Oleh Sumiyah Umi Hanifah
Aktivis
Muslimah
Sudan,
merupakan sebuah negara dengan potensi besar dan kekuatan Sumber Daya Alam
(SDA) yang luar biasa. Tanah primadona yang kaya akan tambang emas ini selama
puluhan tahun terjebak dalam berbagai krisis. Di antaranya adalah konflik
berkepanjangan antara identitas Islam dan kelompok yang otentik dengan sistem
dominasi kekuasaan global. Belum sembuh luka lama, Sudan kini kembali berada di
bawah bayang-bayang genosida.
Dilansir
dari republika.id, Kamis (31/10/2025)
menyebutkan bahwa sedikitnya ada 1500 orang warga Sudan tewas akibat penguasaan
Pasukan Rapid Support Forces (RSF) atau Pasukan Dukungan Cepat, di El-Fasher.
Setelah pengepungan selama 18 bulan, yang diwarnai kelaparan dan pengeboman,
Kota El-Fasher yang merupakan benteng terakhir militer Sudan, di wilayah Darfur
bagian Barat, jatuh ke tangan paramiliter RSF, pada 26 oktober 2025 lalu.
Pemerintah
Sudan memberitakan bahwa pada hari Rabu, sejumlah 2000 orang telah terbunuh di
Kota Khartoum. Pasukan RSF dengan brutal melakukan pembantaian secara biadab
yang dilakukan di sepanjang rute pelarian. Paramiliter RSF juga melakukan
penggerebekan dari rumah ke rumah, penangkapan dan pemerkosaan massal terhadap
perempuan dan anak-anak perempuan. Bahkan, RSF dengan tanpa ampun membantai
warga sipil yang berada di masjid-masjid, termasuk menyerang dan menculik para
petugas medis.
Sebagaimana
diungkapkan oleh Mona Nour Al Daem, seorang relawan kemanusiaan untuk
pemerintah Sudan. Mona menyebutkan, ada kurang lebih 450 orang tewas di Rumah
Sakit Bersalin Arab Saudi. Jaringan (kelompok) Dokter di Sudan yang memantau
perang saudara tersebut menyebutkan, situasi yang ada saat itu seperti
"genosida yang nyata", dan merupakan bagian dari kampanye pembunuhan
dan pemusnahan yang disengaja dan sistematis. Kota El-Fasher membara, hal itu
tampak dari kerusakan infrastruktur yang parah, horor pemerkosaan massal, serta
pembantaian yang kekejamannya di luar nalar.
Data
PBB menyebutkan selama peperangan, sedikitnya ada 150 ribu orang tewas dan 14
juta orang mengungsi, serta ratusan ribu warga Sudan terjebak dalam
pengepungan. Sehingga banyak dari mereka yang sekarat karena kelaparan,
kekurangan gizi, penyakit, teror, dan berbagai tindak kekerasan lainnya.
cnbcindonesia.com, Rabu (5/10/2025)
Menurut
laporan "Pers Today", sebelum terpisahnya Sudan Selatan, negara ini
merupakan wilayah Arab-Islam terbesar di Benua Afrika dan salah satu dari
sepuluh negara terluas di dunia. Posisi Sudan sangat strategis, yaitu di tepi
Laut Merah, berbatasan dengan delapan negara penting di Afrika, seperti: Afrika
Tengah, Sudan Selatan, Chad, Mesir, Eritrea, Ethiopia, dan Libya, serta dialiri
oleh Sungai Nil, telah menjadikan Sudan menjadi salah satu kawasan paling
sensitif secara geopolitik di dunia.
Belum
lagi, Sudan merupakan satu dari beberapa negara penghasil emas terbesar di
dunia. Pada tahun 2024, negara ini mencapai rekor produksi emas dengan total
64,4 ton emas, sehingga menghasilkan pendapatan sekitar USD 1.6 miliar. Dikutip
dari Xinhua, Selasa (4/11/2025)
Potensi
eksotis inilah yang membuat Sudan dilirik oleh investor dari Teluk, yaitu Uni
Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Potensi ekonomi dan budaya yang besar, SDA
yang kaya, lahan pertanian subur, hingga banyaknya tenaga kerja muda, merupakan
daya tarik tersendiri bagi para investor. Negara-negara di Teluk ini mulai
melakukan investasi besar-besaran sejak tahun 1970-an.
Sejak
meraih kemerdekaan pada tahun 1956, Sudan telah mengalami lebih dari 20 kali
kudeta militer. Kini negeri ini kembali terjerumus dalam konflik antara
Angkatan Bersenjata Sudan yang dipimpin oleh Abdel Fattah dan Pasukan RSF yang
dipimpin oleh Mohamad Hamdan Dagalo. Yang mana Pasukan RFS disebut-sebut
mendapat sokongan dana dan senjata dari Uni Emirat Arab (UEA). Keserakahan
telah membutakan mata hati para pemimpin negeri-negeri Muslim di kawasan Timur
Tengah, sehingga mereka terlibat dalam perampasan SDA milik saudaranya, rakyat
Sudan.
Krisis
di Sudan sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, dan bukan murni konflik
etnis. Akan tetapi di dalamnya ada keterlibatan negara adidaya Amerika Serikat
(AS) dan Inggris yang melibatkan negara-negara bonekanya (zionis) dan UEA.
Dalam konflik yang terjadi di Sudan ini, terjadi perebutan pengaruh politik
proyek Timur Tengah Baru (AS) yang bertujuan untuk "merampok" SDA
yang melimpah ruah.
Sistem
kapitalis liberal yang diterapkan saat ini, telah memuluskan ambisi
negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat (As) dan China, untuk merampas
SDA di Sudan. AS sebagai pengusung ideologi kapitalis telah lama mendominasi perpolitikan,
perekonomian, dan menancapkan kuku kolonialisme-nya di berbagai negeri. Cara
yang ditempuh yaitu dengan mendirikan lembaga-lembaga internasional, yang
aturannya dibuat hanya untuk melanggengkan hegemoninya atas negeri-negeri
jajahannya.
Negeri-negeri
muslim di seluruh dunia yang memiliki SDA melimpah, semua hanya menjadi objek
permainan dan perebutan negara-negara adidaya. Sudan dengan SDA yang dimiliki
akan bisa hidup sejahtera, apabila potensi kekayaan alamnya tidak dieksploitasi
dan tidak dijarah oleh "pihak asing". Selama ini Sudan dijadikan
objek perebutan kekuasaan oleh negara adidaya yang berebut untuk mengeruk
kekayaan alamnya melalui sebuah pintu bernama "investasi".
Dengan
demikian, investasi adalah jalan mulus masuknya penjajahan (kolonialisme).
Rakyat Sudan saat ini merasakan dampak penderitaan yang berkepanjangan akibat
negara salah dalam mengelola SDA. Semua ini disebabkan karena penerapan sistem
kapitalisme di seluruh dunia yang membuka lebar-lebar pintu liberalisasi SDA.
Sifat asli dari sistem kapitalis yang rakus dan serakah akan selalu berujung
pada kerugian dan kerusakan.
Kondisi
negara dalam sistem kapitalis ini akan berbeda dengan penerapan sistem Islam
(khilafah), yang mengatur bagaimana pengelolaan SDA secara benar dan teratur.
Dalam sistem yang diturunkan oleh Allah Swt. ini, pengelolaan SDA berprinsip
pada kemaslahatan umat. Untuk sektor tambang, pengelolaan dan pemanfaatannya
harus memperhatikan AMDAL sehingga tidak merusak lingkungan. Kekayaan alam,
seperti: barang tambang, minyak bumi, hutan, air, laut, jalan umum, sungai yang
jumlahnya banyak dan dibutuhkan masyarakat, dikategorikan termasuk harta milik
umum, sehingga pengelolaannya dilakukan dengan dua cara.
Cara
yang pertama yaitu pengelolaan dan pemanfaatannya secara langsung oleh
masyarakat, misalnya: sungai, danau,
jalan umum, laut, dan lainnya. Dalam hal ini negara melakukan pengawasan agar
harta milik umum ini tidak menimbulkan mudharat bagi masyarakat dan lingkungan.
Cara kedua yaitu SDA dikelola oleh negara, hal ini membutuhkan keahlian
teknologi dan juga biaya yang besar. Contohnya seperti: barang tambang, gas
alam, minyak bumi, dan lain-lain. Di sini negara akan mengeksplorasi dan
mengelolanya sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Adapun hasilnya akan
didistribusikan kepada rakyat. Negara tidak boleh menjual hasil tambang kepada
asing, kecuali setelah rakyat terpenuhi kebutuhannya.
Negara
Islam juga tidak boleh menyerahkan pengelolaan SDA ini kepada individu, swasta,
ataupun asing. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Kaum Muslim berserikat
dalam tiga hal, yaitu: air (laut, sungai, danau, dll), padang rumput (hutan),
dan api (barang tambang, gas, minyak bumi, dll). (H.R. Abu Dawud)
Dalam
sistem Islam, sektor pertambangan menjadi salah satu pemasukan ke Baitul Mal.
Hasil tambang hanya dikhususkan untuk membiayai rakyat. Termasuk untuk
membiayai fasilitas publik, sarana dan prasarana kesehatan, pendidikan, dll.
Pengelolaan SDA yang berdasarkan syariat Islam akan dinikmati rakyat dengan
mudah dan murah. Sebaliknya, hasil pengelolaan tambang yang dikelola oleh
kapitalisme hanya akan dinikmati oleh korporasi (asing).
Dengan
demikian, saat ini umat harus diarahkan untuk menaikkan level berpikirnya,
sehingga mampu membaca seluruh problematika di dunia, melalui kacamata ideologi
dan kepastian adanya perang peradaban antara Islam dan sekularisme. Umat muslim
harus disadarkan bahwa hanya sistem Islam-lah yang mampu memberikan solusi dari
berbagai krisis yang dialami umat manusia. "Islam rahmatan lil
alamin" akan terwujud apabila terbentuknya kesadaran umat untuk berjuang
bersama menegakkan sistem Islam yang diridai Allah Swt..
Sejarah
mencatat bahwa peradaban Islam telah mampu memimpin dunia selama kurang lebih
1300 tahun lamanya. Sistem Islam melahirkan para pemimpin yang tidak hanya
berorientasi kepada keuntungan duniawi, tetapi juga untuk keselamatan di
akhirat nanti.
Saat
ini umat Islam wajib bergerak untuk mewujudkan sistem terbaik di muka bumi yang
berdasarkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam setiap aspek
kehidupan. Sebab, negara-negara kafir Barat akan terus berupaya membuat umat
Islam terjajah, terpecah belah, dan menderita, sebagimana yang terjadi di
Sudan, Palestina, Afghanistan, Suriah, dan negeri muslim lainnya.
Kaum
Barat tidak akan berhenti melancarkan propaganda busuk, agar umat Islam tetap
lemah an terpuruk, sehingga mudah dijajah. Propaganda ini hanya dapat diatasi
dengan persatuan umat di seluruh dunia di bawah naungan sistem Islam.
Wallahualam
bissawab.

No comments:
Post a Comment