanggengkan hegemoninya atas negeri-negeri jajahannya.

Negeri-negeri muslim di seluruh dunia yang memiliki SDA melimpah, semua hanya menjadi objek permainan dan perebutan negara-negara adidaya. Sudan dengan SDA yang dimiliki akan bisa hidup sejahtera, apabila potensi kekayaan alamnya tidak dieksploitasi dan tidak dijarah oleh "pihak asing". Selama ini Sudan dijadikan objek perebutan kekuasaan oleh negara adidaya yang berebut untuk mengeruk kekayaan alamnya melalui sebuah pintu bernama "investasi".

Dengan demikian, investasi adalah jalan mulus masuknya penjajahan (kolonialisme). Rakyat Sudan saat ini merasakan dampak penderitaan yang berkepanjangan akibat negara salah dalam mengelola SDA. Semua ini disebabkan karena penerapan sistem kapitalisme di seluruh dunia yang membuka lebar-lebar pintu liberalisasi SDA. Sifat asli dari sistem kapitalis yang rakus dan serakah akan selalu berujung pada kerugian dan kerusakan.

Kondisi negara dalam sistem kapitalis ini akan berbeda dengan penerapan sistem Islam (khilafah), yang mengatur bagaimana pengelolaan SDA secara benar dan teratur. Dalam sistem yang diturunkan oleh Allah Swt. ini, pengelolaan SDA berprinsip pada kemaslahatan umat. Untuk sektor tambang, pengelolaan dan pemanfaatannya harus memperhatikan AMDAL sehingga tidak merusak lingkungan. Kekayaan alam, seperti: barang tambang, minyak bumi, hutan, air, laut, jalan umum, sungai yang jumlahnya banyak dan dibutuhkan masyarakat, dikategorikan termasuk harta milik umum, sehingga pengelolaannya dilakukan dengan dua cara. 

Cara yang pertama yaitu pengelolaan dan pemanfaatannya secara langsung oleh masyarakat, misalnya: sungai, danau, jalan umum, laut, dan lainnya. Dalam hal ini negara melakukan pengawasan agar harta milik umum ini tidak menimbulkan mudharat bagi masyarakat dan lingkungan. Cara kedua yaitu SDA dikelola oleh negara, hal ini membutuhkan keahlian teknologi dan juga biaya yang besar. Contohnya seperti: barang tambang, gas alam, minyak bumi, dan lain-lain. Di sini negara akan mengeksplorasi dan mengelolanya sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Adapun hasilnya akan didistribusikan kepada rakyat. Negara tidak boleh menjual hasil tambang kepada asing, kecuali setelah rakyat terpenuhi kebutuhannya.

Negara Islam juga tidak boleh menyerahkan pengelolaan SDA ini kepada individu, swasta, ataupun asing. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu: air (laut, sungai, danau, dll), padang rumput (hutan), dan api (barang tambang, gas, minyak bumi, dll). (H.R. Abu Dawud)

Dalam sistem Islam, sektor pertambangan menjadi salah satu pemasukan ke Baitul Mal. Hasil tambang hanya dikhususkan untuk membiayai rakyat. Termasuk untuk membiayai fasilitas publik, sarana dan prasarana kesehatan, pendidikan, dll. Pengelolaan SDA yang berdasarkan syariat Islam akan dinikmati rakyat dengan mudah dan murah. Sebaliknya, hasil pengelolaan tambang yang dikelola oleh kapitalisme hanya akan dinikmati oleh korporasi (asing).

Dengan demikian, saat ini umat harus diarahkan untuk menaikkan level berpikirnya, sehingga mampu membaca seluruh problematika di dunia, melalui kacamata ideologi dan kepastian adanya perang peradaban antara Islam dan sekularisme. Umat muslim harus disadarkan bahwa hanya sistem Islam-lah yang mampu memberikan solusi dari berbagai krisis yang dialami umat manusia. "Islam rahmatan lil alamin" akan terwujud apabila terbentuknya kesadaran umat untuk berjuang bersama menegakkan sistem Islam yang diridai Allah Swt..

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam telah mampu memimpin dunia selama kurang lebih 1300 tahun lamanya. Sistem Islam melahirkan para pemimpin yang tidak hanya berorientasi kepada keuntungan duniawi, tetapi juga untuk keselamatan di akhirat nanti.

Saat ini umat Islam wajib bergerak untuk mewujudkan sistem terbaik di muka bumi yang berdasarkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam setiap aspek kehidupan. Sebab, negara-negara kafir Barat akan terus berupaya membuat umat Islam terjajah, terpecah belah, dan menderita, sebagimana yang terjadi di Sudan, Palestina, Afghanistan, Suriah, dan negeri muslim lainnya.

Kaum Barat tidak akan berhenti melancarkan propaganda busuk, agar umat Islam tetap lemah an terpuruk, sehingga mudah dijajah. Propaganda ini hanya dapat diatasi dengan persatuan umat di seluruh dunia di bawah naungan sistem Islam.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update